Oleh: Salsabila El - Faruq
Mediaoposisi.com-Belum selesai polemik film 'Kucumbu Tubuh Indahku' yang diboikot oleh beberapa pemerintah kota. Kini muncul petisi untuk film 'Dua Garis Biru'. Film karya sutradara Ginatri S Noer ini  mengisahkan sepasang remaja yang melampaui batas dalam berpacaran sehingga berujung pada pernikahan usia dini.

"Beberapa scene di trailer menunjukkan proses pacaran sepasang remaja yang melampaui batas, terlebih ketika menunjukkan adegan berduaan di dalam kamar yang menjadi rutinitas mereka. Scene tersebut tentu tidak layak dipertontonkan pada generasi muda, penelitian ilmiah telah membuktikan bahwa tontonan dapat mempengaruhi manusia untuk meniru dari apa yang telah ditonton," isi di dalam petisi, dilihat detikhot, Rabu (1/5/2019).
Herannya, film ini dinilai positif oleh Deputi Bidang Keluarga Sejahtera dan Pemberdayaan Keluarga BKKBN M Yani di Jakarta, dengan mengatakan film Dua Garis Biru dapat membantu BKKBN dalam menjangkau remaja Indonesia lebih luas dengan program Generasi Berencana (genre).

Kemudian diikuti oleh Deputi Bidang Keluarga Berencana dan Kesehatan Reproduksi BKKBN Dwi Listyawardani mengatakan bahwa film tersebut bisa menjadi edukasi kesehatan reproduksi kepada remaja yang menontonnya. Bahkan Dwi pun mengatakan BKKBN akan membawa film Dua Garis Biru sebagai sosialisasi program agar bisa ditonton oleh remaja di seluruh provinsi.

Menurut penulis, tanggapan diatas bukanlah yang tepat. Khususnya anggapan ini adalah solusi untuk mengedukasi remaja Indonesia mengenai kesehatan reproduksi. Pasalnya adegan-adegan yang ditampilkan pada film ini justru dominan memberikan pesan dan efek negatif bagi penontonnya, terutama kalangan remaja .

Dunia remaja yang identik dengan aksi meniru dan ingin coba-coba akan berpeluang besar untuk terprovokasi oleh film tersebut. Jika tidak menggunakan pemikiran yang benar, maka mereka akan salah tangkap dalam mengindera film tersebut. Akhirnya akan merusak remaja akibat meniru perbuatan dalam film tersebut.

Penggambaran perbuatan yang menyimpang dalam film tersebut sangat tidak tepat jika dijadikan sebagai alat untuk menyampaikan pesan mengenai kesehatan reproduksi bagi remaja .Usia remaja yang seharusnya dihiasi oleh kegiatan belajar dengan baik, akan justru ditanggapi oleh remaja sendiri menjadi usia yang sibuk memikirkan dunia percintaan bahkan menyalurkan naluri pada cara yang salah.
Indonesia sebagai negara penduduk muslim terbanyak , maka ini akan berpengaruh besar terhadap generasi kaum muslim selanjutnya. Usia remaja yang seharusnya mendapatkan tontonan yang mendukung dalam proses pengembangan dirinya, justru disuguhkan film-film yang justru menjerumuskan.

Jika kita ingin lebih teliti, maka kita akan temukan bahwa ini merupakan alat bagi para kaum pembenci Islam dalam merusak umat Islam terutama generasi mudanya, untuk melakukan penyimpangan dan tergiur dengan kesenangan yang mereka suguhkan
Sistem sekulerisme hari ini yang sedang diterapkan memang akan menyalah arahkan kaum muslim dari petunjuk agamanya sendiri. Akibat hak kebebasan yang dilanggengkan dalam negeri ini. Media tidak lagi berfungsi sebagaimana mestinya.

Media penyiaran,termasuk film , memiliki peran yang sangat besar dalam mempengaruhi perilaku serta gaya hidup manusia. Pasalnya,ia telah menjadi intermediasi antara produsen film kepada konsumen.

Ketika informasi yang ditayangkan berisi adegan positif, maka kemungkinan besar akan memberikan efek positif pula, namun ketika memberikan adegan-adegan negatif, maka kemungkinan besar akan membawa pengaruh yang negatif pula,terlebih apabila penonton tersebut hanya mengonsumsi tanpa melakukan filtrasi.
Maraknya tayangan-tayangan yang tidak mengedukasi seperti ini membuktikan bahwa negeri ini memberikan kebebasan berekspresi yang berlebihan terhadap dunia perfilman. Seperti tak diberikan syarat dan ketentuan yang sekiranya akan merusak pemikiran-pemikiran bagi penerima nya.

Kehilangan tolak ukur dan standar penciptaan film  yang seharusnya untuk menyampaikan kebenaran serta mencerdaskan manusia melalui informasi penting dan bernilai yang ditayangkan.

Lagi-lagi ini adalah bukti bahwa Rezim saat ini  tidak berdaya mengendalikan arus liberalisasi yang menghancurkan generasi melalui film

Berbagai polemic yang terjadi di negeri ini, kembali menyadarkan kita untuk kembali kepada penerapan tata kelola Islam yang mencakup segala aspek termasuk pengaturan terhadap informasi yang akan disampaikan kepada masyarakat.

Kita harus berangkat dari tujuan . Pembuatan film seharusnya bertujuan untuk memberikan edukasi , menguatkan pemahaman terhadap kehidupan sehingga bertambahnya keimanan setiap individu, masyarakat , terlebih negara sebagai elemen pertama. 

Begitulah yang diberlakukan oleh sistem Islam. Bahwa film dalam sistem Islam adalah dalam rangka menyampaikan kebenaran serta edukasi kebaikan bagi rakyat.

Dan negara punya peran utama dalam mengendalikan produksi film sehingga para produsen film akan diamati oleh negara mengenai hal-hal yang halal atau haram untuk disampaikan kepada masyarakat . Segala unsur-unsur yang mengandung kemudhorotan,akan diganti dengan kebaikan.

Sistem islam yang berlandaskan hukum Islam akan sangat jeli dengan hal-hal yang terdapat dalam film tersebut. Mulai dari kontennya, aktornya hingga teknis pelaksanaannya, semua akan distandarkan pada syariat Islam sehingga akan jauh dari unsur-unsur yang memperlihatkan keharaman, semisal membuka aurat, berkata yang tidak baik, termasuk adegan-adegannya.

Dengan ini, informasi yang tersebar dalam pemikiran masyarakat akan terkendali dan bernilai positif yang dengannya akan membawa efek positif pula terhadap pola pikir dan pola sikap masyarakat. Inilah yang akan membantu negara dalam upaya mencerdaskan masyarakat melalui dunia informasi yang dekat dengan masyarakat itu sendiri.

Dengan adanya pembatasan terhadap hal-hal yang merusak,maka informasi yang diterima akan lebih bernilai serta bermanfaat bagi kehidupan manusia itu sendiri.[MO/sg]



Posting Komentar