oleh: Halimah   

Mediaoposisi.com-Akhir-akhir ini kita dikejutkan dengan pembebasan seorang guru JIS (Jakarta International School) terkait pelecehan seksual dibawah umur atau kita sebut dengan phedofilia yaitu Nail Bentlleman pada tanggal 21 Juni 2019.
Seperti yang dilansir kompas.com pada tanggal 21 Juli 2019 yang menyatakan bahwa terpidana kasus pelecehan seksual yang juga mantan guru JIS Neil bantleman telah bebas. Neil ditahan di lembaga pemasyarakatan 1 Cipinang Jakarta Timur. Neil dibebaskan karena mendapat grasi Presiden Joko Widodo berdasarkan Keputusan Presiden Nomor 13/ G tahun 2019 tanggal 19 Juni 2019. Keputusan Presiden tersebut memutuskan berupa pengurangan Pidana dari 11 tahun menjadi 5 tahun 1 bulan dan denda pidana senilai 100 juta rupiah.
Grasi Presiden Joko Widodo dinilai mencederai gerakan hentikan kejahatan seksual terhadap anak yang selalu dikampanyekan oleh Komisi Nasional Perlindungan Anak (Komnas PA).
"Apa yang dilakukan oleh presiden dengan memberi grasi terhadap guru itu mencederai dan melemahkan gerakan nasional pemutus mata rantai kejahatan seksual terhadap anak." Ujar Aris Merdeka Sirait saat dihubungi kompas.com Minggu 14 Juli 2019.
Kasus pelecehan seksual terhadap murid Jakarta International School ini berawal dari laporan orang tua murid FLW pada tanggal 15 April 2015. Trauma yang diderita korban dan keluarganya belum juga usai, mungkin bisa trauma yang mendalam bahkan sepanjang hidupnya korban harus terus didampingi ahli untuk menghilangkan trauma itu.
Kasus pedofilia makin marak karena tidak ada hukum yang tegas pada pelakunya, pedofilia faktanya merupakan penyakit menular yang diciptakan oleh lingkungan yang jauh dari aturan Allah yang membahayakan moral dan kualitas generasi masa depan bangsa.
Grasi yang diberikan, memberikan gambaran buruk pada penerapan hukum di negara ini, mengapa harus diberikan pada penjahat kelamin yang termasuk pada kejahatan yang luar biasa dan bisa membahayakan generasi bangsa ini? Tentunya selama aturan manusia (sekularisme) ini masih diterapkan, manusia diberikan kebebasan untuk melakukan apapun semau mereka.
Seharusnya yang dilakukan oleh kita adalah dengan menerapkan aturan Allah Subhanahu Wa Ta'ala bukan mengikuti hukum buatan manusia, pemimpin dalam Islam bertugas layaknya perisai memberi perlindungan, kenyamanan ,keadilan, keamanan, kesejahteraan pada rakyatnya dengan aturan Islam.
Dengan demikian pemimpin Islam akan memastikan rakyatnya akan dilindungi dalam segala hal termasuk perilaku Phedofilia, dengan memberikan hukuman yang setimpal seperti:
1. Melakukan zina maka hukumannya dengan hukuman pezina.
2. Pelaku sodomi maka hukumannya yang diberikan yaitu hukuman mati.
3. Pelecehan seksual yang tidak sampai zina atau homoseksual maka hukumannya ta'zir yang ditentukan oleh pemimpin Islam.
Inilah solusi yang diberikan oleh sistem Islam. Sehingga dalam sebuah Daulah Islam hukum yang diberikan bersifat sebagai Jawabir (penebus siksa akhirat) & Jawazir (pencegah terjadinya tindak kriminal yang baru terulang kembali). 
Adapun dalam lingkungan keluarga dan masyarakat pemimpin Islam harus memastikan bahwa lingkungan senantiasa ada di dalam ketaatan pada Allah dan menjalankan syariat Islam secara Kaffah.
Wallahu A'lam Bishawab[MO/sg]

Posting Komentar