Oleh : Irianti Aminatun 
(Member AMK)

Mediaoposisi.com-Penderitaan rakyat akibat buruknya riayah penguasa dan penerapan sistem kapitalis sekuler telah memunculkan kesadaran politik umat Islam bahwa hanya dengan penerapan Islam kaffah sajalah penderitaan ini akan berakhir.

Kesadaran itu tampak saat perhelatan akbar pileg dan pilpres 2019 yang baru beberapa waktu digelar. Mereka menjadikan Islam sebagai standar dalam memilih pemimpin dan parpol peserta pemilu.

Mereka menolak paslon yang mendukung penista agama, menghalangi dakwah, memusuhi syariah dan khilafah serta mengkriminalisasi ulama. Sikap yang sama juga ditujukan pada parpol-parpol pendukungnya. Ini menunjukkan adanya peningkatan kesadaran politik umat.

Kesadaran itu pula yang membuat pemilu 2019 terasa ideologis. Umat ingin menjadikan Islam sebagai dasar untuk mengatur urusan politik, mengatur urusan-urusan publik seperti pemerintahan, ekonomi, pendidikan, kesehatan, keamanan dan lain-lain. Dengan itu rahmat akan tersebar di dunia.

 Keinginan itu tentu suatu hal yang sangat masuk akal, sebab Islam berasal dari Allah Yang Mahabenar dan Mahaadil. Tak mungkin ada dalam ajaran Islam yang salah dan buruk, apalagi membahayakan bagi manusia, siapapun mereka baik muslim maupun nonmuslim ketika syariat itu diterapkan.

Namun hendaknya umat juga melakukan evaluasi, benarkah perjuangan melalui sistem demokrasi akan menghantarkan pada perubahan dan penerapan Islam kaffah?

Secara teori demokrasi memang memberikan jalan lapang bagi siapapun untuk meraih cita-cita politiknya. Namun kenyataannya, itu hanya berlaku sepanjang cita-cita itu masih selaras dengan nilai-nilai Barat. Ketika cita-cita itu bertentangan dengan kepentingan Barat, misalnya dengan menerapkan syariah Islam secara kaffah, demokrasi menutup diri, bahkan bertindak brutal untuk menghentikan cita-cita itu.

Contoh yang paling anyar adalah penghargaan  dari Dewan Kota Oxford, Inggris yang diberikan pada Benny Wenda pemimpin United Liberation Movement for West Papua (ULMWP). Padahal gerakan yang dimotori Wenda adalah gerakan separatisme yang ingin memerdekakan Papua Barat dari Indonesia. Pihak yang jelas-jelas hendak memisahkan diri dari negara malah mendapat penghargaan tanpa ada seorangpun yang mengatakan bahwa hal ini mengancam NKRI.

Kenapa separatisme itu dibiarkan? Karena visi politiknya sesuai dengan visi-misi Barat, maka didukung dan difasilitasi atas nama hak asasi manusia. Bandingkan dengan gerakan umat pengusung ideologi Islam yang mengkampanyekan bahayanya penjajahan kapitalisme. Mereka selalu menyerukan persatuan hakiki dibawah naungan Islam. Mereka tak pernah melakukan  aksi separatisme. Bersenjata pun tidak. Alih-alih sampai tindakan makar.

Mereka hanya berjuang di ranah pemikiran. Berupaya mencerdaskan umat akan pentingnya Khilafah. Yang dengan Khilafah itu, maka institusi politik bangsa justru kokoh terjaga. Tidak akan ada campur tangan asing yang menyengkarut kehidupan berbangsa dan bernegara.

Ironisnya yang memperjuangkan khilafah melalui pemikiran ini malah dibabat habis bak musuh berbahaya, tanpa diberi ruang untuk menjelaskan idenya. Ini bukti ada pihak-pihak yang merasa terganggu kepentingannya. Mereka tidak lain adalah para pengusung ideologi kapitalis dan para anteknya yang tidak ingin kepentingan penjajahan mereka terganggu.

Maka tak heran, jika dalam Pemilu kemarin, paslon 02 yang sangat didukung oleh berbagai komponen umat dan ulama, mati-matian dihambat karena dipersepsikan akan memberi jalan bagi apa yang mereka sebut dengan berkembangnya radikalisme. Padahal paslon 02 tak pernah secara formal mengatakan hendak berjuang menerapkan syariah Islam kaffah.

Setiap sistem pasti memiliki mekanisme untuk mempertahankan dan mengokohkan sistemnya. Tak terkecuali sistem demokrasi. Mekanisme pertahanan dan pengokohan sistem demokrasi dibingkai dalam aturan main yang dianggap sakral dan fundamental, sehingga tidak boleh diubah atau diganti oleh siapapun. Mereka sering menyebut dengan “harga mati”.

Siapapun yang terlibat dalam sistem demokrasi, tidak boleh menyentuh apalagi mengubah perkara yang dianggap sebagai harga mati.

Demokrasi juga memiliki mekanisme agar sistemnya berjalan dengan baik dan berkelanjutan. Untuk itu dibuatlah even sirkulasi elit dilingkaran kekuasaan yang dilakukan secara berkala. Even sirkulasi elit ini dikemas dengan nama Pemilu. Di Indonesia even Pemilu/Pilpres hanyalah mekanisme untuk mengganti elit, mulai dari anggota dewan, kepala daerah hingga presiden.

Karena itu sistem demokrasi memang sangat memungkinkan dijadikan jalan untuk menempatkan para aktifis dan tokoh Muslim menjadi pejabat di berbagai level. Namun sistem demokrasi tidak memberikan ruang sedikitpun bagi penerapan syariah islam secara total atau perubahan yang sifatnya fundamental.

Umat Islam seharusnya menjadikan Rasulullah  saw sebagai tauladan saat berjuang melakukan perubahan. Jika kita menelaah arah perjuangan Rasulullah saw, kita akan melihat beberapa hal penting, yang bisa menjadi refleksi arah perjuangan kita saat ini.

Pertama, Rasulullah saw melakukan dakwah secara berjamaah. Ketika Rasulullah melihat kondisi masyarakat jahiliyah yang rusak, aktivitas utama yang beliau lakukan adalah dakwah. Aktivitas dakwah inilah yang mewarnai kehidupan Rasulullah saw. Mulai dakwah kepada keluarga, orang-orang terdekat, dan lingkungan sekitarnya. Aktivitas dakwah yang dilakukan oleh Rasulullah adalah aktivitas yang terorganisir secara rapi. Rasulullah bukan hanya mengajak mereka memeluk agama Islam, mengajarkan mereka al-Quran tetapi juga menghimpun mereka dalam satu kelompok dakwah yang dipimpin langsung oleh Rasulullah saw.

Demikianlah seharusnya aktivitas dakwah. Dakwah yang memiliki target-target besar, seperti halnya mewujudkan masyarakat Islam, menerapkan Islam secara kaffah, tidak bisa dilakukan sendirian, melainkan harus berjamaah agar dapat dilaksankan dengan baik dan berkesinambungan.

Kedua, Dakwah Rasulullah saw tidak mengenal kompromi. Rasululllah berdakwah dengan ajakan yang lugas, tidak bermanis muka di hadapan pimpinan Quraisy. Hal tersebut dilakukan agar tidak bercampur yang haq dengan yang batil, yang benar dengan yang salah. Dengan itu benar-benar dapat dibedakan mana ajaran Islam dan mana tradisi jahiliyah yang rusak dan merusak.

Demikian seharusnya pengemban dakwah. Mereka harus tegak berdiri di atas metode dakwah yang lurus, menyampaikan kebenaran tanpa takut dengan berbagai tekanan, tidak tergoda oleh tawaran-tawaran yang justru mengalihkan dan melalaikan dari fokus perjuangan.

Ketiga, Orientasi perubahan yang dilakukan oleh Rasulullah  saw adalah perubahan rezim dan perubahan sistem. Rasululllah berdakwah bukan sekedar mengajak orang kafir untuk memeluk Islam, melainkan untuk mewujudkan masyarakat islam, yakni dengan mengganti sistem jahiliyah dengan sistem Islam.

Upaya Rasul mendatangi berbagai kabilah yang memiliki kekuatan militer bukan sekedar mengajak mereka menerima Islam, tetapi meminta mereka menjadi penolong dakwah dan agar menjadikan wilayahnya menjadi Darul Islam.

Ketika pimpinan dan tokoh Suku Aus dan Khazraj di Madinah memeluk agama Islam, Rasulullah saw dan para sahabat hijrah ke Madinah dan menjadikan daerah tersebut sebagai Darul islam, yaitu wilayah yang diterapkan hukum-hukum Islam dan keamanannya dikontrol penuh oleh umat islam. Sesaat setelah hijrah, beliau sendiri yang menjadi kepala negara di Madinah. Beliau mengganti sistem dan tatanan kufur dengan sistem Islam.

Menjadi jelas bagi kita bahwa orientasi dakwah Rasulullah saw bukan sekedar mengajak orang untuk masuk Islam, mewujudkan individu yang bertaqwa, tetapi juga membangun masyarakat Islam, yaitu masyarakat yang diterapkan hukum-hukum Islam, meski penduduknya tidak semuanya Muslim.

Sudah saatnya umat, gerakan dan partai politik  mengevaluasi orientasi dan arah perjuangannya. Dakwah yang seharusnya dilakukan oleh umat saat ini mestinya bukan lagi untuk menempatkan tokoh-tokoh Islam menjadi anggota dewan, Kepala Daerah ataupun Presiden dalam sistem demokrasi.

Umat, gerakan dan partai politik seharusnya fokus mendakwahkan syariah Islam secara kaffah agar dapat diterima oleh berbagai kalangan sehingga mereka mendukung penerapan syariah Islam secara kaffah dalam sistem Khilafah.

Jika semua elemen umat ikhlas dan fokus memperjuangkan tegaknya syariah dan khilafah, Insyaa Allah pertolongan Allah akan hadir lebih cepat, dan dunia menjadi aman sentosa dan pernuh berkah. Wallahu a’lam bishowab. [Mo/vp]

Posting Komentar