Oleh : Rizkya Amaroddini

Mediaoposisi.com- Pemilu menggiring terjadinya perubahan ekonomi  yang cukup signifikan. Banyak yang terhebohkan dengan  politik sehingga melupakan perkembangan ekonomi Indonesia seperti apa. Memang kebijakan politik akan menghantarkan perubahan besar dalam seluruh aspek termasuk di dalam ekonomi.

Masyarakat Indonesia sangat mudah untuk di alihkan isu, sekalipun dalam perpolitikan ada tujuan besar yang ingin di raih. Banyak yang mengira ekonomi masih stabil,dll. Yang hakikatnya mereka tidak tau fakta yang ada seperti apa.

Terancamnya  ekonomi Indonesia terdeteksi oleh beberapa pakar . Perdagangan AS-China mengakibatkan banyak hal terkhusus bagi perekonomian Indonesia. Berakhirnya perang dagang antara AS-China di prediksikan akan terjadi perang dunia ke 3.

Anggaran  APBN akhir tahun 2019 mengalami defisit mencapai Rp 310,81 Triliun atau 1,93% dari PDB. Tidak hanya itu, ketergantungan terhadap barang-barang luar Negeri menjadi penyakit yang melekat di Indonesia.

Banyak perusahaan lokal yang di collapse kan, justru menggantungkan bahan-bahan baku dari China yang hakikatnya bahan-bahan itu ada di bumi pertiwi. Siapakah yang bertanggung jawab atas semua ini ?

Pengangguran yang akan di gaji mulai di realisasikan. Pertanyaannya, Dari mana uang yang akan menggaji mereka? Akankah pajak mengalami kenaikan dan hutang luar Negeri semakin bertambah ?
Memiliki hutang di suatu Negara bukan menjadi sebuah kebanggaan, tapi justru itu menjadi malapetaka kehancuran sebuah Negara. Butuh berapa banyak bukti lagi yang akan menggiring masyarakat percaya ? Kenyataannya di beberapa Negara sudah tergerus oleh penjajahan gaya baru ini.

Ingatlah pemangsa bisa menjadi kawan sekaligus musuh dalam selimut. Atau “Mereka” yang mengetahui hal ini cukup diam dan melayani pemangsa dalam menjajah. Kenapa saya katakan demikian, jangan hanya berkutat memberi solusi yang parsial saja tapi bagaimana menuntaskan persoalan ini dari akar.

Karena faktanya banyak pakar ekonomi yang sadar dengan kehancuran ini tapi mereka hanya berkutat pada solusi parsial. Jika kita mencintai Negeri ini seharusnya bisa memberikan solusi yang fundamental.

Keadaan yang genting justru menjadikan kalian terlena dengan kesibukan masing-masing. Wahai penguasa, kemanakah tanggung jawab itu ?
Mengapa kalian memberi kebijakan yang justru menyengsarakan rakyat ? Pengangguran yang di gaji, menambah hutang Negara, dan bangga dengan semua itu.

Bukankah setiap kebijakan seharusnya menjadikan rakyat sejahtera tapi kenapa justru berbagai kebijakan di Negeri ini membodohi rakyat. Wahai rakyat, akankah kalian tetap menjadi penonton yang bergelar pecundang atau kalian ikut memperjuangkan keadilan yakni sebagai pejuang.

Pilihan itu ada di tanganmu, tapi apa yang kamu pilih saat ini akan engkau tuai di kemudian hari. Fakta sudah berbicara banyak, ironis sekali jika kalian justru belum sadar dan bangkit. Penguasa itu berdiri karena kepercayaan rakyat, namun apakah kalian sadar jika kalian telah di khianati.

Coba lihat dan amati, siapa saja yang menduduki kursi  kekuasaan. “Mereka” bukan semata-mata mengurusi Negara. Namun memperlancar kepentingan hidup mereka dengan memberi kebijakan-kebijjakan yang menjual aset-aset Negara. Termasuk membuka pintu yang lebar untuk pembodohan rakyat.

Perubahan itu akan terjadi, sesuai janji Allah kebangkitan akan datang. Kehancuran demokrasi sudah di depan mata, maka rapatkan barisan dalam perjuangan ini. Bersatulah dalam ikatan aqidah, bukan ikatan nasionalisme yang hakikatnya semu.

Karena cara musuh-musuh Allah menghancurkan Islam adalah dengan membuat umat manusia terpecah belah. Kepentingan ini bukan semata-mata untuk umat Islam tetapi untuk umat manusia.
Selama kamu hidup dalam sistem buatan manusia, selama itu pula kamu akan mengalami penderitaan. Namun jika kamu hidup dalam sistem dari penciptamu maka akan mengalir kebahagiaan dunia akhirat.

Cukupkah kamu saja yang mengetahui detik-detik kehancuran Demokrasi ataukah kamu ikut menyadarkan dan membangunkan saudara-saudara kita yang lain. Semua ini menjadi pilihanmu, mau menjadi pecundang atau pejuang !!

Ku tunggu dalam barisan para pejuang saudaraku. [MO/ra]

Posting Komentar