Oleh Wulandari Muhajir

Mediaoposisi.com-Julukan ‘zamrud khatulistiwa’ disematkan kepada negeri Indonesia, karena letak geografisnya yang dilewati oleh garis khatulistiwa dengan penampakannya yang hijau seperti zamrud. 

Namun pesona Indonesia demikian mulai pudar dan tercoreng. Bagaimana tidak, negerinya boleh distereotip sebagai negeti hijau, tapi pada faktanya moral dari penduduknya justru malah tandus, kering kerontang, dan hampir-hampir mati suri, terutama moral remaja yang menjadi krusial bagi masa depan bangsa.

Belum lama ini jagad sosmed Indonesia dihebohkan dengan beredarnya video mesum sepasang siswa-siswi SMK di Bulukumba provinsi Sulawesi Selatan. Video mesum ini langsung menjadi viral dikalangan warga net, video tersebar dengan mudah keberbagai penjuru. Diterima dan ditonton ratusan ribu dan bisa saja jutaan pasang mata, dari berbagai kalangan dan usia.

Wakil Bupati Bulukumba Tomy Satria megatakan video direkam pada bulan April 2019. Video tersebut diduga direkam dilingkungan sekolah, dan kedua pelaku yang merupakan pasangan kekasih terlihat menggunakan seragam putih abu-abu saat pengambilan video asusila tersebut. Kedua pelaku sudah mendapat skorsking dari pihak sekolah. 

Kapolres Bulukumba, AKBP Syamsu Ridwan menjelaskan, kasus video asusila itu kini tengah dalam penanganan. Pihaknya tengah menyelidiki dan sementara ini sudah menghubungi pihak sekolah asal dari kedua pasangan siswa tersebut.

Kasus asusila/pornografi para pelajar seolah menjadi kasus yang berentetan. Hampir setiap tahun atau bahkan setiap bulan kasus asusila/pornografi semacam itu bertengger diberbagai pemberitaan publik. 

Wajah pendidikan Indonesia menjadi tercoreng dengan berbagai tindakan tak terpuji dari perserta didik. Pengertian pendidikan yang harusnya menjadi proses mengubah sikap dan perilaku seseorang atau sekelompok orang dalam usaha mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran dan pelatihan.

Namun pengertian pendidikan tersebut menjadi kabur  jika melihat wajah pendidikan Indonesia saat ini. Upaya untuk mengembalikan martabat pendidikan dalam negeri terus dilakukan. Misalnya saja usaha pemerintah yang terus melakukan evaluasi terhadap kurikulum dan pengembangan berbagai metode ataupun strategi pembelajaran. 

Penanaman karakter yang dituangkan dalam kurikulum 2013 menjadi konsep dasar pemerintah saat ini untuk mengembalikan nama baik pendidikan Indonesia. Namun pada faktanya tetap saja konsep tersebut lemah dari berbagai segi.

Bahwa kekabutan wajah pendidikan Indonesia karena berada dalam sistem yang salah, yaitu sistem sekuler-kapitalis yang melahirkan kehidupan yang liberal (serba boleh).  Kehidupan liberal  adalah tempat tumbuh dan berkembangkanya kaum kapital yang menjadi predator intelektual. 

Monster tersebut memangsa para pelajar sebagai energi untuk menjadi lebih besar dan lebih kuat. Sistem yang berasaskan pada keuntungan semata, siapapun dijadikan tumbal untuk memperbanyak profit. 

Sistem sekuler kapital tersebut menawarkan sistem kehidupan yang yang tak berbatas seperti tidak adanya batas antara laki-laki dan perempuan, beredar bebasnya konten yang mengadung pornoaksi ataupun pornografi, pergaulan bebas, yang tentunya bermuara pada rusaknya aqidah, akhlak para pelajar.

Predator liberal tersebut tak jarang menggunakan ‘seni dan budaya’ unttuk melanggengkan perzinaan dinegeri pertiwi ini. Lagi-lagi karena sistem sekuler-kapital yang menaunginya mendewakan kebebasan berekspresi. Sistem sekuler kapital tidak memiliki aturan yang bisa mencegah ataupun aturan yang tegas bagi pelaku zina. 

Dan mirisnya negara justru menfasilitasi perzinaan, misalnya perayaan hari valentine, atau lulus sensornya berbagai film dan sinetron yang adegannya tak senonoh.

Maka para pelajar melakukan perzinaan akibat para pelajar dipaksa matang dari segi balig (biologis) namun akilnya (akal) belum sempurna, jadi ketika syahwatnya memuncak akalnya tidak mampu untuk menetralisir. Biang keladinya dari tontonan maupun dari sistem pergaulan yang serba bebas tadi. Mirisnya kasus perzinaan yang menjerat pelajar bermuaranya pada KPAI. 

KPAI selalu menjadi pelindung bagi pelajar yang tertangkap basah melakukan tindakan asusila. Memang suatu dilema, dari satu sisi perilaku bejat itu harus ditumpas tuntas dengan memberikan sanksi yang berat bagi pelaku. 

Namun disisi lain pelaku masih dibawah umur dan masih berseragam. Akhirnya undang-undang sebagai hukum buatan manusia tidak berkutik, jalan keluarnya dengan melakukan negosiasi.

Pada akhirnya kasus perzinaan meroket dari tahun-ketahun. Berdasarkan data yang dihimpun KPAI, kasus pornografi yang menjerat anak terus meningkat sejak 2012 lalu. Pada 2012, jumlah kasus pornografi dan kejahatan siber yang melibatan anak terrcatat 175 kasus. 

Jumlah ini menigkat menjadi 247 kasus pengaduan pada 2013 dan menjadi 322 kasus pada 2014. Pada tahun 2015 jumlah kasus pada angka 463, dan pada tahun 2016 meningkat lagi menjadi 587 kasus.

Maka dari itu untuk memutus mata rantai dari kasus asusila tersebut bukanlah dengan solusi parsial. Karena memang selama ini penanganan dalam kasus tersebut hanya dilimpahkan kepada keluarga dan sekolah yang diambil alih secara penuh oleh peran orang tua dan guru. Padahal negara juga harus memiliki peran. 

Salah peran negara yang hakiki dalam menangani kasus asulila tersebut adalah negara harus cuci tangan dari sistem yang menjadi sumber dan tempat tumbuh kembangnya perzinaan, yaitu sistem sekuler-kapital. 

Dan menggantinya dengan sistem islam yang menerapkan aturan islam dalam segala lini kehidupan. Menjadikan islam sebagai ideology yang akan melahirkan aturan-aturan yang seuai dengan fitrah manusia, menentramkan hati, dan memuaskan akal.

Cara islam memutus  kasus perzinaan diantaranya, mewajibkan bagi setiap wanita dan laki-laki  untuk menutup aurat dan menjaga pandangan. Perintah ini tercantum dalam firman Allah Azza wa Jalla:

“Katakanlah kepada laki-laki yang beriman, agar mereka menjaga pandangannya dan memelihara kemaluannya….” (QS. An Nur: 30).

“Dan Katakanlah pada perempuan yang beriman, agar mereka menjada pandangannya dan memelihara kemaluannya, dan janganlah menampakkan perhiasannya (aurat), kecuali yang biasa terlihat. Dan hendaklah mereka menutupkan kerurung ke dadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya, kwcuali yang biasa nampak….”(QS. An Nur: 31).

Dalam islam juga melarang mendekati sesuatu yang bisa mengarah pada perzinaan, seperti berkhalwat atau berdua-duan dengan lawan jenis. Ikhtilat (campur baur laki-laki dan perempuan). Ketika perempuan bepergian didampingi oleh mahromnya.

“Dan janganlah kamu mendekati zina, sesungguhnya zina itu suatu perbuatan keji, dan suatu jalan yang buruk” (QS. AL Isra’:32).

Islam juga memberikan hukuman tegas sebagai efek jera. Hukuman bagi pelaku zina adalah rajam dan cambuk. Jadi tentunya setiap orang akan berpikir berulangkali sebelum melakukan zina. Jangan kan melakukan zina, melakukan perkara yang mendekati zina pun seseorang akan lebih hati-hati.

Penerapan hukum islam demikian bukanlah pemakasaan atau pun untuk mengekang. Hukum islam diterapkan untuk kemaslahatan dan memuliakan manusia, menjaga nasab, keturunan menjadi lebih jelas asal muasalnya. 

Dan juga penerapan hukum islam tersebut untuk menghapuskan dosa bagi pelakunya. Seperti kasus perzinaan dizamannya Rasulullah, yang mana seorang perempuan yang pernah berzina lalu dijatuhi hukum rajam akhirnya mati dan ditempatkan dalam surga.

Namun penerapan islam sebagi pengaturan kehidupan tidak akan terwujud kecuali dinaungi oleh suatu instansi negara yaitu Khilafah islamiyah. Imam syafi’I mengatakan negara adalah penjaga dan agama adalah pondasi, jika sesuatu tidak memiliki pondasi maka ia akan roboh, dan jika Sesuatu yang tidak memiliki penjaga maka ia akan hilang.[MO/vp]

Posting Komentar