Oleh: Betha Vanglos

Mediaoposisi.com-Kasus keterlibatan tiga purnawirawan dalam kericuan 21-22 mei yang dilontarkan Polda Merto Jaya AKBP Ade Ary oleh telah membuka tabir adanya adu kekuatan di dalam dua Insitusi negara

Meski belum mau menyerah, kubu Prabowo sendiri ini menganggap sebagai akal-akalan saja, pasalnya kekuatan bukti yang sampaikan oleh Pak Tito banyak keganjalan

"Polri telah melakukan penangkapan terhadap sejumlah orang, berikut dengan senjata api dengan tujuan pembunuhan tanggal 22 mei" Tegas  Jendral Tito Karnavian

Setelah itu ditunjukkan barang bukti berupa senjata laras panjang dan dua buah pucuk senjata jenis pistol. Namun disinilah sebuah keganjalan dipertontonkan oleh Polri

Seperti tak punya ketakutan, Pak Tito menyentuh barang bukti tanpa menggunakan pelindung jari sehingga bersentuhan langsung dengan barang bukti. Padahal hal tidak boleh dilakukan dalam proses penyelidikan

"Masalah ini terkuak di tengah-tengah kerusuhan 22 Mei, tidak ada hubungannya antara temuan fakta ada uang, senjata dan rencana pembunuhan adalah dua hal yang terpisah" Bantahal Haris Azhar setelah polri konferensi pers

Kembali soal polri, kesaksian yang ditampilkan diruang publik telah membuat freaming buruk terhadap isnsitusi TNI.

Pasalnya video yang tampilkan diperlihatkan padahal belum dalam proses pengadilan sehingga kuasa hukum tak dapat membantah kebenaran hal tersebut.

Haris menambahkan “Disinilah pentingya, dibocorkan atau bagian dari perintah penyidikan untuk dibuka di publik? Karena misalkan tidak beredar maka kuasa hukum punya kesempatan untuk membantah diruang persidangan”

Kalau misalkan keluar video tersebut adalah Menkopolhukam maka tak dapat diuji didalam pembelaan hukum pra-pradilan untuk mempermasalahkan video tersebut engga bisa memintah pertanggung jawaban Menkopolhukam karena tidak tidak bisa dibuktikan dalam KHUP

Rangkaian peristiwa belakangan ini, tidak terlepas dari intrik yang terjadi di sekitar pembantu Presiden. Jika diperhatikan, intrik itu sebenarnya sudah mencuat sejak dua tahun lalu

Seperti sedang terjadi perang intelijen sehingga publik hanya bisa menerka-nerka apa yang sesungguhnya terjadi. Hal ini membutuhkan sudut pandang yang cemerlang dan pengamatan yang runut, serius dan jeli dalam melihat setiap sisi peristiwa dan tak boleh ada satu hal pun yang tertinggal

Berikut beberapa peristiwa yang sempat mencuat dan menjadi landasan pembenar adanya intrik tersebut

Antara TNI dan Polri memang sudah menjadi isu hangat di beberapa tahun silam. Jika ditelusuri tenyata kasus penangkapan tiga pernawirawan ada hubungan dengan pelemparan bangkai terhadap TNI


Sebagai mantan Panglima TNI, Gatot Nurmantyo tahu betul bahwa tidak ada kamus TNI itu melakukan makar terhadap negara

Opini yang dibentuk ruang publik seolah-olah masuknya senjata ini mewakili semua penambakan pada rakyat yang menjadi korban di kericuan tersebut

Dalam kasus kepemilikan senjata ilegal yang dimiliki TNI perlu diluruskan bahwa oprasi-oprasi khusus yang dilakukan oleh negara hanya TNI dan Presiden yang tahu

Namun polisi nampaknya berusahan mendiskreditkan insitusi TNI yang selama ini menjadi persaingan ketat dalam keamanan negara

“Apakah seorang purnawirawan yang punya kemampuan untuk melakukan makar yang luar biasa sampai ingin melakukan pembunuhan karena ancamannya hukuman mati” ungkap Gatot

Orang-orang yang punya dedikasi, sebagai hidupnya disumbungkan kepada negara tiba-tiba dikatakan makar, hilanglah semua perjuangan seorang patriot"

Drama semakin mencuat hubungan polemik dengan Menkopolhukam, sebelumnya Kivlan Zen mengunkap dalang dibalik kericuan 1998. Ia menegaskan bahwa penculikan aktivis pada 1998 merupakan upaya Jendral dan para petinggi nasional dalam berbagai kasus pelanggaran HAM di masa lalu.

Rentetan kejadian dimasa mengarah pada muka Wiranto pasalnya waktu itu dia sebagai panglima tertinggi TNI yang sedang berupaya mengisi kekosongan dimasa transisi

Tidak mau kalah, Menkopulhukam Wiranto, menanggapi isu tersebut bahwa dirinya tidak terlibat dalam kerusuhan 98 dan turut serta dalam melengserkan Soeharto sebagai Presiden saat itu dan menantang Prabowo dan Kivlan Zen untuk sumpah pocong

Tiga bulan berikutnya Kasus adu kekuatan antar Jendral berkulir, terlihat beberapa kali Pak Tito Karnavian melakukan pertemuan rahasia dengan pak Wiranto untuk menanggapi aksi kedaulatan raykat atas kecurangan pemilu 2019

Jika diperhatikan rentetan peristiwa ini memang saling terkait, adu kekuatan antara Polri dan TNI mulai masuk dibabak baru.[MO/ad]

Posting Komentar