Ilustrasi
Oleh: Dede Yulianti

Mediaoposisi.com-Bukan berita baru pergaulan bebas mengepung dunia pendidikan. Namun sangat memalukan perilaku bejat terjadi melibatkan guru dan murid. Bukan hanya sepasang, tapi tiga pasangan guru dan murid sebuah SMP di Cikeusal terlibat free sex dalam laboratorium sekolah sejak November 2018. 

Hingga salah satu siswi mengandung buah perilaku amoral tersebut. Miris dan memilukan. Fakta ini semakin menguatkan data yang diungkap KPAI, pelaku pelecehan seksual terbesar di sekolah dilakukan oleh guru. KPAI mencatat sepanjang 2018, ada 177 korban kekerasan seksual. Sebanyak 135 korban di antaranya merupakan korban laki-laki. Sementara 42 orang lainnya adalah perempuan. (tempo.co 27/12/1/2018).

Sangat disayangkan, institusi pendidikan yang sejatinya tempat menimba ilmu dan membentuk kepribadian luhur, berbalik menghancurkan masa depan generasi. Bila tak dilakukan perubahan hakiki, nasib generasi semakin terancam. Harapan meneruskan estafet kepemimpinan, kandas dijegal budaya pergaulan bebas.

Liberalisme Akar Penyebabnya

Adalah wajar saat negara mengadopsi sekularisme, sistem hidup tanpa didasari agama, asas semua perbuatan dibebaskan pada akal manusia. Termasuk pada dunia pendidikan. Lembaga pendidikan menjadikan prestasi akademik sebagai tujuan dan penilaian yang utama. Ilmu dipelajari sebatas mencapai deretan angka di atas kertas.

Sementara ide-ide liberalisme bebas menjejali setiap ruang di kepala, tanpa ada counter agama. Racun liberalisme menjalari semua pihak, tak terkecuali tenaga pendidik dan anak didik yang notebene bertemu dalam majlis ilmu. 

Ditambah derasnya serangan syahwat dalam setiap sisi, tontonan, iklan, film, lagu, media sosial, bahkan dunia literasi. Gempuran syahwat telah menjangkau semua tayangan dan kalangan.

Lahirlah manusia yang tinggi intelektualitasnya, tapi menjelma menjadi budak syahwat, terlucuti rasa malu dan kehormatan. Manusia tak ubahnya hanya seonggok daging tanpa ruh, tak tersisa setitik pun rasa takut pada Tuhannya.

Mirisnya upaya mengatasi bencana pergaulan bebas yang telah menguliti iman manusia, dilakukan dengan pendekatan dari sisi kesehatan saja. Masih berlandaskan cara pandang sekularisme. Alhasil zina yang seharusnya dijauhi karena dibenci Allah SWT, dijauhi lebih karena takut akan penyakit kelamin yang membayangi. 

Alih-alih meninggalkan, justru perilaku amoral itu diatur agar aman secara kesehatan. Istilah 'safe sex' pun diperkenalkan. Begitupula 'kehamilan yang tak diinginkan.' Program Kesehatan Reproduksi Remaja yang ditelurkan untuk mengatasi masalah perzinahan nyatanya tak sanggup menghentikan masifnya pergaulan bebas.

Maka, dibutuhkan solusi yang betul-betul mendasar dan menyeluruh agar monster pergaulan bebas tak semakin liar, bahkan dihentikan. Solusi yang dilandasi sudut pandang yang benar tentang kehidupan. Yang bukan saja melawan cara berpikir liberalisme yang destruktif. Namun juga merekonstruksi cara berpikir yang benar.

Islam Solusi Hakiki

Ketika Islam dijadikan pondasi dalam bangunan negara, setiap perkara didasarkan pada bagaimana pandangan syariat Islam. Halal dan haram menjadi satu-satunya patokan benar-salah, termasuk ranah pendidikan. Serta menjadikan pelanggaran terhadap syariat sebagai tindakan kriminal.

Oleh karena itu, institusi pendidikan menjadi lembaga yang membentuk cara berpikir berlandaskan syariat. Sekolah menanamkan pandangan tentang kehidupan dengan benar, serta pemahaman terhadap syariat secara utuh. Buahnya, anak didik menjadikan Islam sebagai arah pandang kehidupan. Berpikir salah benar sesuai standar aqidah Islam. Keimanan mewarnai seluruh sisi kehidupan.

Bukan hanya pemikiran dan perasaan yang dikonstruksi. Peraturan menjadi komponen yang sangat penting untuk mendukung lahirnya peradaban manusia yang jauh dari model 'budak syahwat.' 

Peraturan yang diterapkan negara memaksa seorang individu berperilaku sesuai batasan hukum syara. Di antaranya tata pergaulan laki-laki dan perempuan. Termasuk interaksi guru dan murid dalam kegiatan pembelajaran wajib tunduk terhadap syariat.

Menutup aurat, menundukkan pandangan, larangan kholwat dan ikhtilat, serta menutup semua pintu terbangkitkannya syahwat, menjadi panduan dalam pergaulan, siapa pun dan apapun profesinya. Inilah solusi praktis yang bisa mencegah peluang terjadinya hubungan terlarang.

Jika terjadi pelanggaran maka negara wajib menghukum pelakunya. Apalagi jika terjadi perzinahan. Cambuk 100 kali bagi yang belum menikah, dan rajam bagi yang pernah menikah merupakan hukum yang tak bisa ditawar. Walhasil setiap insan fokus menjalankan kehidupan sesuai perannya. Menjadi pembelajar dan pengajar tanpa terusik godaan syahwat.

Inilah peradaban yang akan memuliakan manusia. Benteng penjagaan negara melalui penerapan syariat Islam, bukan hanya melindungi dinding sekolah, tapi juga bilik rumah dan setiap diri dari racun liberalisme yang mematikan fitrah suci manusia.[MO/vp]

Posting Komentar