Gambar: Ilustrasi
Oleh: Mahrita Julia Hapsari, M.Pd
(Praktisi Pendidikan)

Mediaoposisi.com-Aroma busuk menyeruak di setiap awal tahun ajaran baru. Borok sistem zonasi masih menganga lebar di dalam sistem pendidikan Indonesia. Alih-alih menghilangkan kastanisasi sekolah favorit-unfavorit justru menyuburkan tindakan manipulasi data tempat tinggal.

Sejak awal kemunculannya, tahun 2017, sistem zonasi ini telah menuai protes dan ketidakpuasan masyarakat. Sistem penerimaan peserta didik baru (PPDB) dengan memperhatikan tempat tinggal ini telah menelan korban. Ada siswa yang bunuh diri karena tak bisa diterima masuk di sekolah yang dia inginkan (detik.com, 30/05/2018).

Protes dari orang tua pun terjadi di mana-mana. Tuntutan untuk menghapus Permendikbud no. 51 tahun 2018 yang mengatur tentang zonasi pun menderas. Revisi pun dilakukan oleh Kemendikbud untuk mengakomodir tuntutan tersebut. Revisi yang tak banyak berarti, hanya menambah kuota jalur prestasi dari 5% hingga 15% sisanya dengan zonasi.

Menurut para orang tua, anak-anak sudah bersemangat belajar untuk bisa masuk di sekolah favorit. Mengerjakan soal HOTS (Higher Order Thinking Skill/Kemampuan berpikir Tingkat Tinggi) di UNBK. Dan ternyata, nilai UN tak jadi penentu dalam PPDB.

Kisruh zonasi, saban tahun ini, ditengarai karena tak selesaianya PR pemerintah dalam pemerataan kualitas pendidikan. Jumlah sekolah penyebarannya tak merata. Sarana-prasarana sekolah berbeda antara sekolah di pusat kota dengan di pinggiran. Kualitas guru pengajar tak sama antar sekolah.

Hingga saat ini, masih ada sekolah yang kekurangan siswa karena sistem zonasi. Akhirnya, guru pun kekurangan jam mengajar yang berdampak pada macetnya tunjangan profesi. Adapun sekolah yang ketumpukan siswa hanya menerima sejumlah kelas yang tersedia. Sisanya kemana? Yang tak diterima di negeri, terpaksa ke swasta. Atau bertahan 1 tahun dulu tak sekolah.

Anggaran pendidikan yang hanya 20% tak mampu menutupi kebutuhan pembangunan sekolah dan sarana-prasarananya. Program pengembangan kompetensi guru juga tak merata. Bahkan ada kesan guru yang itu-itu juga yang dikirim karena diknas daerah sudah kenal.

Sekolah Favorit-Unfavorit
Masyarakat telah memiliki persepsi tentang sekolah favorit dan tidak favorit. Persepsi ini dibangun oleh masyarakat dengan melihat sarana prasarana sekolah yang lengkap, bangunan yang megah, dan tenaga pengajar yang berkualitas.

Input atau siswa yang masuk di sekolah favorit memiliki nilai yang lebih baik dari sekolah lain. Proses pembelajarannya lebih berkualitas. Output atau lulusannya memiliki nilai yang bagus. Dengan nilai yang bagus tersebut maka banyak universitas yang bisa menerima lulusan sekolah tersebut.

Standar materi menjadi nafas dalam persepsi sekolah favorit dan tidak favorit. Kental sekali dengan celupan pemikiran kapitalisme. Pendidikan hanya dilihat dari prestasi akademik ataupun non-akademik yang pada faktanya hanya jadi penghias di selembar kertas.

Dipikir, dengan memasukkan anak di sekolah favorit yang notabene berasal dari kelas menengah ke atas, maka karakter, sikap, serta nilai siswa pun akan sim… salabim menjadi baik.

Proses pembelajaran adalah implementasi kurikulum. Kurikulum sekuler ini telah mencetak generasi yang split kepribadian, tidak visioner, dan materialistik, serta liberal. Lost generation pun mengancam negeri.

Pendidikan karakter yang digadang-gadang pun tak mampu membendung arus kehancuran generasi. Pondasi karakter yang diinginkan ternyata sesuai pesanan penjajah. Kejujuran, kesopanan, dan tanggung jawab yang ditanamkan adalah untuk menyelamatkan perusahaan dan menyenangkan atasan.

Cukuplah contoh nyata seorang Karin Novilda, yang dikenal dengan Awkarin. Selebgram yang memiliki masa lalu sangat berbeda 180°. Kerudungnya hilang, berganti dengan rambut pirang. Baju super minimalis dihiasi tato di dada menggantikan baju yang menutup auratnya dulu. Merokok, minum-minuman keras, berpacaran, semua kesehariannya diunggah di akun youtube-nya.

Dulu, dia adalah peraih nilai UN SMP tertinggi di sekolahnya daerah Tanjung Pinang. Dengan jumlah nilai UN tersebut, ia pun dinobatkan menjadi juara 3 peraih nilai UN tertinggi se-provinsi Kepulauan Riau. Berbekal prestasi tersebut, jalan Awkarin menuju ibukota terbuka lebar. Di Jakarta, dia diterima di salah satu SMA favorit.

Apakah sekolah label favorit tadi bisa mempertahankan prestasinya dan membentuk pribadi yang baik? Pada faktanya, ternyata tidak. Dan ini, terjadi merata di seluruh Indonesia. Guru semakin pusing dengan degradasi moral siswa. Orang tua mulai kelelahan melihat tingkah laku remaja. Tawuran, seks bebas, narkoba, idol-idolan, geng motor, dan sederet perilaku seram remaja zaman now.

Jika melihat potret buram generasi, adakah sekolah favorit dan tidak favorit? Ternyata tidak ada, karena semua sama. Yang berbeda hanya apa yang dipakai siswa ketika berperilaku amoral.

Jika sekolah favorit, narkobanya yang mahal. Jika sekolah tidak favorit, mabuknya cukup dengan mencium lem fox. Jika sekolah favorit, seks bebasnya di hotel. Jika sekolah tidak favorit, seks bebasnya di gubuk sunyi atau di tengah sawah. Miris.

Khilafah Solusi Pemerataan Kualitas 
Akidah Islam melandasi penyelenggaraan sistem pendidikan Islam di negara Khilafah. Tujuannya adalah untuk menghasilkan manusia yang berkepribadian Islam dan membekalinya dengan ilmu pengetahuan yang berhubungan dengan masalah kehidupan.

Kurikulumnya wajib berlandaskan akidah Islam. Seluruh materi pelajaran dan metode pengajaran disusun agar tidak menyimpang dari landasan tersebut. Metode pendidikan dirancang untuk merealisasikan tujuan pendidikan.

Tentang materi pelajarannya, dapat dibedakan antara ilmu terapan dengan tsaqofah. Ilmu terapan akan diajarkan sesuai kebutuhan dan tidak terikat dengan jenjang pendidikan. Adapun tsaqofah harus diajarkan di seluruh jenjang pendidikan.

Negara wajib menjalankan pendidikan berdasarkan apa yang dibutuhkan manusia dalam kehidupan. Tak ada diskriminasi kesempatan belajar antara laki-laki dan perempuan. Ada dua jenjang pendidikan yang diselenggarakan Khilafah yaitu pendidikan dasar (ibtidaiyah) dan menengah (tsanawiyah).

Pendidikan diselenggarakan Khilafah secara cuma-cuma. Warga negara juga diberi kesempatan ke pendidikan tinggi secara gratis. Sarana dan prasarana pendidikan seperti gedung, perpustakaan, dan laboratorium disediakan negara secara lengkap dengan kualitas terbaik.

Sistem ekonomi islam sebagai penyokong dana penyelenggaraan pendidikan mampu menjamin pemerataan kualitas pendidikan. Guru digaji tinggi dan dimuliakan hingga guru pun ikhlas dan memaksimalkan segala potensi diri untuk mengajar. Pembelajar juga mendapat beasiswa dan asrama dengan fasilitas lengkap bagi kebutuhan hidupnya.

Penguasanya senantiasa teringat akan hadits Rasul bahwa seorang imam akan dimintai pertanggungjawaban atas urusan rakyatnya. Termasuk penyelenggaraan pendidikan.

Hingga kualitas pendidikan yang terbaik serta merata di seluruh wilayah Daulah akan dirasakan oleh segenap warga. Jadi, sangat wajar jika pada Dinasti Abbasiyah bermunculan para ilmuwan hebat yang merupakan output sistem pendidikan Islam. Hebatnya, para ilmuwan tersebut tak hanya ahli sains namun juga ahli di bidang fiqh serta hadits. Wallahu a'lam [MO/ms]

Posting Komentar