Oleh. Ulfiatul Khomariah
(Founder Ideo Media, Pemerhati Masalah Sosial dan Politik)

Mediaoposisi.com-Sudah sering kita mendengar banyak nyawa yang melayang akibat menenggak minuman keras. Miras menjadi salah satu faktor dari banyaknya kerusakan yang ada di negeri ini. 

Miras juga menjadi biang tindakan kriminal mulai dari pembunuhan, pemerkosaan, hingga pencurian. Bahkan di seluruh dunia data menunjukkan lebih dari setengah pelaku kejahatan selalu didahului dengan menenggak minuman keras. Dan setiap 10 detik, ada korban yang meninggal karena miras.

Namun mirisnya, minuman keras yang berbahaya ini justru dilanggengkan keberadaannya oleh para penguasa negeri. Sebagaimana yang terjadi beberapa hari yang lalu, Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) meluncurkan minuman keras yang diberi nama Sophia (Sopi Asli). 

Lebih memprihatinkan lagi, Miras Sopia ini dipromosikan oleh Gubernur NTT, Viktor Laiskodat. Ia mengangkat jempol seusai mencicipi miras Sopia dalam acara peluncuran minuman itu di halaman UPT Laboratorium Riset Terpadu Universitas Cendana (Undana) Kupang, Rabu (19/6/2019). (kupang.tribunnews.com).

Menurut Gubernur NTT Viktor Laiskodat, kadar alkohol miras Sopia ini hanya sekitar 45 persen, dan pada tahap pertama akan diproduksi sebanyak 12 ribu botol yang diluncurkan pada bulan ini, Juni 2019. 

Tak tanggung-tanggung, bahkan Viktor mengatakan miras Sopia akan dipasarkan ke sejumlah negara seperti Timor Leste, Australia, Cina dan negara tetangga lainnya. Pemprov NTT akan mengatur regulasi guna mengatur pengedaran miras di pasaran yang dapat menguntungkan pengusaha dan para pembeli.

Sungguh, belum jera juga para penguasa negeri ini, meskipun banyak nyawa yang melayang karena miras tapi masih saja dilegalkan. Padahal sudah jelas, kandungan alkohol dalam miras bisa merusak akal. 

Tak hanya mengganggu sistem syaraf, tapi juga kerja jantung dan organ internal lainnya. Dan yang terpenting adalah menurunkan kesadaran pemakainya. Jika kesadaran masyarakat menurun, akal mereka terganggu. 

Maka akan timbul banyak permasalahan di negeri ini. Hingga akhirnya sulit diharapkan adanya kebangkitan pada masyarakat seperti ini.

Membiarkan miras beredar sama halnya dengan menunggu generasi diambang kehancuran. Apalagi jika kemudian pemerintah sendiri yang memperbanyak dan menyebarkannya. Sungguh sebuah perbuatan yang sangat jauh dari logika berpikir jernih. 

Jika Allah saja mengharamkan khamr (miras) untuk menjaga akal manusia, lalu mengapa pemerintah malah melegalkannya? Bukankah pemerintah bertanggungjawab untuk menjaga akal masyarakatnya?

Dari sini kita faham bahwa selama sistem ekonomi negeri ini masih mengadopsi sistem ekonomi kapitalis maka mustahil mengharapkan miras akan dihapuskan, justru miras akan tetap beredar di tengah masyarakat. 

Sebab miras dianggap sebagai barang yang memiliki nilai sehingga akan terus diproduksi. Karena dalam pandangan ekonomi kapitalis, benda dianggap memiliki nilai apabila benda tersebut masih dibutuhkan oleh masyarakat, terlepas apakah benda tersebut membahayakan masyarakat atau tidak.

Sedangkan miras dianggap sebagai salah satu benda yang bernilai, karena masih dibutuhkan masyarakat dan mendongkrak perekonomian. Sebagai contoh negeri ini tidak menutup pabrik miras dan melarang peredarannya karena negara memandang ada nilai manfaat dari miras tersebut. 

Pajak yang masuk ke kas negara dari barang haram ini tidak tanggung-tanggung (kurang lebih 6,4 triliun). Maka selama miras memberikan manfaat bagi negara, terlepas ia haram atau tidak, berbahaya atau tidak, maka selama itu miras akan terus dilanggengkan dan dilindungi keberadaannya.

Beginilah nasib masyarakat yang terikat oleh sistem sekuler dan dipimpin oleh manusia yang hanya memikirkan masalah materi (manfaat). Pemimpin tak lagi menjadi perisai/pelindung bagi masyarakatnya, tetapi malah justru membiarkan kerusakan itu terjadi bahkan mengorbankan jiwa rakyatnya melayang karena miras. 

Tidak digunakannya standar yang benar tentang keharaman minuman beralkohol membuktikan bahwa peraturan sekuler (memisahkan agama dari kehidupan) masih dijadikan sebagai pijakan dalam merancang setiap kebijakan yang ada di negeri ini.

Maka dari itu, sudah saatnya kita beralih kepada sistem dan kepemimpinan yang benar yakni, Islam. Dalam sistem Islam, minuman haram seperti miras ini pasti akan dihapuskan. Sistem Islam memandang benda yang berbahaya seperti miras sekalipun ada manfaatnya, tetapi tetap saja banyak mudharatnya (lihat QS. Al-Baqarah: 219). Karena itu Islam mengharamkan benda tersebut. Khamr/miras itu najis, sehingga haram mengkonsumsi, mengedarkan, maupun memperjualbelikannya.

Benda yang diharamkan jelas dianggap benda yang tidak memiliki nilai, sehingga negara akan melarang memproduksinya, memanfaatkannya, mengedarkannya dan semua hal yang terkait dengan miras. Negara akan menutup rapat pintu kemaksiatan dan tidak membiarkan ruang sedikitpun kepada rakyat untuk melakukan dosa. 

Negara juga akan memberikan hukuman yang tegas terhadap seluruh orang yang terlibat dalam miras. Karena kejahatan miras merupakan dosa besar dan perbuatan kriminal yang termasuk jenis had bagi peminumnya dan ta’zir bagi selain peminum (pengedar, penjual, pembuat, dll).

Dengan pelarangan dan hukuman seperti ini masyarakat akan terjaga dari bahaya miras. Maka kerusakan dan bentuk kejahatan yang diakibatkan oleh miras akan bisa dihindari. Sungguh, betapa luarbiasanya Islam menjaga akal manusia. 

Karena menjaga dan memelihara akal agar tetap berfungsi merupakan salah satu tujuan dari hadirnya risalah Islam sehingga manusia bisa menjalankan syariat Allah dengan baik dan benar dalam kehidupan. Dengan akal yang sehat, manusia akan mampu mempertahankan eksistensi kemanusiaannya karena memang akallah yang membedakan antara manusia dengan makhluk lainnya.

Disini kita bisa menarik sebuah benang merah bahwa hanya syariah Islam yang mampu mencegah pelarangan miras secara total dan menjaga akal manusia. Oleh karena itu, penerapan syariah Islam adalah satu-satunya alternatif agar manusia terbebas dari miras. Hanya saja, pelarangan miras secara total itu hanya bisa dilaksanakan jika Islam diterapkan secara total (kaffah) dalam segala aspek kehidupan. 

Dan penerapan Islam secara kaffah itu hanya bisa dilakukan dalam bingkai Khilafah. Maka memperjuangkan tegaknya Khilafah menjadi kewajiban bagi seluruh kaum Muslimin agar Islam bisa diterapkan secara kaffah (keseluruhan) dalam segala aspek kehidupan ini. Wallahu a’lam bish-shawwab.[MO/vp]

Posting Komentar