Oleh: Irkham Fahmi al-Anjatani

Mediaoposisi.com-Tampaknya Nadirsyah Hosen terlalu bernafsu terhadap HTI, sehingga ia tidak bisa berpikir jernih, karena tensi darahnya begitu tinggi. Ibarat jalanan yang macet disebabkan tingginya arus kendaraan. Selebar apapun jalan raya itu tidak akan bisa mengurainya.

Ada dua tulisan yang saya anggap prematur dari kesimpulannya, pertama, terkait tidak akan pernah adanya lagi Khilafah. Kedua, terkait Khilafah Rosyidah yang sepatutnya tidak boleh ada kekacauan di dalamnya.

Memang dalam tulisannya yang menguraikan tentang tafsir Surat An-Nuur Ayat 55, tampak ia menguraikannya secara adil, mulai dari mufasir yang memaknai ayat tersebut sebatas di zaman Nabi saw., di zaman Para Khalifah Rosyidun hingga tak terbatas di masa lampau, tetapi juga berlaku untuk masa yang akan datang.

Semua dicantumkan secara berimbang olehnya. Sayangnya, di akhir pembahasan ia menyimpulkan dengan prematur dari pemaparan pendapat Para ulama tafsir tersebut.

Nadir mengemukakan, bahwa tidak ada satu pun ulama tafsir yang menjelaskan bahwa Surat An-Nuur Ayat 55 berkaitan dengan Kekhilafahan yang akan dipegang oleh kaum Muslimin.

Dengan hanya mengutip beberapa pernyataan dari para mufasir, tanpa menyuguhkan referensi lain seperti halnya  Hadits-hadits Nabi saw. yang shahih kemudian ia langsung menyimpulkan, bahwa Khilafah tidak akan pernah ada lagi.

Jelas itu bukanlah tulisan ilmiah. Lebih pasnya disebut argumentasi prematur. Padahal banyak sekali Hadits tentang Kekhilafahan di masa yang akan datang.

Dengan anggapannya yang menyatakan bahwa tidak ada penjelasan tentang Khilafah di masa depan dari Ulama-ulama tafsir terkait Surat An-Nuur tersebut, sehingga ini artinya Khilafah tidak akan tegak kembali, itu berarti sama saja Nadirsyah tidak meyakini akan datangnya kembali Kekhilafahan yang akan dipimpin oleh Al-Mahdi yang akan menaungi dunia.

Padahal banyak sekali ulama Hadits yang meriwayatkan Khabar tentang Al-Mahdi, di antaranya Ibnu Majah, Al-Hakim, Al-Thabrani, dan Abu Ya’la.

Sanad hadits mereka sampai pada sejumlah sahabat seperti Ali bin Abi Thalib, Ibnu Abbas, Ibnu Umar, Thalhah, Abdullah bin Mas’ud, Abu Hurairah, Abu Sa’id Al-Khudri, Ummu Habibah, Ummu Salamah, Tsauban, Qurrah bin Iyas, Ali Al-Hilali, Abdullah bin Haris bin Jaz’i. Dengan beraneka ragam derajatnya. Ada yang sahih, hasan dan ada juga yang dhaif.

فحديث عبد الله بن مسعود هذا مع شواهده وتوابعه صالح للاحتجاج بلا مرية، فالقول بخروج الإمام المهدي وظهوره هو القول الحق والصواب والله تعالى أعلم
"Adapun Hadits Abdullah bin Mas'ud serta syawahid dan tawabi’nya layak untuk dijadikan dalil (kemunculan Imam Mahdi) tanpa keraguan. Pendapat tentang kemunculan Imam Mahdi adalah pendapat yang benar dan hanya Allah Yang Maha Mengetahui,” (Al-Mubarakfuri, Tuḥfatul Aḥwadzi bi Syarḥi Jamiʽ al-Tirmidzi, VI/485).

يُقْتَلُ عِنْدَ كَنْزِكُمْ هذَا ثَلاَثَةٌ كُلُّهُمُ ابْنُ خَلِيفَةٍ ثُمَّ لاَ يَصِيرُ إِلَى وَاحِدٍ مِنْهُمْ ثُمَّ تَطْلُعُ الرَّايَاتُ السُّودُ مِنْ قِبَلِ المَشْرِقِ فَيَقْتُلُونَكُمْ قَتْلاً لَمْ يُقْتَلْهُ قَوْمٌ فَإِذَا رَأَيْتُمُوهُ فَبَايِعُوهُ وَلَوْ حَبْواً عَلَى الثّلْجِ فَإِنَّهُ خَلِيفَةُ الله المَهْدِيُّ

“Akan berperang tiga orang di sisi perbendaharaan kalian. Mereka semua adalah putra khalifah. Tetapi, tak seorang pun di antara mereka yang berhasil menguasainya.

Kemudian muncullah bendera-bendera hitam dari arah Timur, lantas mereka memerangi kamu (orang Arab) dengan suatu peperangan yang belum pernah dialami oleh kaum sebelum kalian. Maka jika kamu melihatnya, berbaiatlah walaupun dengan merangkak di atas salju, karena dia adalah Khalifah Allah Al-Mahdi,” (Riwayat Tsauban, Al-Ahkam Asy-Syar’iyyah Al-Kubra, IV/527).

يَخْرُجُ فِي آخِرِ أُمَّتِي الْمَهْدِيُّ

“Al-Mahdi akan keluar di akhir kehidupan umatku," (Jalaluddin As-Suyuti, Jami’ Al-Ahadis, No: 26677).

Itu adalah sebagian kecil referensi daripada kabar tentang akan munculnya kembali Kekhilafahan yang dipimpin oleh Al-Mahdi, yang sebelumnya dipimpin oleh Khalifah lainnya.

Jika Nadirsyah berkata lagi, lalu kenapa mesti ada kekacauan terlebih dahulu, bukankah Khilafah yang HTI perjuangkan itu Khilafah Rasyidah yang akan menebar kedamaian.

Pertanyaan ini cukup dijawab dengan kalimat, di zaman Kekhilafahan Umar, Utsman dan Ali pun pernah terjadi kekacauan. Apakah berarti Kekhilafahan mereka (radliyaallahu 'anhum) bukan termasuk Khilafah Rasyidah ?

Kembali ke topik Khilafah. Terlepas nanti terjadi kekacauan ataupun tidak pada periode Khilafah di masa yang akan datang, yang jelas dengan tulisannya itu Nadirsyah sudah ingkar terhadap kedatangan Khalifah Al-Mahdi dan Khalifah-khalifah sebelumnya.

Padahal dalam keyakinan Ahlussunnah maupun Syi'ah (sebagaimana yang selalu ia bela) sendiri dikatakan, bahwa mengingkari kedatangan Al-Mahdi merupakan perbuatan dosa.

“مَنْ أَنْكَرَ الْقَائِمَ مِنْ وَلَدِيْ فَقَدْ أَنْكَرَنيِ

“Siapa yang ingkar atas Al-Qaaim (Imam Mahdi) dari keturunanku, maka ia ingkar terhadap Kenabianku," (Al-Saduq, Ikmal al-Din, hal. 390).

Begitulah pandangan tokoh-tokoh Sunni dan Syiah terkait keyakinan mereka akan kemunculan Al-Mahdi sebagai Khalifah di hari akhir nanti, yang Nadirsyah ingkari.

Terkait makna dari Surat An-Nuur Ayat 55, Imam Ath-Thabari ketika menerangkan makna "layastakhlifannahum fil ardl" dalam Surat tersebut adalah:

“Allah akan mewariskan kepada mereka (orang-orang yang beriman dan beramal shaleh) negeri orang-orang musyrik dari kalangan Arab maupun Non-Arab, lantas mereka menjadi penguasa-penguasa di negeri tersebut,” (Tafsir Ath-Thabari: IXX/209).

Beliau menyebutnya sebagai penguasa-penguasa. Tentu ini adalah dalam konteks politik, karena berkaitan dengan negara. Dan politik dalam Islam adalah sebagai wasilah dakwah demi tegaknya Hukum-hukum Allah swt. secara sempurna.

Terakhir Nadirsyah mengajarkan kepada kami agar senantiasa bersyukur hidup di Indonesia (yang tidak menjadikan Islam sebagai hukumnya).

Ia lupa bahwa wujud syukur kepada Allah adalah dengan cara menunjukan ketaatan sepenuhnya terhadap Aturan-aturan Nya. Bukan malah menuduhnya sebagai ancaman bagi Kebhinekaan.

Sebagaimana yang dijelaskan oleh Ibnul Qayyim al-Jauziyah:

الشكر ظهور أثر نعمة الله على لسان عبده: ثناء واعترافا، وعلى قلبه شهودا ومحبة، وعلى جوارحه انقيادا وطاعة

“Syukur adalah menunjukkan adanya Nikmat Allah pada dirinya. Dengan melalui lisan, yaitu berupa pujian dan mengucapkan kesadaran diri bahwa ia telah diberi nikmat.

Dengan melalui hati, berupa persaksian dan kecintaan kepada Allah. Melalui anggota badan, berupa kepatuhan dan ketaatan kepada Allah," (Madarijus Salikin, II/244).

Dengan iman dan amal shaleh, melakukan segala apa yang Allah perintahkan, menjauhi segala apa yang Allah haramkan niscaya kekuasaan dunia akan digenggam oleh umat Islam yang mulia.

Tidak mungkin Islam akan berkuasa manakala tidak ada iman dan amal shaleh dari umatnya, apabila umatnya membenarkan semua agama, menganggap berbagai kemaksiatan sebagai trend kemajuan dunia.

Sebagaimana yang biasa dilakukan oleh orang-orang liberal. Artinya, tidak ada tampang sedikitpun kaum liberal akan berusaha menjadikan Islam berkuasa di atas dunia.[MO/ad]

Posting Komentar