Oleh: Fitri Irawati

Mediaoposisi.com-Manusia identik dengan sifat lemahnya. Dengan ketidak-sempunaannya sehingga membutuhkan peran orang lain. Sebab yang sempurna dan tidak membutuhkan sesuatu apapun hanyalah Allah subhanahu wata'ala saja.

Maka, sudah menjadi fitrahnya bila manusia yang sudah dicukupkan umur serta kemampuannya memilih untuk menikah. Menikah ternyata lebih dari sekedar melengkapi setengah dari agama, namun juga kebutuhan yang Allah sudah tetapkan kapan masanya akan tiba kepada hambaNya.

Faktanya keluarga adalah bagian penting dalam kehidupan di dunia. Sebab masa depan pada kehidupan setelah menikah tergantung bagaimana sistem keluarga tersebut dijalani.

Islam telah mengajarkan bagaimana keluarga harusnya dijalani. Wanita sebagai istri berjalan diatas koridornya, yaitu sebagai Ibu yang tugasnya tentu mendidik anak-anaknya agar kelak tercipta generasi unggul. Begitupun dengan Pria, hidup sesuai fitrahnya sebagai seorang Qowwam. Dengan sebaik-baik aturan yang telah ditetapkan oleh yang Maha Pengatur dan Maha Pencipta, tentu harusnya manusia sebagai makhluk yang ciptaannya harus taat pada aturannya. 

Suami menjalani hidup sebagaimana Allah perintahkan, mencari nafkah, menjadi kepala keluarga serta pemimpin dalam mengatur anak dan istrinya adalah hal yang seharusnya dilakukan. Sebab apapun yang Allah tetapkan adalah kebaikan bagi hambaNya.

Namun, seiring perkembangan zaman, beredar pemikiran bahwa wanita 'butuh' kesetaraan gender. Hal ini disebabkan pemikiran bahwa perempuan harus memiliki hak yang sama dengan laki-laki. Artinya perempuan boleh menjadi pemimpin, pencari nafkah, dan lain-lain sebagaimana lelaki. Pemikiran ini jelas telah teracuni oleh bumbu-bumbu liberal.

Tak heran jika kita temui kini wanita memiliki andil yang besar dalam berbagai bidang pekerjaan. Bahkan sebagian besar wanita di beberapa negara memilih untuk tidak menikah dan memiliki anak. Mereka disibukkan dengan menumpuk harta dunia sehingga hampir kehilangan fitrahnya sebagai wanita.

Kini bukan suatu yang mengagetkan lagi jika banyak negeri membenci kaum muslim. Mereka pun menyelipkan pemikiran-pemikiran sekulernya untuk meracuni warga muslim di seluruh penjuru dunia. Tema kesetaraan gender pun kian digaungkan seiring dengan hari keluarga internasional per 15 Mei. 

Hal ini tentulah merupakan sebuah ancaman besar untuk seluruh keluarga muslim di dunia. Sebab gerakannya adalah gerakan internasional dan didukung oleh berbagai pihak kuat yang telah mengazamkan dirinya untuk menghancurkan kehidupan islam dari berbagai aspek.

Dilansir dari laman Fajar.Co.Id (05/02/19) Indonesia sendiri, akan kembali diperingati hari keluarga nasional yang ke 26 kali pada tanggal 29 Juni mendatang, yang bertuan-rumahkan Kalimantan Selatan.

Hal ini tentu menimbulkan kekhawatiran tersendiri untuk kita sebagai muslim. Sebab bukan hal yang rahasia lagi bahwa di berbagai lapisan masyarakat, beberapa wanita telah dengan bangganya meneriakkan kesetaraan gender. 

Untuk itu perlulah keluarga Islam kembali pada fitrahnya yang sesungguhnya. Sebab masa depan negeri-negeri Muslim bergantung bagaimana keluarga Muslim menjalankan perannya. Menjadikan Islam sebagai dasar keluarga adalah kunci kebahagiaan tak hanya di dunia, namun juga di akhirat.

Sebagai muslim harusnya tahu menempatkan posisi sesuai aturan yang Maha pencipta. Bukan justru mengikuti hawa nafsu duniawi hingga melupakan fitrah dan jati diri. Dibutuhkan pemahaman khususnya bagi kalangan wanita untuk mengetahui posisinya yang justru dimuliakan, bukan diperbudak oleh dunia.

وَلَيْسَ الذَّكَرُ كَالْأُنْثَى

“Dan anak laki-laki tidaklah seperti anak perempuan.” (QS. Ali Imran [3]: 36)


Di antara ketetapan syariat yang Allah khususkan bagi laki-laki adalah soal kepemimpinan. Allah berfirman,

الرِّجَالُ قَوَّامُونَ عَلَى النِّسَاءِ بِمَا فَضَّلَ اللَّهُ بَعْضَهُمْ عَلَى بَعْضٍ وَبِمَا أَنْفَقُوا مِنْ أَمْوَالِهِمْ

“Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebahagian mereka (laki-laki) atas sebahagian yang lain (wanita), dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka.” (QS. An-Nisa` [4]: 34)


Oleh sebab itu, tidaklah sepatutnya dari laki-laki atau wanita menginginkan sesuatu yang telah Allah khususkan bagi salah satunya dalam perbedaan-perbedaan hukum tersebut dan mengembangkan perasaan iri satu sama lain disebabkan perbedaan-perbedaan tersebut (Muslim.or.id, Abu Khalid Resa Gunarsa, LC, dalam tulisannya Kesetaraan Gender dalam Sorotan).

Oleh karena itu Allah melarang hal itu dengan firman-Nya,

وَلَا تَتَمَنَّوْا مَا فَضَّلَ اللَّهُ بِهِ بَعْضَكُمْ عَلَى بَعْضٍ لِلرِّجَالِ نَصِيبٌ مِمَّا اكْتَسَبُوا وَلِلنِّسَاءِ نَصِيبٌ مِمَّا اكْتَسَبْنَ وَاسْأَلُوا اللَّهَ مِنْ فَضْلِهِ إِنَّ اللَّهَ كَانَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمًا

“Dan janganlah kamu iri hati terhadap apa yang dikaruniakan Allah kepada sebahagian kamu lebih banyak dari sebahagian yang lain. (Karena) bagi orang laki-laki ada bahagian dari pada apa yang mereka usahakan, dan bagi para wanita (pun) ada bahagian dari apa yang mereka usahakan, dan mohonlah kepada Allah sebagian dari karunia-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” (QS. An Nisa` [4]: 32)

Wallahu'alam bishowab..[MO/dp]


Posting Komentar