Oleh : Lia Ummi'y Ayubi
( Komunitas Muslimah Sholihah Tamansari Bogor)

Mediaoposisi.com-Keluarga merupakan institusi terkecil di masyarakat. Dari keluarga inilah terbentuk generasi penerus kehidupan. 

Kualitas generasi penerus ini ditentukan oleh pengajaran dan pembinaan yang terjadi didalam keluarga. Itulah sebabnya, bangunan keluarga harus kuat supaya mampu menghasilkan generasi yang tangguh. 

Dalam Islam, keluarga ibarat benteng pertahanan terakhir dalam menghadapi berbagai ancaman, tantangan, hambatan dan gangguan yang akan merusak dan menghancurkan tatanan masyarakat. Keluarga adalah ikatan terkuat yang berfungsi sebagai pranata awal pendidikan primer, dengan ayah dan ibu sebagai sumber pengajaran pertama. 

Keluarga juga berfungsi sebagai wadahpaling ideal untuk mencetak generasi unggulan, yakni generasi tajwa, cerdas dan siap memimpin umat membangun peradaban ideal di masa yang akan datang.
 
Dalam Keputusan Presiden RI Nomor 39 tahun 2014, tanggal 29 Juni ditetapkan sebagai Hari Keluarga Nasional (Harganas). 

Harganas ini diperingati dengan tujuan untuk mengingatkan pada seluruh masyarakat Indonesia akan pentingnya keluarga sebagai sumber kekuatan untuk membangun bangsa dan negara. 

Seperti yang dikutip dari detik.com, Pemerintah melalui Badan Kependudukan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) menetapkan puncak peringatan Hari Keluarga Nasional (Harganas) dipusatkan di Kota Banjarbaru, Provinsi Kalimantan Selatan (Kalsel) dengan tema 'Hari Keluarga, Hari Kita Semua' dan slogan 'Cinta Keluarga, Cinta Terencana'. Puncak seremoni akan jatuh pada 6 Juli 2019. (09/05/2019).

Masih dari sumber yang sama, tujuan dari peringatan Harganas adalah meningkatkan kesadaran dan peran serta masyarakat terhadap pentingnya keluarga kecil, bahagia, dan sejahtera dalam kerangka ketahanan keluarga. 

Selain itu untuk meningkatkan pemahaman masyarakat dalam penerapan 8 fungsi keluarga yang terdiri dari agama, cinta kasih, perlindungan, ekonomi, pendidikan, reproduksi, sosial dan budaya, serta lingkungan. 

Kemudian dapat mewujudkan penerapan 4 pendekatan ketahanan keluarga, yakni keluarga berkumpul, keluarga berinteraksi, keluarga berdaya, serta keluarga peduli dan berbagi. 

Namun sayangnya tujuan baik ini disusupi oleh nilai-nilai yang tidak sesuai dengan Islam. Salah satunya adalah pengarus derasan pemahaman tentang keadilan dan kesetaraan gender (KKG).

Kesetaraan gender, dikenal juga sebagai keadilan gender, adalah pandangan bahwa semua orang harus menerima perlakuan yang setara dan tidak didiskriminasi berdasarkan identitas gender mereka, yang bersifat kodrati. 

Ini adalah salah satu tujuan dari Deklarasi Universal Hak asasi Manusia, PBB yang berusaha untuk menciptakan kesetaraan dalam bidang sosial dan hukum, seperti dalam aktivitas demokrasi dan memastikan akses pekerjaan yang setara dan upah yang sama. 

Upaya yang masif dari para pendukung kesetaraan gender (feminis) dalam mengkampanyekan program ini akhirnya sampai pada satu titik bernama keberhasilan. Bahkan mendapat dukungan penuh baik negeri-negeri Barat maupun muslim termasuk Indonesia. 

Keberhasilan tersebut sudah terealisir dalam rentetan Undang-Undang yang mengatur kebebasan berkarya/berekspresi, keterlibatan perempuan dalam dunia kerja hingga perpolitikan negara. Tak jarang pula, perempuan turut menempati jabatan strategis pemerintahan.

Sekilas, semua pencapaian tersebut tampak menguntungkan kaum perempuan. Bayangkan, ditengah tekanan ekonomi sekarang ini, juga godaan role mode hedonis yang sering dipertontonkan, perempuan mana yang tidak tergiur mencicipi hasil kesetaraan gender yang diusung oleh kaum feminis. Yang dengan itu, mereka berharap tak lagi dianggap kaum rendahan dan termarjinalkan dari kehidupan publik.

Padahal, banyak sekali hal yang patut dikoreksi dari gempuran opini menyesatkan ini, karena sejatinya perjuangan atas pemberdayaan perempuan tak benar-benar terjadi, alias ilusi. Nilai guna mereka tak lebih dari sekedar materi demi mengokohkan hegemoni kapitalisme. 

Dimana untuk mencapai target ini, perempuan banyak dimanfaatkan sebagai penggerak roda industri berharga murah sekaligus target pasar produksi.

Berlindung dibalik nama pemberdayaan ekonomi perempuan, kesehatan reproduksi perempuan, peningkatan partisipasi politik perempuan dan program-program ’bermadu’ lainnya, para aktifis gender menyuntikkan pemikiran-pemikiran beracun untuk membius kaum perempuan hingga lupa pada jati dirinya sebagai Muslimah, serta lupa pada komitmennya terhadap keluarga dan tugas mempersiapkan generasi. 

Ide-ide kesetaraan gender secara empiris telah merapuhkan dan bisa meruntuhkan bangunan keluarga, juga merusak perempuan dan generasi. 

Sebagai seorang Muslim kita harus selalu waspada terhadap ide-ide tersebut agar tidak terbius untuk meyakininya dan tersangkut sebagai pengembannya.

Islam menempatkan posisi kaum perempuan pada kedudukan yang mulia, hal ini tidak lain karena peran dan tugas besar yang dimilikinya. 

Di dalam Al-Qur’an telah banyak menjelaskan kepada kita tentang kedudukan perempuan dengan kaum pria. Islam memandang kedudukan perempuan sama dengan laki-laki dalam hak dan tanggung jawabnya. 

Keduanya memiliki potensi dan akal yang sama sehingga mampu menjalankan peran dan fungsinya sesuai dengan koridor yang telah diatur oleh Allah. Oleh sebab itu keduanya, baik laki-laki dan perempuan terikat atas aturan-aturan yang akan diminta pertanggungjawaban atas perbuatannya di dunia. Allah SWT berfirman,

“Sungguh, laki-laki dan perempuan muslim, laki-laki dan perempuan mukmin, laki-laki dan perempuan yang tetap dalam ketaatannya, laki-laki dan perempuan yang benar, laki-laki dan perempuan yang sabar, laki-laki dan perempuan yang khusyuk, laki-laki dan perempuan yang bersedekah, laki-laki dan perempuan yang berpuasa, laki-laki dan perempuan yang memelihara kehormatannya, laki-laki dan perempuan yang banyak menyebut (nama) Allah, Allah telah menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar” (TQS. Al-Ahzab: 35).

Islam juga menempatkan perempuan dalam posisi terhormat. Laki-laki dan perempuan akan berinteraksi dalam kehidupan bermasyarakat secara alami namun berjalan sesuai koridor syara’.

Setiap perempuan dibolehkan menuntut ilmu setinggi-tingginya, juga mendapat jaminan kesehatan serta layanan kemasyarakatan lainnya seperti halnya laki-laki. 

Islam memandang peran perempuan yang paling esensial adalah sebagai seorang istri dan seorang ibu, sehingga tidak diwajibkan kepada wanita untuk bekerja diluar rumah, tetapi jika wanita mampu menjalankan perannya sebagai seorang istri dan ibu dengan baik serta mampu bekerja membantu perekonomian keluarga maka pahala yang sangat besar telah disiapkan kepadanya.

Sejatinya hanya tatanan keluarga sesuai tuntunan syari’at Islam lah yang mampu menjamin kebahagiaan keluarga dunia akhirat. Sebuah tatanan kehidupan yang dibangun berdasarkan ketaatan kepada Allah dan RosulNya. 

Tatanan kehidupan yang ideal ini akan bisa terwujud ketika negara menjalankan fungsi dan perannya secara optimal. 

Negara sebagai institusi yang mengatur urusan umat, baik dalam negeri maupun luar negeri. Ia juga  akan menjaga iman masyarakat, mewujudkan lingkungan yang Islami dan memberikan sanksi yang tegas. 

Maka dengan penerapan Islam secara kaffah, akan terwujud keluarga kokoh. Sehingga peringatan Hari keluarga Nasional bukan hanya sebagai kegiatan seremonial belaka. Wallahu'alam.[MO/AS]

Posting Komentar