Oleh : Ummu Hanif
(Anggota Lingkar Penulis Ideologis)

Mediaoposisi.com-Harganas selalu diperingati tiap tanggal 29 Juni. Harganas dimaksudkan untuk mengingatkan seluruh masyarakat Indonesia akan pentingnya keluarga sebagai sumber kekuatan untuk membangun bangsa dan negara.

Keluarga diharapkan menjadi sumber yang selalu menghidupkan, memelihara, memantapkan, dan mengarahkan kekuatan tersebut sebagai perisai dalam menghadapi persoalan kehidupan dewasa ini.

Adapun Pemerintah melalui Badan Kependudukan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) menetapkan puncak peringatan Hari Keluarga Nasional (Harganas) dipusatkan di Kota Banjarbaru, Provinsi Kalimantan Selatan (Kalsel) dengan tema 'Hari Keluarga, Hari Kita Semua' dan slogan 'Cinta Keluarga, Cinta Terencana'. Puncak seremoni akan jatuh pada 6 Juli 2019. (www.detik.com, 9/5/2019)

Mengapa keluarga menjadi masalah krusial yang perlu diangkat? Karena memang keluarga adalah benteng terakhir pertahanan sebuah bangsa, dan saat ini tengah mengalami permasalahan disintegrasi keluarga yang kronis.

Sebut saja data yang dikutip detikcom, sebanyak sebanyak 419.268 pasangan bercerai sepanjang 2018, dan mengalami peningkatan serius sampai pertengahan 2019 ini.

Motifnya beragam, pertengkaran, perselingkuhan, motif ekonomi, tak sepaham dll. Sungguh sebuah ironi, bukannya kita berada di negeri muslim yang harusnya tabu urusan perceraian.

Karena perceraian adalah perbuatan yang sangat dibenci oleh Allah Swt. Rupanya negeri muslim lainnya juga hampir mengalami masalah yang sama, bahkan dunia Barat

Demikian juga di dunia anak, Deputi Perlindungan Anak Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KPPPA) Sri Danti Anwar menyebutkan data Badan Narkotika Nasional (BNN) 5,9 juta anak Indonesia merupakan pecandu narkoba.

Dari angka itu 24 persen di antaranya merupakan pelajar Sekolah Dasar, Sekolah Menengah Pertama, dan Sekolah Menengah Atas. (www.republika.co.id, 18/11/2018)

Selain itu disampaikan bahwa tren anak berbuat asusila meningkat. Saat ini, anak-anak tidak lagi sekedar menonton video porno namun berusaha mempraktekannya.

Mengerikan, itu semua adalah contoh kecil dari perilaku remaja yang semakin menggila. Tak segan bahkan pelajar membeli kondom dan alat tes kehamilan di area sekolah mereka. Terbukti ada peningkatan penjualan kondom setiap tahunnya.

Dua fakta ini memiliki korelasi yang kuat. Pecahnya keluarga berimbas pula terhadap rusaknya generasi muda. Karena keluarga adalah institusi terkecil sebagai penjaga, dan pendidik bagi anak-anak dan remaja. Keluarga tempat lahir dan dididiknya generasi penerus peradaban.

Keluarga harusnya menjadi tempat yang hangat ketika anak dilanda masalah, tapi semua telah berubah. Sang Ayah sibuk dengan pekerjaannya, bahkan sang Ibu juga tak mau kehilangan kesempatan mengejar karier nya.

Dalih demi untuk memberi uang jajan yang cukup, fasilitas gadged, hp android, laptop dan fasilitas lainnya dianggap cukup menggantikan peran keibuan dan pendidikan putra putrinya.

Anak - anakpun tumbuh tanpa kontrol jauh dari pengawasan orang tua, dan tiba-tiba saja mereka kaget ketika buah hatinya yang polos terseret berbagai pergaulan bebas diluar sana.

Lantas apa yang membuat keluarga itu telah kehilangan vitalitasnya. Tidak lain akibat diterapkannya sistem Kapitalis sekuler. Penerapan ideologi Kapitalis tentu tidak terlepas dari ide dasarnya yakni sekulerisme.

Upaya mengaruskan ide yang lahir dari ideologi Barat terus diluncurkan, ide kesetaraan gender, feminisme, hedonisme, materialisme, pluralisme, individualis, hedonis, liberalisme dan aneka kebijakan liberal terus diproduksi.

Ide sekuler dengan produk hedonisme telah mengubah bentuk kehidupan manusia menjadi amat bebas. Peraturan agama diterjang, bahkan dituduh menjadi penghalang kemajuan.

Sayangnya kitapun tertipu dengan racun Barat ini, terbuai dengan nya hingga lupa peran dan tanggung jawab sebagai orang tua. Hal ini diperparah dengan derasnya propaganda ide sekuler liberal melalui media dan perkembangan teknologi turut menjadi jembatannya.

Doktrin - doktrin dan kebijakan ala kapitalis berhasil menghancurkan sendi keluarga. Keluarga muslim bahkan telah kabur dengan konsep keluarga yang islami dan kehilangan fungsi utamanya. Robohnya benteng keimanan yang menjadikan semua makin parah dan hancur tak bersisa.

Islam dengan aturannya yang paripurna akan mengatur permasalahan ekonomi, pendidikan, pergaulan, sosial,  bahkan keluarga.

Dengan diterapkannya syariat Islam peran ayah dan ibu akan bisa maksimal diterapkan. Karena sistem ekonomi islam menjamin setiap warga negara unuk mendapat kesempatan mendapatkan kebutuhan pokoknya dengan sistem distribusi barang dan jasa yang baik.

Suasana ruhiyah yang tinggi juga menjadi faktor yang mendorong individu masyarakat daulah qona’ah dan mudah berderma.

Tidak ada lagi kecemburuan suami dan atau istri terhadap pekerjaan dan tugas mereka masing – masing di dalam keluarga. Karena menurut mereka, tugas adalah amanah Allah yang akan menghantarkan pada pahala dan dosa. Surga dan neraka.

Anak - anak pun akan mendapatkan perlindungan, pendidikan dan kasih sayang yang cukup dari keluarganya. Negara akan berperan strategis mengatur pergaulan masyarakat sesuai dengan syariat.

Media juga akan diarahkan untuk dakwah nilai-nilai islami yang bernuansa edukasi. Maka sungguh dengan menerapkan seluruh aturan islam dalam bingkai khilafah islamiyah, kesejahteraan dan keselamatan akan mampu kita raih di dunia dan akhirat.[MO/ad]

Posting Komentar