Oleh: Indah Shofiatin 
(Alumnus FKM Unair)

Mediaoposisi.com-Sudan bergolak, mendidih dan belum usai. Pergolakan panas yang memuncak sejak 2018 lalu belum kunjung reda.

Rakyat Sudan yang kian terhimpit krisis ekonomi dan tertindas kebijakan politik zalim selama 30 tahun muntab, membanjiri jalan-jalan bak air bah dalam protes yang masih memanas.

Tuntutannya satu, mereka ingin perubahan kondisi yang menyelamatkan nasib buruk orang dewasa dan anak-anak di negeri itu.

Sayang, hingga akhirnya presiden sebelumnya, Omar Al-Bashir turun dari tahta otoriter 3 dekadenya, kondisi rakyat Sudan malah makin memburuk.

Pengganti penguasa tertinggi Sudan, Lt. Jendral Mohamed Hamdan yang dikenal dengan Hemeti, seorang petinggi militer yang ditengarai memimpin genosida Darfur, merespon demonstrasi rakyat dengan tangan besi.

Meskipun mengklaim dirinya sebagai ‘penyelamat Sudan’, unit paramiliter Rapid Support Forces yang dipimpinnya menembaki para demonstran, memperkosa para peserta perempuan, bahkan sebagian korban brutal tersebut mereka hanyutkan di sungai nil!

Tagar biru sempat menjadi respon sosial media atas kekejaman penguasa baru Sudan terhadap rakyat yang memprotesnya, sebagai bentuk solidaritas kepada salah satu korban.

Hingga saat ini gelombang protes Sudan ramai terdengar hingga tanah air, saudara muslim kita di Sudan masih hidup dalam ketakutan, kemiskinan dan kebrutalan rezim.

Mengapa gejolak Sudan menemui kegagalan perbaikan kondisi rakyat? Mengapa kondisi mereka bukan tambah baik, malah makin memilukan  setelah Al-Bashir lengser? Bukankah reformasi berdarah yang mereka perjuangkan seharusnya menghasilkan sedikit cahaya harapan?

Gejolak rakyat Sudan adalah suatu hal yang wajar. Di bagian bumi manapun, ketika penindasan kian nyata dan kesulitan hidup mencekik mayoritas orang, pergolakan masif selalu terjadi. Indonesia sudah pernah mengalaminya tahun 1998 lalu.

Dengan keberhasilan yang juga dipertanyakan meskipun tidak seberdarah kegagalan Sudan. Kesalahan bukan berada pada rakyat yang bergolak, tapi pada arah pergolakan yang diperjuangkan. Apa cita-cita pergolakan itu? Dengan cara apa hendak diraih oleh rakyat?

Ketika cita-cita Sudan hanya melengserkan rezim, itulah yang menjadi pangkal kegagalannya. Cita-cita pergolakannya hanya berhenti pada siapa pemimpin selanjutnya.

Padahal sejatinya kondisi Sudan dan seluruh dunia Islam -termasuk Indonesia- terkubur krisis karena tetap setia pada sistem demokrasi kapitalisme, sistem yang mendurhakai Allah Zat Yang Maha Mengatur. Aturan Allah dicampakkan, hanya dilirik aspek ibadah ritual individual saja.

Riba dijadikan kebutuhan negara dalam mengatur finansial, akhirnya mata uang Sudan dihajar dolar. Begitu parahnya hingga rakyat menjerit sulit mendapati sesuap roti.

Kebijakan politik, ekonomi maupun hankam dalam negeri didikte asing, dengan AS sebagai pemain utamanya, wajar bila setiap aturan yang muncul selalu mengorbankan rakyat sendiri. Akibatnya, 30 tahun rakyat Sudan menderita dalam sistem negara yang durhaka terhadap Penguasa Semesta.

Apakah Hemeti lebih baik dari Al-Bashir? Lagi-lagi, meskipun berkoar-koar akan membangun Sudan dengan ‘prinsip-prinsip’ syariah Islam, tingkah lakunya di awal hari sudah menunjukkan kebrutalan yang jauh dari Islam.

Alih-alih mengajak rakyat Sudan bertaubat sistemik, pernyataannya itu justru menjadi pencemar citra pemimpin islam yang seharusnya.

Seorang khalifah seperti Ali bin Abi Thalib ra. tidak pernah bertindak demikian. Sekalipun ada sekelompok umat melakukan kudeta di masa beliau, beliau hadapi dengan perlawanan yang mendidik, bahkan memaafkan mereka menjadi pilihan arif ketika kelompok tersebut menyatakan penyesalannya. Inilah sosok pemimpin islami, khalifah di muka bumi, bukan islam-islaman!

Maka, yang menjadikan darah rakyat Sudan tertumpah sia-sia adalah ketika arah perjuangan mereka bukan ganti sistem demokrasi kapitalisme dengan Islam kaffah.

Bukan memperjuangkan Khilafah Islam dengan mengikuti teladan Nabi saw. hingga berhasil menegakkan Islam kaffah di Madinah. Bila perjuangan mereka dan umat Islam di negeri manapun masih belum mengikuti kitabullah dan sunnah Rasul-Nya, wajar bila kegagalan terus terulang.

Karena ridha Allah dan pertolongan-Nya belum pantas didapatkan oleh mereka yang salah arah dan salah jalan.

Karena itulah, kita bersedih atas kondisi Sudan, kita berdoa kebaikan untuk mereka, lalu kita berkaca dan memperbaiki diri.

Bahwa umat ini akan terus dizalimi, dilalimi dan diperlakukan brutal di manapun, selama tidak kembali kepada Allah, Islam kaffah dan Khilafah yang menjadi tuntutan rabbul ‘alamin kepada seluruh manusia beriman.

Semoga kesadaran tersebut membuat kita bersabar memperjuangkan Islam mengikuti metode Rasulullah, sekalipun cobaan perjuangan ini berat dan kemenangan terlihat masih jauh.

Ingatlah, pertolongan Allah itu dekat bagi orang yang beriman dan bertakwa, yang berjuang hanya demi Dia dengan cara dan langkah yang diridhai-Nya.[MO/ad]

Posting Komentar