Oleh : AR 
Mediaoposisi.com-Di era kapitalisme bukanlah suatu hal yang mengejutkan apabila aspek-aspek yang harusnya dapat memenuhi hajat hidup orang banyak menjadi bahan obralan bagi kepentingan sebagian individu ataupun korporasi. 

Asas manfaat menjadi dasar berjalannya berbagai kerjasama tanpa memandang kawan dan lawan. Selama mendatangkan manfaat bagi sebagaian orang terutama bagi pemilik modal, kerjasama akan tetap dilaksanakan. Sebagaimana yang sering sekali terdengar, yang kaya semakin kaya yang miskin semakin miskin. Inilah yang terjadi di negeri ibu pertiwi.

Selain SDA (Sumber Daya Alam) saat ini nasib SDM (Sumber Daya Manusia) ikut masuk antrian untuk digadaikan, salah satunya pada aspek pendidikan baik pendidik maupun peserta didiknya. Pendidikan sebagai arah tujuan perubahan bangsa kini menjadi sasaran empuk bagi para kapitalis. 

Kebijakan-kebijakan pemerintah pada bidang pendidikan perlu mendapat perhatian yang besar. Apakah kebijakan yang akan dan telah berjalan adalah kebijakan yang solutif bagi perubahan Indonesia atau bahkan sebaliknya.

Mengulik kembali wacana pada tahun 2018 terkait pengimporan kurang lebih 200 dosen asing dari berbagai belahan dunia kembali muncul kepermukaan karena adanya rencana penambahan KEK (Kawasan Ekonomi Khusus) dalam bidang pendidikan.

Pemerintah saat ini sedang merevisi beberapa aturan terkait KEK sebagaimana yang dikatakan oleh Sekretaris Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Susiwijono Moegiarso. Ia juga menagatakn bahwa nantinya pemerintah berencana mengembangkan KEK dalam bidang jasa yang meliputi KEK pendidikan dan KEK kesehatan.

Perevisian KEK ini bertujuan untuk menarik masuk para investor karena 12 KEK pada bidang industri pengolahan SDA dan prawisata dirasa kurang optimal beroperasi. Tak jauh beda dalam bidang kesehatan dalam bidang pendidikan ini nantinya pun pemerintah berencana akan menarik dosen asing untuk mengajar di Indonesia.

Selain itu pada 14 Juni 2019 lalu tepatnya di Ibis Hotel, Tangerang telah dilaksanakan pelepasan 45 delegasi mahasiswa Indonesia yang akan melaksanakan kunjungan ke Tiongkok selama 7 hari (15-21 Juni 2019). Selain dihadiri oleh delegasi mahasiswa pelepasan tersebut juga dihadiri oleh Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi, Prof. Mohamad Nasir, Ph.D.

Dilansir dari https://belmawa.ristekdikti.go.id dengan adanya kunjungan para delegasi ke negeri tirai bambu tersebut peserta diharapkan mendapatkan pengalaman dan wawasan internasional agar mampu bersanding dan bersaing dengan negara lain, dan membagikan pengalaman positifnya di lingkungan kampus.

Benar adanya jika pendidikan adalah salah satu bentuk investasi jangka panjang. Kendati demikian, bukan berarti pendidikan yang merupakan sebuah urgensi kembali menjadi kelinci percobaan rezim neoliberal di sistem kapitalisme seperti saat ini. 

Program serta kebijakan yang akan dan telah berjalan perlu ditelisik. Apakah benar dengan menyerahkan pendidikan Indonesia kepada asing dapat membawa perubahan besar bagi kemajuan bangsa atau bahkan menjadi bumerang bagi bangsa sendiri?

Pendidikan yang dijalankan dengan rantai kapitalisme membentuk pribadi baik pola piker dan pola sikap yang hanya berorientasi pada manfaat dunia semata. Anggapan ini terbentuk karena jelas paradigma sekulerisme neolib adalah paradigm yang keliru. Pemisahan unsur agama dari kehidupan membuat pribadi individu pun terfokus pada wilayahnya saja. 

Tak ayal yang diharapkan pun adalah materi serta manfaat yang harus diterima dari pengorbanan luar biasa. Selain itu menjadikan pula pemuda yang apatis terhadap masyarakat. Tidak peduli dengan permasalahan di tengah-tengah masyarakat, dan menganggap permasalahan tersebut bukan suatu urgensi yang perlu dipermasalahkan selama tidak menggangu otoritasnya atau bisa disebut pula dengan individualis.

Berbeda dengan sistem kapitalisme, aturan Islam membentuk pribadi yang cemerlang baik dalam pola pikir dan pola sikap. Aturan Islam yang mengatur perihal pendidikan pun tidak hanya sebab pada investasi dan kepuasan materi saja, jauh daripada itu yaitu ketaatan pada sang pencipta dalam berbagai aspek termasuk aspek pendidikan. 

Islam sebagai sistem kehidupan yang paling komperhensif memiliki visi dan misi yang jelas dalam membentuk penyelamat generasi dan pembentukkan peradaban yang haqiqi. Terbentuknya generasi dan peradaban haqiqi tidak lain dan tidak bukan karena paradigm khas yang terpancar daripada Islam.

Di dalam sistem Islam pendidikan merupakan pilar peradaban bangsa yang memancarkan kemasalahatan bagi seluruh alam. 

Peradaban islam yang cemerlang  tergambar jelas dalam tujuan pendidikan Islam yaitu membangun kepribadian Islam yang mencakup pola pikir dan pola sikap serta mempersiapkan generasi penerus yang Islami yang memahami agama dan ahli dalam setiap aspek kehidupan baik ilmu keislaman dan ilmu terapan. 

Kembali pada aturan Islam yang sungguh jelas kebenarannya dan mencampakkan aturan kapitalisme adalah solusi terbaik.[MO/vp]

Posting Komentar