Oleh: Mochamad Efendi

Mediaoposisi.com-Curang sudah diajarkan sejak di bangku sekolah saat peserta didik dipaksa untuk mencapai prestasi yang memuaskan tapi materi pembelajaran tidak dikuasai anak secara tuntas. Sekolah yang menginginkan peserta didiknya lulus 100% dengan nilai baik tapi pengajaran tidak diberikan secara maksimal sehingga cara curang dilakukan agar bisa mencapai prestasi yang gemilang. 

Nama baik sekolah tetap terjaga meskipun cara curang telah membentuk karakter buruk anak di masa depan mereka. Tertanam dalam pemahaman mereka jika ingin meraih kesuksesan harus curang.

Cara curang sudah dipertontonkan pada peserta didik, mulai dari memberi jawaban pada mereka atau membiarkan dan memberi kesempatan mereka untuk berbuat curang. Kecurangan tidak ditindak tegas dengan mendiskualifikasi hasil ujian atau ulangan. 

Mereka tidak jera dan cenderung mengulainya lagi karena berbuat curang dianggap menguntungkan. Banyak siswa curang mendapatkan penghargaan sebagai juara di kelas, sementara mereka yang serius belajar terkalahkan oleh mereka yang berbuat curang. 

Sebagian guru atau pengawas menutup mata saat melihat anak menyontek agar nilai mereka tidak dibawah KKM. Itulah awal dari kebiasaan curang yang dibawa sejak mereka di bangku sekolah. Jika kecurangan dibiarkan bahkan didukung oleh sistem di sekolah,  kebiasaan ini akan membekas pada pemahaman mereka bahwa untuk mencapai kesuksesan harus diraih dengan cara curang.

Padahal mereka adalah generasi penerus calon pemimpin masa depan. Jika kecurangan sudah diajarkan saat mereka sekolah, kebiasaan itu akan terbawa terus ketika mereka memasuki dunia kerja atau menjadi pemimpin yang akan menjadi contoh atau suri tauladan bagi rakyat yang dipimpinnya.

Kebiasaan ini juga terbawa saat pemimpin ingin terpilih, mulai dari level kepala desa sampai dengan level kepala negara. Mereka yang jujur tidak mungkin memenangkan pertarungan pemilihan yang curang. 

Berbagai carapun dilakukan agar bisa mewujudkan ambisinya untuk bisa menjadi pemimpin. Tidak bisa dielakkan pemimpin buruk dihasilkan dari proses pemilihan yang curang. Pemimpin buruk akan memberikan contoh buruk bagi rakyat yang dipimpinnya.

Pendidikan yang buruk menghasilkan pemimpin buruk. Sementara, masyarakat yang buruk mencontoh pemimpinnya yang buruk. Sistem demokrasi yang buruk telah menghasilkan pendidikan, pemimpin dan masyarakat yang buruk. 

Sesuatu yang salah dilegalkan sebaliknya sesuatu yang benar diharamkan. Curang sudah menjadi gaya hidup yang tidak bisa dilepaskan dalam sistem demokrasi. Kecurangan dianggap biasa bahkan dilegalkan dalam siatem demokrasi. 

Para hakim dan penegak hukum tidak mencari kebenaran, tapi siapa yang pandai bermain curang dimenangkan. Siapa yang punya argumen meyakinkan meskipun terbukti salah akan memenangkan pertandingan.

Penyakit Kronis, Curang sudah menggerogoti semua lini kehidupan di negeri ini. Pendidikan rusak karena kebiasaan curang para peserta didik yang didukung sistem yang curang. Curang menjadi gaya hidup anak negeri saat ingin sukses di sekolah. 

Para pemimpin mempertontonkan kecurangan saat mereka ingin menang meraih kursi kekuasaan. Masyarakatpun terbiasa curang karena melihat pemimpin mereka curang. Curang menjadi gaya hidup. Kejujuran ditinggalkan karena dianggap penghalang untuk meraih kesuksesan.

Penyakit curang hanya bisa diobati dengan Islam dengan meninggalkan demokrasi yang telah mengajarkan kecurangan. Dalam Islam curang adalah penyakit kronis yang harus dihilangkan. Ibarat kanker ganas yang menggerogoti harus diangkat sampai ke akar-akarnya sehingga tidak akan bisa tumbuh lagi. 

Sungguh jika negeri ini ingin tumbuh sehat menjadi negeri bermartabat dan maju di segala bidang, penyakit curang harus diobati dengan Islam dan membuang demokrasi yang menjadi penyebab tumbuh suburnya kecurangan di negeri yang mayoritas penduduknya beragama Islam.[MO/vp]


Posting Komentar