Zulaika Hanum
Member akademi Menulis Kreatif

Mediaoposisi.com-Sudah jatuh tertimpa tangga pula. Peribahasa ini rasanya dapat menggambarkan penderitaan umat saat ini. Naiknya harga-harga kebutuhan, sulit dan rumitnya memasukkan anak ke sekolah yang diinginkan karena diterapkannya sistem zonasi. Belum lagi viral berita di media sosial tentang akan naiknya (lagi) tarif dasar listrik yang demikian membuat was-was perasaan masyarakat.

Padahal listrik adalah kebutuhan vital di zaman milenial saat ini. Karena ini zaman modern dimana segala kebutuhan rakyat memerlukan listrik sebagai penggeraknya dari mulai urusan dapur, pendidikan, karir dan sebagainya. Bila listrik naik lagi lalu bagaimana rakyat bisa memenuhi kebutuhannya? Apakah cara hidup rakyat harus kembali lagi seperti dulu di saat listrik belum ditemukan? Tentu saja tidak. Yah sistem pemerintahan kapitalis-sekuler saat ini memang benar-benar zalim, mereka hanya menganggap rakyat sebagai "pembeli" dan mereka "penjual" hingga segala sesuatunya harus menguntungkan di mata mereka. Mereka tidak memikirkan bagaimana penderitaan rakyat jika TDL (Tarif Dasar Listrik) benar-benar dinaikkan lagi.

Meski Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral, Ignasius Jonan pun memastikan bahwa tidak akan ada kenaikan tarif dasar listrik (TDL) seperti ramai di jagat media sosial Twitter. Jonan juga tidak mengetahui hal tersebut. "Saya nggak pernah naikkan tarif, nggak ada tarif dasar listrik itu, Tarif tenaga listrik. Ya, itu nggak ada, nggak ada kenaikan kok," jelas dia. Dia pun menganggap informasi yang ramai dibahas di Twitter pun sebagai kabar bohong atau hoaks. (detikFinance.com). Namun dengan track record sebelumnya dimana kebijakan menaikkan harga-harga kebutuhan masyarakat yang diterapkan tanpa adanya sosialisasi terlebih dahulu sudah menjadi hal yang biasa, maka berita ini pun sukses menjadikan hati sebagian rakyat ketar-ketir.

Indonesia adalah negara yang kaya raya. Memiliki sumber daya alam yang melimpah hingga biasa disebut zamrud khatulistiwa. Kandungan minyak, batu bara, gas alam, emas, nikel, tembaga dan berbagai bahan tambang lainnya kita miliki tapi sayang kekayaan negeri belum sebanding dengan kesejahteraan rakyatnya. Menurut data Indonesia Mining Asossiation, Indonesia meraih peringkat ke-6 terbesar di dunia kategori negara yang kaya akan sumber daya alam tambang. Sumber daya energi berupa migas, contohnya, dengan cadangan batu bara Indonesia yang hanya 0,5 persen dari cadangan dunia namun produksi Indonesia menempati posisi ke-6 sebagai produsen dengan jumlah produksi 246 juta ton. Malangnya, kekayaan alam Indonesia saat ini masih dikuasai asing. Kekayaan alam tambang Indonesia 100 persen di bawah kontrol asing. Rakyat Indonesia hanya dijadikan penonton dan penjaga kebun bagi para pemilik izin usaha pertambangan (asing). Maka lumrah bila kondisi rakyat Indonesia alih-alih sejahtera malah memprihatinkan. Semua ini terjadi karena di negara kita diterapkan sistem kapitalis-sekuler dimana pemerintah berlepas tangan akan kondisi rakyat dan hanya memperhatikan dari sisi keuntungan namun sangat minim dalam hal proses pengurusannya.

Lain halnya dengan Islam. Sebab Islam hadir tidak hanya sebagai agama tapi juga sebagai sistem kehidupan yang mampu memecahkan seluruh problematika kehidupan termasuk dalam pengelolaan kekayaan alam. Di dalam Islam, kekayaan alam adalah bagian kepemilikan umum yang wajib dikelola oleh penguasa dan hasilnya diserahkan untuk kesejahteraan rakyat. Sebaliknya, haram hukumnya menyerahkan pengelolaan kepemilikan umum kepada individu atau swasta, terlebih asing. Seperti sabda Rasulullah Saw,
"Kaum muslim berserikat dalam tiga hal: air, padang dan api" (HR Ahmad).

Menurut sabda tersebut maka listrik dikategorikan sebagai api dimana pengelolaannya wajib diserahkan kepada pemerintah sementara hasilnya dikembalikan untuk sebesar-besar pemenuhan kebutuhan rakyat. Maka dengan begitu tidak akan didapat rakyat yang menderita karena kenaikan listrik karena akan diberikan secara cuma-cuma oleh penguasa untuk kesejahteraan mereka.

Adanya penguasaan sumber daya alam oleh asing dikarenakan penguasa saat ini menerapkan sistem kapitalis-sekuler dimana siapa saja yang memiliki modal besar maka boleh memiliki atau membeli sesuatu walaupun sesuatu itu dimiliki oleh orang lain, dalam hal ini rakyat. Penguasa saat ini tidak peduli apakah dengan menjual sumber daya alam tersebut akan menyengsarakan rakyat atau tidak yang penting bagi mereka adalah keuntungan besar yang akan mereka raup. Maka marilah kita campakkan sistem kapitalis-sekuler yang saat ini masih bercokol di negeri kita dan kita ganti dengan sistem Islam yaitu Khilafah ‘ala Minhaj an-Nubuwwah agar tidak ada lagi rakyat yang menderita.

Wallahu a'lam bi ash shawab

Posting Komentar