Oleh: Nonna
(Mahasiswa UIN Alauddin Makassar)

Mediaoposisi.com-Bagi penggemar film animasi, Avatar the Legend of Aang, tentu bukanlah hal yang asing. Avatar merupakan salah satu animasi legendaris dan animasi terbaik sepanjang masa.

Filem ini mengisahkan tentang seorang bocah pengendali Udara, Aang, yang dipercaya hadir untuk mendamaikan dunia yang terdiri atas empat kerajaan utama dengan elemen yang berlainan yakni kerajaan Api, Bumi, Air dan Udara yang saat itu sedang bertikai.

Jika diibaratkan bahwa ke empat kerajaan berbeda tersebut adalah agama, maka animasi tersebut cukup menggambarkan kehidupan beragama saat ini di mana pertikaian dan kekacauan antar pemeluk agama terjadi hanya karena perbedaan yang dimiliki.

Padahal, pertikaian dan kekacauan itu sendiri tidak semestinya terjadi. Perbedaan agama tidak seharusnya menjadikan kita membawa ransel yang berisikan bom dan meledakkannya pada ummat yang berbeda iman.

Kita bisa bersahabat, saling merangkul. Kita bisa berteman di tengah perbedaan, bukan malah bermusuhan atas nama perbedaan agama.

Sayangnya, mimpi menjadikan agama sebagai jalan damai seringkali gagal terjadi. Beberapa bulan yang lalu (15 Maret 2019), kita sempat dikejutkan dengan kasus penembakan di Masjid Al Noor Chrischurch Selandia Baru yang dilakukan oleh Brenton Tarrant.

Seorang pemuda asal Australia yang dengan brutalnya mempertontonkan secara langsung di media sosial kasus penembakan yang dilakukannya di dalam masjid tersebut.

Belum surut duka kita atas kasus itu, ksaus lain muncul dengan pemboman di gereja dan beberapa titik lainnya di Sri Lanka.

Agama Sebagai Korban

Pertanyaannya, patutkah kita menyalahkan agama atas dua kasus diatas? Tentu tidak. Ibarat kecelakaan tragis di jalan raya, yang disalahkan bukan mobil, motor ataupun sepedanya. Cobalah tengok siapa yang mengendarai?

Barangkali mereka berkendara sambil makan mie Instan, berkendara sambil bermain games PUBG, atau  malah mereka belumlah mahir dalam berkendara.

Emile Durkheim menjelaskan bahwa agama seharusnya menghasilkan solidaritas sosial yang menjaga kelangsungan masyarakat.

Namun sayangnya, seringkali kita menemukan orang yang dengan pandainya melegitimasi agama untuk kepentingan pribadi mereka. Mereka telah mengatasnamakan agama demi nafsu belaka dan menghancurkan pri kemanusiaan dengan keegoan besar mereka.

Sangat begitu memprihatinkan ketika agama dijadikan Korban oleh para pemeluk pemeluknya sendiri. Untuk itu, tidak elok jika menyalahkan Agama atas kekacauan yang disebabkan oleh keegoisan pemeluk beragama.

Agama tidak lain hanyalah korban kekerasan dan kefanatikan semata dari pihak pihak yang tidak bertanggung jawab.

Penggunaan kekerasan atas nama agama adalah bukti dari kekacauan dalam beragama. Agama adalah landasan hidup guna mendapatkan kedamaian dan kesucian diri.

Agama berisi pesan pesan suci. Para pelaku kekerasan atas nama agama telah merusak nilai nilai suci itu.

Agama dan Kesucian

Agama dengan kesuciannya mengajarkan kita untuk saling mencintai dan menyayangi antar sesama sekalipun kita berbeda. Agama adalah cinta kasih.

Layaknya sebuah kanvas, agama  melukiskan pemandangan indah,  bukan menampakkan lukisan yang memprihatinkan.

Dalam Agama apapun itu, toleransi adalah sesuatu hal yang mesti dijunjung tinggi oleh para pemeluk pemeluknya, karena dengan toleransi-lah kita akan menyatu ditengah perbedaan. Kita tidak perlu berusaha dengan semangat ‘45 untuk mengurangi jumlah penganut agama lain.

Keyakinan kita akan agama bukan untuk membuktikan siapa yang paling jago dan siapa yang bakal tersingkirkan.

Agama bukan untuk jago jagoan. Sejatinya agama adalah mengajarkan kita untuk hidup rukun dan saling merangkul. Dalam Al-Qur’an sendiri (QS. Al-Maidah [5]: 48) disebutkan bahwa “Sekiranya Allah menghendaki, Niscaya Kalian dijadikan-Nya satu Umat saja”

Jika hukum asalnya kita sebagai umat manusia telah diciptakan dengan bermacam macam golongan, lantas mengapa kita masih saja menyaksikan kasus intoleransi seolah olah  Agama tidak mengajarkan soal toleransi?

Jika kita percaya akan kebebasan beragama, kenapa mengapa harus ada kasus penutupan Rumah Ibadah?  Kita memahami arti saling menghargai lantas mengapa kita menemui kasus pemotongan salib?

Sungguh, mengapa kita masih saja mengharapkan seluruh penduduk bumi untuk memiliki keyakinan yang sama dengan kita?

Dan malah melakukan tindak kekerasan yang selalu saja mengatas namakan Agama? Mungkin sedikit renungan bahwasanya kedamaian tak akan pernah hadir sebelum toleransi antar agama terjadi. 

Hans Kung pernah berujar, “Tidak akan ada perdamaian antar bangsa jika tidak ada perdamaian anatar agama.”

Pertanyaannya sekarang ialah, kapankah toleransi dan saling menghargai itu terjadi? Layaknya, disekuel akhir filem Avatar ketika kerajaan Api, Bumi, Air dan Udara bersatu, saling menghargai dan memahami perbedaannya masing masing

Toleransi dan  saling menghargai antar ummat beragama bisa terjadi ketika seluruh umat manusia menyadari bahwa perbedaan Agama bukanlah sesuatu yang buruk, melainkan sebuah perbedaan warna yang indah bila diperpadukan dalam satu bingkai kemanusiaan.[MO/ad]

Posting Komentar