Oleh : Nasrul Huda Al Husaeni

Mediaoposisi.com-Siapa yang tak kenal Nasrudin Joha (Nasjo)? Sosok yang akhir-akhir ini ramai diperbincangkan di tengah masyarakat, mulai dari rakyat hingga pejabat. Bukan karena ia mencetak rekor yang tercatat oleh Museum Rekor Indonesia (MURI) atau World Guinness Records, melainkan tulisannya yang tidak biasa-biasa saja.

Tulisan-tulisannya mampu membuat pembacanya tertawa ringan hingga berat. Ada juga yang mengangguk-angguk seraya membenarkan isi tulisan karena dirasa mampu menggambarkan isi hati dan pikiran pembaca yang selama ini tak tercurahkan. Bahkan ada juga pihak-pihak yang dibuat geram olehnya.

Siapa Nasrudin Joha Sebenarnya?

Nasrudin Joha dikenal sebagai seorang filsuf yang bijak. Ia dilahirkan dan meninggal di kota Akshehir, dekat kota Konya, Ibukota Pemerintahan Islam Bani Saljuk, sekarang di Turki pada abad ke-13. Saat berpendapat, acap kali ia menuangkannya dalam bentuk sindiran atau humor (wikipedia.com).

Sosok yang telah meninggal dunia beberapa abad silam itu, seolah kini 'terlahir' kembali ke dunia melalui tulisannya yang fenomenal. Wajar kalau akhirnya ia jadi terkenal. Meski demikian, tidak banyak orang yang tahu siapa Nasjo alias Nasrudin Joha 'Reborn' alias Nasrudin Joha II ini sebenarnya.

Apabila kita mengikuti tulisan-tulisan Nasjo, maka akan kita ketahui bahwa ia adalah sosok yang sangat menginginkan Syariat Islam tegak secara kaffah di muka bumi ini. Dalam tulisannya yang berjudul "Nasrudin Joha", Nasjo menyatakan bahwa dirinya tidak lagi  khawatir akan fitnahan, kesempitan serta kesulitan hidup yang akan menimpanya kelak. Ia yakin, surga terhampar luas di hadapannya (nasrudinjoha.blogspot.com)

Nasjo Jadi Incaran

Sepak terjang Nasjo seperti memberi angin segar bagi rakyat yang aspirasinya jarang didengar oleh para pejabat. Di sisi lain, ia malah dianggap membawa angin kematian bagi pihak-pihak yang merasa terusik kepentingannya. Sebut saja Gus Muwafiq. Seorang ustadz dari kalangan NU asal Sleman, Yogyakarta yang menganggap bahwa tulisan Nasjo itu provokatif (Badriologi.com, 6/6/2019).

Hal senada juga disampaikan oleh Sitty Nurrrahman dalam tulisannya yang berjudul "Waspada Hoaks dan Pembodohan Publik Nasrudin Joha". Nurrahman menyatakan ketidaksetujuan nama besar Nasrudin Joha dicomot hanya untuk kepentingan tertentu karena hal ini bisa menenggelamkan tokoh Nasrudin Joha sebenarnya (Kompasiana.com, 11/12/2017).

Lain halnya dengan Ahmad Sastra, seorang Pengajar Filsafat dan Peradaban yang juga ikut angkat bicara tentang Nasjo. Ia menyatakan bahwa siapapun, termasuk dirinya akan mengalami kesulitan jika mencari identitas siapa Nasjo sebenarnya. Menurutnya, siapapun yang anti penjajahan, anti kezaliman, anti kebohongan dan anti penghianatan, maka dialah Nasjo (Inspiratormedia.id, 12/6/2019).

Berkaca pada Nasjo

Nasrudin Joha maupun Nasjo itu memiliki persamaan. Setidaknya, keduanya sama-sama sosok yang mampu memberikan nasehat dan pelajaran kepada siapapun. Hanya cara mereka saja yang berbeda.
Nasrudin Joha menyampaikan nasehatnya melalui candaan atau humor. 

Hal itu dirasa wajar mengingat pemimpin pada masa itu sangat peka dan peduli akan kondisi rakyatnya. Sementara Nasjo menyampaikan nasehat dan kritik secara terang-terangan. Hal ini dilakukan mengingat penguasa yang ada di masanya seolah menutup mata, telinga hati dan akal sehatnya pada fakta dan kondisi rakyat yang nyata di hadapan.

Boleh saja kita tidak setuju dengan isi tulisan-tulisan Nasjo. Bahkan, sah-sah saja jika ada orang yang tidak suka dengan sosok Nasjo. Tapi, jika kita mau jujur pada diri sendiri, tidak sedikit apa yang disampaikan oleh Nasjo adalah jeritan isi hati dan pikiran kita selama ini.

Biarlah sosok Nasjo tetap menjadi rahasia. Yang penting, ia senantiasa di jalur yang benar, menyerukan keadilan (Islam), memihak pada rakyat dan menentang kezaliman.
Sayyidina Ali bin Abi Thalib Radhiyallahu 'anhu berkata:
أُنْظُرْ مَا قَالَ وَلَا تَنْظُرْ مَنْ قَالَ
"Lihatlah apa yang dikatakan jangan melihat siapa yang mengatakan."
[MO/vp]

Posting Komentar