Gambar: Ilustrasi
Oleh: Dessy Fatmawati, S. T

Mediaoposisi.com-24 Juni 2019, secara bersamaan dua media besar mengangkat satu judul headline yang serupa. BBC News Indonesia mengangkat judul berita, “Dunia Arab dalam tujuh grafik: Apakah Orang Arab Mulai Meninggalkan Agama?” Sedangkan The Guardian memilih judul, “Arab World Turns its Back on Religion–and its Ire on the US”. Disusul sehari setelahnya, Republika mengangkat headline tersebut dengan pilihan judul, “Orang Arab Kini tidak Religius”

Dalam ulasan ketiganya dari tujuh infografis, pilihan diksi ‘tidak religius’ atau ‘turn back on religion’ hanya satu infografis yang benar-benar mewakili. Seperti yang tertulis dalam redaksi BBC, sejak 2013, jumlah orang di seluruh wilayah (Timur Tengah) yang mengidentifikasi diri sebagai "tidak religius" meningkat dari 8% menjadi 13%. Kenaikan terbesar terjadi pada kelompok usia di bawah 30-an dan 18% dari mereka mengidentifikasi diri sebagai tidak religius menurut survei Arab Barometer.

Lalu Bagaimana dengan Indonesia?
Dikenal sebagai negeri muslim terbesar di dunia, tentu apa yang terjadi di Indonesia turut andil dalam kancah opini dunia. Bersama Malaysia, umat Islam di kedua negara ini memiliki potensi kekuatan opini yang tidak kalah menentukan dibanding kawasan Timur Tengah.

Survei legendaris PEW Research Center pada tahun 2013 menemukan data 72% umat Islam di Indonesia menginginkan syariah Islam sebagai hukum resmi sedangkan di Malaysia ada 86% yang memiliki keinginan serupa. Tahun 2017, Alvara Research Center melakukan survei terhadap 4.200 milenial yang terdiri dari 1.800 mahasiswa dan 2.400 pelajar SMA di Indonesia. Diantara mereka,  17,8 persen mahasiswa dan 18,4 persen pelajar setuju khilafah sebagai bentuk negara ideal sebuah negara. "Di kalangan profesional, yang setuju ideologi Islam sebagai ideologi Indonesia 15,5 persen." ujar CEO Alvara, Hasanuddin Ali di Wahid Foundation, Jakarta, Rabu (7/3/2018).

Ryamizard Ryacudu, Menteri Pertahanan Indonesia menyebutkan angka yang lebih tinggi, yakni 23,4% kalangan mahasiswa setuju untuk menegakkan khilafah (caliphate). Sebagaimana dikutip dari laman Asianews.it (19/6/2019), Ryamizard Ryacudu menambahkan sekarang ‘mereka’ masih menjadi mahasiswa, namun tidak 20-30 tahun ke depan. Mahasiswa yang mengadopsi ide khilafah bisa jadi pemimpin, komandan militer, atau jenderal polisi masa depan dan itu akhir dari negara (nation state) ini.

Realitas Islam di Tengah Arus Opini Barat
Perlu dipahami, media Barat meskipun menyajikan informasi yang netral tidak lantas menyuguhkan sudut pandang yang juga netral. Jurnalisme modern (Barat) dikembangkan pada abad 20 dan dipengaruhi oleh tokoh-tokoh jurnalis asal Amerika Serikat, salah satunya adalah Bill Kovach. Dalam artikelnya yang dimuat pada laman niemanreport.org, Bill Kovach menuturkan dalam artikel yang berjudul Journalism’s First Obligation is to Tell the Truth, dalam jurnalistik kebenaran mutlak (netral) tidaklah ada. Media mainstream secara informasi bisa dipertanggungjawabkan namun jurnalisme modern sepenuhnya hanya melayani nilai-nilai sekuler Barat.

Jadi, mengapa terjadi ekspos besar-besaran terhadap survei Arab Barometer disisi lain minim publikasi survei PEW Research Center? Jawabannya, kembali pada nilai apa dibalik jurnalisme yang dianut oleh media. Over exposed yang ditunjukkan Barat dan kroninya terhadap syariah Islam merupakan bukti paranoid Barat terhadap kebangkitan Islam. International Association of Religion Journalist telah memberi garis tegas, “Jangan biarkan ruang sedikitpun pada kalangan garis keras! Silahkan meliputi mereka ketika mereka melanggar hukum.”  

Dianggap sebagai pusat peradaban Islam, wilayah Timur Tengah menjadi sangat penting bagi Barat dalam penggiringan opini menuju proyek sekulerisasi. Sebab, lepasnya manusia dari agama (Islam) menjadi tonggak fundamental eksisnya peradaban Barat yang memang didesain sejak awal kebangkitannya menolak hadirnya agama dalam pengaturan kehidupan.

Di sisi lain, satu realitas yang tidak bisa diabaikan oleh Barat adalah dianutnya agama Islam memiliki konsekuensi menghadirkan agama dalam seluruh aspek kehidupan mereka. Islam yang telah lama eksis, menyebar merata menihilkan adanya pembedaan berdasarkan ras atau teritori. Islam tidak mengenal konsep muslim Arab, muslim Indonesia, maupun muslim Barat. Esensi Islam tidak berkurang sedikitpun dan tidak menghalanginya dalam mencapai keimanan.

“Mereka ingin memedamkan cahaya (agama) Allah dengan mulut (ucapan-ucapan) mereka, sementara Allah tetap menyempurnakan cahaya-Nya meskipun orang-orang kafir benci.” (QS. Ash Shaf 61:8)

Optimisme dan Pilihan Kita
Jumlah 23,4% bisa jadi merupakan angka yang kecil namun tidak demikian 20-30 tahun mendatang. Angka 18% bisa jadi besar namun tidak demikian 20-30 tahun mendatang. Yang perlu diingat, sekalipun media Barat menahan realitas kebangkitan Islam lewat otoritas informasi yang mereka miliki, tidak seharusnya mengurangi keyakinan kaum muslimin akan janji Allah atas masa depan Islam dan kaum muslimin. Perkara perjuangan Islam bukan perkara dimana dan siapa, namun perkara pilihan. Pilihan untuk tetap berjuang atau pilihan mundur dari keimanan dan menyambut sekuleritas Barat, sebagaimana firman Allah dalam surat Al Maidah 5: 54.

“Hai orang-orang yang beriman, barang siapa di antara kamu yang murtad dari agamanya, maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan merekapun mencintai-Nya, yang bersikap lemah lembut terhadap orang yang mukmin, yang bersikap keras terhadap orang-orang kafir, yang berjihad di jalan Allah, dan yang tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela. Itulah karunia Allah, diberikan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya, dan Allah Maha Luas (pemberian-Nya), lagi Maha Mengetahui.”

Dalam penutup ulasan ekonomi yang ditulis berkaitan dengan trust terhadap apa yang diturunkan Allah, Yudha Pedyanto menulis, sebenarnya yang kita perlukan bukan data aktual atau riset saintifik, tapi leap of faith atau lompatan keimanan. Keyakinan itu menunjukkan bahwa semua yang Allah dan Rasul-Nya perintahkan, pasti membawa kebaikan dan keberkahan, dunia dan akhirat, sekalipun belum tergambar manfaat-mudahratnya oleh kita. Seperti ketika Allah Subhanahu wa ta’ala memerintahkan Musa 'alaihi salam untuk menghentakkan tongkatnya atau Nuh 'alaihi salam untuk membangun bahtera, mereka sama sekali tidak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya. Jadi, mari kita saling berpegangan tangan kemudian “lompat” bersama-sama untuk menerapkan syariah kaffah dalam bingkai Khilafah Islamiyah. Bismillah. [MO/ms]

Posting Komentar