Oleh : Nasrudin Joha

Mediaoposisi.com-Narasinya terlalu fiktif dan tidak ilmiah, mengaitkan aksi damai menuntut pemilu curang dengan sejumlah ancaman kepada tokoh. Ada yang disebut Bos lembaga survei, hingga ancaman kepada Wiranto dan Hendropriyono.

Setelah ketahuan ada luka tembak pada korban demonstran, beredar luas temuan peluru tajam yang berhamburan, pengeroyokan aparat terhadap pendemo, muncul narasi peserta demo yang membawa senjata. Menarget sejumlah tokoh.

Coba kita berfikir sedikit jernih, tanpa dikotori oleh korosi otak binatang ampibhi dengan IQ 200 sekolam.

Pertama, jika target itu Wiranto atau Hendro, aksi demo jika ditujukan untuk menarget keduanya, seyogyanya aksi dilakukan di Kemenkopolhukam, atau dirumah Wiranto dan Hendropriyono. Menarget tokoh tertentu, dengan aksi yang locusnya berbeda, jelas mengkhawatirkan.

Mengkhawatirkan, karena nanti dianggap aksi sinetron. Mengkhawatirkan karena dianggap operasi amatiran. Padahal, senjata yang diklaim akan digunakan untuk melakukan pembunuhan itu super canggih.

Jika locus delicti demo di KPU dan bawaslu, tentu lebih logis jika menarget anggota KPU atau bawaslu. Karena pendemo kecewa dengan kedua institusi ini, melakukan protes terhadap institusi ini, dan kericuhan berawal dari lokasi dua institusi ini.

Kedua, menarget Wiranto dan Hebdro betapapun dianggap tokoh paling menjengkelkan, jelas tidak menyelesaikan masalah. Karena problem utamanya adalah kecurangan pemilu, bukan kebencian pada individu atau tokoh tertentu.

Matinya Hendro atau Wiranto, jelas tidak merubah keputusan hasil pemilu. Jadi, tidak sejalan dengan tujuan aksi damai yang sejak awal menginginkan pemilu curang diadili secara hukum.

Ketiga, Wiranto dan Hendro itu sudah kakek-kakek. Tanpa dibunuh, didiamkan saja mereka mati sendiri. Jadi, kebencian terhadap Wiranto dan Hendro cukup dengan mendoakan keduanya berumur panjang, sempat menyaksikan rakyat memperoleh keadilan, dan sempat mendapat balasan atas kezalimannya.

Membunuh Wiranto dan Hendro itu tidak memperbaiki kondisi bangsa ini. Mereka sudah sangat tua dan udzur. Wiranto 72 tahun, Hendro sudah 74 tahun. Kedua kakek ini, selayaknya dilindungi agar sempat menjemput ajal dengan khusnul khatimah.

Sedih sekali hidup di negeri ini, bersuara saja dibungkam. Aksi damai saja dituduh macam-macam. Padahal, 8 (delapan) orang meninggal dan ratusan luka itu jelas korban, jelas dipihak pendemo, jelas dalam kendali aparat. Sesederhana itu seharusnya mencari sebab kematian pendemo, tidak perlu membuat narasi fiktif yang membumbung hingga ke langit.

Ingat ! Ini bulan Ramadan. Bulan paling makbul untuk berdoa, bulan dimana siapapun yang dizalimi akan diijabah doa-doanya. Berhentilah, menebar sejumlah fitnah dan tuduhan di bulan suci ini. [MO/vp].

Posting Komentar