Oleh : Sunti

Mediaoposisi.com-  Semakin hari melihat kondisi umat islam di berbagai negara semakin memprihatinkan, bagaimana tidak mereka yang tinggal di negara-negara islam di perangi oleh para musuh-musuh islam, yang tinggal di negara dimana umat islam menjadi penduduk minoritas mereka di genosida, dihabiskan keberadaannya.
Apabila diakumulasi derita umat muslim di berbagai belahan dunia akan kita dapati banyak tragedi miris menyisakan kepedihan. Seolah akal tak lagi mampu mengidentifikasi, apa sesungguhnya yang menimpa umat Muhammad ini. Hari demi hari, nyawa melayang dengan mudah tanpa alasan.
Hanya karena seseorang itu muslim, lantas layak dibunuh? Sungguh, dunia tengah mendesain peradaban primitif di tingkatan paling rendah yang mengesampingkan logika. Berikut beberapa realita derita umat muslim di berbagai negara :
Pembantaian umat islam Uyghur di China,
Pemerintah Komunis dan Fasis Cina memaksa suku bangsa Uyghur untuk menjadi komunis dan ateis. Anak-anak Uyghur dipaksa untuk berbicara bahasa Cina, berpakaian pakaian tradisional Tiongkok, mengkonsumsi makanan haram, beribadah dan sujud ke patung Confucius, menghafal arti bendera Komunis, dan akhirnya menjadi 100% berasimilasi.
Kitab suci Al-Qur’an telah dianggap sebagai buku jahat dan dibakar. Lebih dari 2 juta Muslim Uyghur dikurung di kamp konsentrasi mirip dengan gaya Nazi, di mana mereka dipaksa untuk mengutuk agama mereka dan makan daging babi, dengan dalih memerangi ekstremisme.
Bahasa Muslim Uyghur telah dilarang dari penggunaan resmi dan pendidikan, sedangkan semua buku dalam bahasa Uyghur juga dibakar. Dari 24.000 masjid di seluruh Turkistan Timur, lebih dari 20.000 di antaranya telah dihancurkan, diubah menjadi kantor-kantor pemerintah, diberikan kepada pebisnis Cina, dan berubah menjadi pusat propaganda. (Eramuslim.com/8 Mei 2018)
Pembantaian Umat Muslim di India
Lembaga pemantau kemanusiaan internasional, Human Right Watch (HRW), mengatakan bahwa sedikitnya 44 orang tewas di India dalam tiga tahun terakhir dalam kekerasan kasus penyembelihan sapi.
Pengikut Hindu India mengangap sapi hewan suci yang tidak boleh disembelih. HRW menjelaskan, sedikitnya 36 dari korban tersebut warga minoritas muslim.
Sementara korban luka-luka sebanyak 280 orang. Para korban itu jatuh dalam aksi kekerasan yang dilakukan pengikut ekstremis Hindu dengan dalih melindungi Dewa Sapi. (Kiblat.Net, 19 Februari 2019)
Pembantaian umat muslim di Rohingnya
Rohingya tidak diakui sebagai warga negara Myanmar baik oleh pemerintah maupun militer Myanmar, mereka (warga Rohingya) biasaanya disebut dengan istilah lain seperti Benggala. Operasi militer di Rakhine yang dimulai pada akhir Agustus 2017 memicu gelombang kekerasan dan pengungsian tak kurang dari 600.000 warga Rohingya ke negara tetangga Bangladesh.
Krisis kemanusiaan yang oleh PBB digambarkan sebagai salah satu yang terburuk dalam beberapa dekade terakhir dipicu oleh serangan kelompok perlawanan Rohingya terhadap beberapa pos keamanan di Rakhine.
Tindakan itu dibalas oleh operasi militer besar-besaran di kampung-kampung pemukiman etnis Rohingya, yang menurut PBB 'adalah jelas-jelas pembersihan etnik' meski dibantah oleh pemerintah dan militer Myanmar.
Mereka menyatakan apa yang mereka lakukan adalah 'memburu para teroris'. Namun kesaksian semua warga Rohingya yang menyelamatkan diri ke Bangladesh mengarah pada keterlibatan tentara dalam pembunuhan massal, yang dibantu oleh kelompok militan Budha di Rakhine.
Kesaksian ini sudah dicek ulang media dan sejumlah organisasi hak asasi manusia, yang hampir semuanya mengukuhkan kesaksian para warga Rohingya di pengungsian.(bbc.com/10 Januari 2018)
Pembantaian umat muslim di Selandia Baru
Pelaku teroris pembantaian massal jamaah shalat Jumat di Masjid Al-Noor di Christchurch, Selandia Baru, menyiarkan live streaming di akun Facebook-nya saat ia beraksi membunuh setiap orang yang dijumpainya. Rekaman video dengan akun bernama “Brenton Tarrant” tersebar cepat dan luas ke seluruh dunia, memperlihatkan gerakan si pelaku menembaki jamaah Muslim di luar dan dalam masjid.

Rekaman itu juga memperlihatkan bahwa pelaku menggunakan lebih dari satu senjata api mesin laras panjang dan tampak ahli dalam penggunaannya. Polisi Selandia Baru menyebut pelaku adalah pria kulit putih kelahiran Australia.

Pada 2018 lalu berusia 28 tahun. Dilaporkan bahwa pelaku merekam sendiri aksi pembunuhan massal itu dengan menggunakan kamera GoPro yang menempel di penutup kepalanya.

 Layaknya tentara siap perang, dia mengenakan kaos tangan kulit, bertopi dan menggunakan GPS untuk memandunya ke sasaran. Perdana Menteri Selandia Baru Jacinda Ardern mengumumkan, sebanyak 49 orang meninggal dan sedikitnya 20 lainnya terluka dalam penembakan teroris di dua masjid itu.(Mina.News.Net/15 Maret 2019)

Pembantaian Umat Muslim di Palestina
Komite Tahanan dan Mantan Tahanan, mengatakan dalam sebuah laporan yang diterbitkan pada hari Minggu, bahwa 85 persen warga Palestina yang dibunuh oleh Israel sejak awal tahun 2015; yakni 179 warga Palestina, tewas secara extra judicial(eksekusi yang dilakukan di luar pengadilan).

Dia menyatakan bahwa pasukan Israel mengeksekusi warga Palestina itu dengan ‘tangan dingin’ dan hanya berdasarkan kecurigaan, dan mengatakan bahwa pasukan militer bertindak baik sebagai hakim dan sekaligus sebagai algojo.

Komite itu mencatat bahwa berdasarkan serangkaian insiden yang didokumentasikan dan dipublikasikan, mayoritas warga Palestina, yang menyerang warga Israel atau diduga melakukan hal itu, dieksekusi oleh pasukan Israel meskipun tedapat fakta bahwa mereka tidak membahayakan secara langsung pada kehidupan warga Israel, dan menekankan bahwa pasukan militer Israel sebagai gantinya bisa saja menahan mereka.

Komite itu menambahkan bahwa sejumlah besar warga Palestina dibiarkan mati kehabisan darah, tanpa memberikan mereka pertolongan pertama yang diperlukan, atau bahkan untuk memungkinkan mereka mendapatkan akses ambulan milik Palestina kepada para korban itu. Dikatakan bahwa mayoritas warga Palestina yang terbunuh ditembak dari jarak yang sangat dekat yang dilakukan dengan niat membunuh.(MediaUmat/19 Feb) 2019

Itulah sebagian contoh pembantain yang dialami oleh umat muslim di dunia. Masih bayak peristiwa-peristiwa pembantaian lainnya, seperti di Suriah, philiphina terakhir pembantain di Mali yang menewaskan 134 muslim, korban kebanyakan perempuan dan anak-anak.
Pembantaian demi pembantaian seolah tak ada ujungnya, tak ada yang membuat mereka (musuh islam) takut, tak ada hukuman yang membuat mereka jera. Parahnya lagi para pemimpin negeri-negeri muslim pada diam, mereka hanya mengecam dan mengutuk tindakan tersebut.
Tidak ada yang berani mengeluarkan tindakan kongkrit untuk membantu mereka. Selama ini juga belum ada satu negarapun yang berani mengirimkan dan memerintahkan pasukannya untuk menyelamatkan mereka.
Mereka para pemimpin berdalih dengan alasan “itu urusan dalam negeri mereka, mereka punya hukum dan kebijakan sendiri untuk mengatasinya. Kita tidak bisa lancang ikut campur urusan dalam negeri mereka”. Apalagi PBB, perannya tak begitu memberi arti untuk umat muslim.
Solusi Islam Untuk Mengakhiri Pembantaian
Dari realitas di atas tampak jelas bagaimana gambaran penderitaan kaum muslim di dunia. Umat muslim seperti ayam yang kehilangan induknya. Bingung harus kemana mereka mengadu. Kesedihan, ketakutan, kegelisahan, kelaparan mereka rasakan sendiri.
Inilah saatnya umat islam kembali ke ajaran islam. Islam telah mengatur tentang kepemimpinan umat, hal ini sesuai sabda nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam “Sungguh Imam itu laksana perisai. Kaum Muslim akan berperang dan berlindung di belakang dia.” (HR al-Bukhari dan Muslim).
Makna kalimat “Imam itu laksana perisai” dijelaskan oleh Imam An-Nawawi, “Maksudnya, ibarat tameng, karena Imam mencegah musuh untuk menyerang (menyakiti) kaum Muslim, mencegah anggota masyarakat satu sama lain dari serangan, melindungi keutuhan Islam…”
Mengapa hanya Imam yang disebut sebagai perisai? Karena dialah satu-satunya yang bertanggung jawab. Ini sebagaimana dijelaskan dalam sabda nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Imam/pemimpin itu pengurus rakyat dan hanya dia yang bertanggung jawab atas rakyatnya.” (HR al-Bukhari dan Muslim).
Menjadi perisai bagi umat Islam pada khususnya dan rakyat pada umumnya mengharuskan seorang Imam/pemimpin kuat, berani dan terdepan. Bukan orang yang pengecut dan lemah.
Kekuatan ini bukan hanya pada pribadinya, tetapi juga pada institusi negaranya, dimana segala hukum atau aturannya berdasarkan syariat islam yang bersumber dari Al quran dan As sunnah.
Dahulu ada seorang wanita Arab yang datang ke pasarnya orang Yahudi Bani Qainuqa. Dia duduk di dekat pengrajin perhiasan. Tiba-tiba beberapa orang di antara mereka hendak menyingkap kerudung yang menutupi wajahnya.
Diam-diam tanpa diketahui Muslimah tersebut, pengrajin perhiasan ini mengikat ujung jilbabnya, dan ketika ia bangkit, auratnya seketika itu juga tersingkap. Muslimah ini spontan berteriak dan seorang laki-laki Muslim yang berada di dekatnya melompat ke pengrajin perhiasan itu dan membunuhnya.
Orang-orang Yahudi kemudian membalas dengan mengikat laki-laki Muslim tersebut lalu membunuhnya. Kejadian ini membuat kesabaran Rasulullah Shallahu’alaihi Wassallam habis.
Rasulullah Shallahu’alaihi Wassallam bersama pasukan kaum Muslim berangkat menuju tempat Bani Qainuqa dan mengepung mereka dengan ketat. Bani Qainuqa yang pongah dan sombong ini akhirnya bertekuk lutut dan menyerah setelah dikepung selama 15 hari. 
Inillah salah satu contoh bagaimana seharusnya seorang pemimpin mengambil langkah atau tindakan untuk membela dan menjaga kehormatan umatnya.
Dengan kepemimpinan islamlah satu-satunya harapan, karena kepemimpinan islam pelindung sejati umat sekaligus sebagai penjaga agama, kehormatan, darah dan harta kaum muslim. Wallahualam bishawab. [MO/ra]

Posting Komentar