Oleh : Septa Anitawati, S.I.P.
Alumni Fisipol UGM

Mediaoposisi.com-Pak Kyai Ma’ruf menyesalkan BPN menyampaikan kecurangan-kecurangan pemilu ke publik. Seharusnya cukup disampaikan ke KPU dan Bawaslu. Demikian menurut  beliau.
Apa yang dilakukan oleh BPN. Dengan mengungkapkan kecurangan pemilu di hadapan publik, tak bisa disalahkan. (Mohon maaf, saya tidak berpihak pada kubu manapun). Pasalnya, fakta kecurangan pemilu ada di depan mata. Mulai dari penghitungan suara, surat suara yang sudah dicoblos, kardus TPS yang dibakar, Kardus TPS yang hilang, tidak tersedianya kertas yang harus dicoblos, tidak adanya undangan yang mengakibatkan sebagian peserta pemilu tidak bisa menggunakan hak pilihnya. Sampai meninggalnya 570 lebih petugas KPPS. Tragis.

Hilangnya Kepercayaan Masyarakat
Mengapa BPN memilih mengungkapkan kecurangan di hadapan publik ketimbang melaporkan ke KPU dan Bawaslu. Tentu ada alasan. Kita ketahui bersama, salah satu paslon masih menduduki kekuasaan di negeri ini.  Seluruh jajaran pejabat, tak terkecuali KPU dan Bawaslu berada pada posisi yang sama dengan paslon yang berkuasa. Hal ini tidak bisa dielakkan. Jika terjadi ketidakpercayaan terhadap Pengurus pemilu itu sendiri. Karena berporos pada lingkaran kekuasaan. Dan berada pada lawan paslon.

Logis jika kepercayaan masyarakat terhadap pemerintah hilang. Tentu bagi masyarakat yang peduli, tidak akan membiarkan kecurangan demi kecurangan melenggang. Namun masalahnya, dengan cara apa masalah kecurangan ini diselesaikan.
               
Jika diselesaikan dengan system yang sama seperti sebelumnya, yakni Demokrasi. Apakah bisa diselesaikan. Karena ternyata Demokrasi itu sendiri di Indonesia dari tahun 1945 hingga kini 2019. Telah terbukti tak mampu mengentaskan masalah masyarakat dan Negara. Kondisinya semakin terpuruk.
               
74 tahun bukannya membaik situasi politik dan ekonomi. Bahkan rakyat semakin sengsara. Depresi, kriminal merajalela, mati kelaparan, krisis moral, pembunuhan bayi atau aborsi, zina, gay, lesbi, transgender, dan masih banyak lagi penyakit masyarakat. Dan tak kalah menyedihkan. Penjajah AS dan China bagaikan serigala berebut mangsa di negeri ini. Menunjukkan bahwa Demokrasi yang berasaskan Sekulerisme. Tak mampu menyelesaikan masalah.
               
Saat ini dibutuhkan keberanian untuk mengambil sikap. Keinginan untuk menjadi lebih baik. Tentu membutuhkan mental berani berubah. Berproses dengan transformasi. Namun sebelum melakukan transformasi. Kita pilih dulu system yang dijamin mampu mengubah kondisi politik dan ekonomi menjadi lebih baik.
               
Memilih Sistem Terbaik
               
Ketika kita ingin memilih system terbaik untuk negeri ini. Agar kondisi politik, ekonomi, dan moral segera terselesaikan dengan tuntas. Tanpa membawa masalah baru. Ada baiknya melihat contoh nyata saat Islam menjadi Negara super power. Mengingat Indonesia mayoritas penduduknya beragama Islam terbanyak di dunia. Dan melihat fakta yang berbeda. Saat diatur dengan system Demokrasi. Dengan diatur dengan system Islam Khilafah.
               
Misalnya pada masa pemerintahan dipimpin oleh Umar bin Abdul Aziz. Hanya dalam waktu 29 bulan. Beliau saat menjadi Khalifah, mampu mengentaskan kemiskinan. Sampai-sampai Umar mengutus utusan untuk meletakkan sekarung dinar di perempatan-perempatan jalan. Wilayah territorial Khilafah saat kepemimpinan Umar bin Abdul Aziz mencakup seluruh Jazirah Arab (Saudi Arabiya, Yaman, Oman), Syam (Palestina, Libanon, Yordania, Suriah), Irak, Iran.

Namun tidak ada seorang pun yang mengambil kepingan dinar tersebut. Saking sudah makmurnya rakyat. Terjaminnya kebutuhan pokok individu yang meliputi pangan, sandang, papan. Juga terjaminnya kebutuhan pokok public. Yakni Pendidikan, Kesehatan dan Keamanan. Gratis berkualitas. Tak kalah pentingnya adalah masalah keimanan.

Bandingkan dengan saat ini. Jangankan sekarung  dinar diletakkan di perempatan jalan. Di dalam rumahpun dicurinya. Karena Demokrasi tidak menjamin kebutuhan pokok individu maupun public. Jadilah rakyat harus mengurus urusannya sendiri. Dengan harga mencekik untuk sekedar bertahan hidup.

Ini hanya secuil contoh satu kepemimpinan politik Khilafah. Dari empat belas abad Khilafah berjaya. Menjadi mentari dunia. Dan rahmat bagi dunia. Sebagai contoh saat Amerika mengalami paceklik. Mereka minta bantuan pada Khalifah. langsung diberikan bantuan sampai mencukupi. Gratis. Tidak seperti Demokrasi Kapitalis. Mengambil keuntungan termasuk saat dunia mengalami krisis. Judulnya bantuan. Tapi faktanya hutang yang harus dibayar plus riba.

Contoh lain, Ratu Inggris yang menitipkan putri-putrinya ke Negara Khilafah. Seperti dokumen yang telah ditemukan. “Paduka yang Mulia, Sultan Iskandar Muda, kami ingin menitipkan putri-putri kami untuk belajar di negeri Tuan.”

Bagaimana dunia tidak tertarik dengan pendidikan pada masa Khilafah. Sudahlah gratis biaya hidup dan biaya pendidikannya. Diberikan beasiswa untuk penelitian. Dan diberikan imbalan untuk setiap karya tulisnya dengan emas seberat buku yang ditulisnya.

Guru yang mengajarnya juga terjamin haknya. Pada masa Khalifah Umar bin Khathab diberlakukan gaji guru 15 dinar atau senilai 31 jutaan. Tidak ada dalam sejarah system Demokrasi terjadi gaji guru sebesar itu. Dari kurun waktu 1945-2019. Yang ada adalah kedzaliman. Ketidakadilan sampai harus demo yang tidak membuahkan hasil.

Demikian juga masalah kesehatan. Ada orang dari luar Negara Khilafah penasaran. Kemudian pura-pura sakit. Masuk Rumah Sakit. Begitu masuk, taman yang indah, air mancur, menyambut. Tak kalah eloknya, perawat dan dokter juga menyambut dengan ramah tamah. “Baik, Tuan kami akan observasi kesehatan Tuan”. Semua pasien mendapatkan fasilitas VVIP. Tanpa pandang pejabat atau rakyat jelata. Muslim atau kafir. Warga Negara Khilafah atau dari manca Negara. Setelah tiga hari diobservasi, ternyata pasien tidak sakit. Hasilnya sehat. Maka perawat dan dokter segera menemui pasien. Menyampaikan hasil observasi. Dan memberikan uang untuk pulang ke rumahnya.

Apakah dalam system Demokrasi seperti ini. Tentu tidak. Yang ada, rakyat harus membayar mahal dengan peralatan dan fasilitas kesehatan yang pas-pasan. Padahal setiap bulan sudah iuran BPJS. Sudahlah bayar setiap bulan. Ditambah lagi saat harus operasi harus bayar lagi. Tidak tercover oleh BPJS. Sebagian besar mengalami kekecewaan terhadap pelayanan kesehatan. Bagi seorang muslim, bayar premi asuransi termasuk perbuatan dosa. Ditambah lagi pelayanan yang tidak sesuai dengan harapan. Apalagi terjadi perbedaan perlakuan antara pejabat dengan rakyat jelata. Dan dibuat kelas-kelas yang berbeda. Diskriminatif.

Kalau seperti ini, kenyatannya. Bagi yang waras, pasti akan memilih system Islam.

Transformasi Dari Demokrasi Menuju Islam Kaffah

Transformasi atau perubahan dari demokrasi. Tentu tak mudah seperti membalikkan tangan. Ada tiga hal yang diperlukan dalam proses perubahan. Pertama, Kesamaan Pemikiran. Kedua, Kesamaan Perasaan. Ketiga, Kesamaan Peraturan.

Pertama, Kesamaan Pemikiran. Mencakup perubahan pemahaman. Apabila kita memilih Sistem Islam sebagai tujuan perubahan. Maka pemahaman yang diperlukan adalah tentang Islam Kaffah yang dilandasi keimanan. Sebagaimana dalam QS. Al Baqarah ayat 208. Wahai orang-orang yang beriman, masuklah ke dalam Islam secara menyeluruh. Dan janganlah engkau ikuti langkah-langkah syaithan. Sesungguhnya syaithan itu musuh nyata bagimu.

Memahami Islam kaffah berarti meliputi tiga dimensi. Dimensi pertama, pemahaman terkait dengan syahadah, sholat, puasa, zakat dan haji. Dimensi kedua meliputi makan minum yang halal dan thayyib, pakaian syar’i, dan akhlaq mulia. Dimensi ketiga mencakup politik dalam negeri dan luar negeri. Termasuk system pemerintahan Khilafah, ekonomi, social, budaya, pergaulan pria dan wanita, dll.

Tiga dimensi dalam Islam Kaffah tersebut tentu berasaskan keimanan. Artinya, Agama mengatur kehidupan bermasyarakat dan bernegara. Ideology Islam sebagai dasar Negara. Berbeda dengan Demokrasi berasaskan Sekulerisme. Yakni Agama terpisah dari kehidupan bermasyarakat dan bernegara.

Kedua, Kesamaan Perasaan. Perasaan suka terhadap perbuatan yang diridhai Allah. Dan benci terhadap perbuatan yang Allah murkai. Suka dengan aksi persatuan kaum muslimin untuk membela bendera tauhid saat dibakar. Suka dengan orang-orang yang peduli umat. Membantu yang kesusahan. Menolong yang membutuhkan pertolongan. Benci dengan kebiadapan Israel yang didukung oleh Amerika Serikat untuk menghancurkan kaum muslimin di Palestina. Benci dengan euphoria kaum gay yang dibela oleh PBB. Benci dengan penista agama. Benci terhadap kemaksiatan.

Ketiga, Kesamaan Sistem.  Hal ini terkait dengan aturan yang diterapkan oleh Negara. Dalam bentuk system politik Khilafah. Yang menjamin enam kebutuhan pokok rakyat. Yakni pangan, sandang, papan, pendidikan, kesehatan dan keamanan. Juga menjamin kesejahteraan, keadilan dan kenyamanan hidup di dunia bahkan sampai akhirat. Karena 90% syariat Islam Kaffah hanya bisa diterapkan dalam naungan Sistem Khilafah. Bahkan Islam rahmatan lil ‘alamin hanya terwujud jika Khilafah diterapkan.

Perubahan Hakiki                                               

Apabila mayoritas masyarakat memiliki pemikiran yang sama tentang Islam. Memiliki perasaan yang sama. Dan juga memiliki system aturan yang sama. Maka terjadilah perubahan hakiki. Tanpa berdarah-darah.

Seperti yang dicontohkan oleh sahabat Rasulullah SAW. Mush’ab bin Umair bersama Sa’ad bin Abi Waqash. Melakukan dakwah di Madinah. Door to door dari rumah ke rumah menyampaikan Islam. Sampai terbentuk satu pemikiran. Satu perasaan. dan satu aturan atau system Islam. Bahkan Kepala suku Aus dan Khazraj  menyerahkan kekuasaan kepada Rasulullah. Mereka ingin diatur dengan system Islam.

Kemudian Rasulullah dibaiat sebagai kepala Negara berasaskan Islam. Sejak itulah system jahiliyah bertransformasi menjadi system Islam. Diberlakukan politik dalam negeri dan luar negeri sesuai hukum Islam. Yang telah Allah sebutkan dalam nash-nash Al Qur’an maupun Assunnah.

Semoga proses transformasi dari system demokrasi menuju system Islam yang rahmatan lil’alamin segera terwujud. Sebagaimana janji Allah SWT dalam QS. An Nur ayat 55. Allah telah berjanji kepada orang-orang beriman dan mengerjakan kebajikan diantaramu bahwa Allah akan menjadikan mereka sebagai penguasa di muka bumi. Sebagaimana Allah telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa. Sungguh Allah akan meneguhkan agama yang telah diridhaiNya bagi mereka. Allah benar-benar mengubah keadaan mereka setelah berada dalam ketakutan menjadi aman tenteram. Mereka tetap menyembahKu dengan tidak mempersekutukanKu dengan sesuatu apapun. Namun barangsiapa tetap kafir setelah janji itu. Mereka itulah orang-orang fasik.[MO/vp]

Posting Komentar