Rizkya Amaroddini
   (Jurnalis Media Oposisi)

     Mediaoposisi.com-  Misteri kematian petugas KPU dan saksi mata menjadi perbincangan hangat. Ada apa di balik semua ini ? Mari sejenak kita memikirkan para korban tersebut.

Mengapa semua ini bisa terjadi ? Berangkat dari agenda Nasional yakni Pemilu. Maka kita dapati bahwa tahun ini menjadi tahun penentu Indonesia akan di bawa ke mana.
Tidak hanya pencalonan sebagai presiden namun kita akan membahas dari para kandidat dalam pemilu sampai tataran ke bawah.

     Dari data menyebutkan bahwa  "Jumlah petugas KPPS yang wafat 424 orang," ujar sekjen KPU Arif Rahmat Hakim kepada wartawan, Jumat (3/5/2019).

Data tersebut per pukul 19.00 WIB. Sementara itu jumlah petugas KPPS yang sakit juga bertambah menjadi 3.668 orang, sehingga total petugas yang sakit dan meninggal dunia sebanyak 4.092 orang.

     Di sisi lain jumlah korban terus mengalami peningkatan di mana jumlah petugas KPPS yang meninggal dunia bertambah 12 orang, sedangkan sakit bertambah 10. Pertambahan ini terhitung sejak (2/5) malam.

Berikut rincian data petugas KPPS pemilu 2019 yang meninggal dunia di lansir dari detik.com :

Jawa Barat (100 orang) 
Jawa Tengah (62)
Jawa Timur (39)
Banten (21)
Lampung (18)
Sumatera Utara (14)
D.I.Y Yogyakarta (11)
DKI Jakarta (22) 
Kalimantan Barat (10)
Nusa Tenggara Timur (10) 
Riau (12) 
Sumatera Selatan (22)
Aceh (7)
Bengkulu (7)
Sulawesi Utara (7)
Kalimantan Timur (6)
Kalimantan Selatan (8)
Papua (6)
Sulawesi Selatan (5) 
Jambi (5)
Nusa Tenggara Barat (4) 
Kalimantan Tengah (3) 
Kepulauan Riau (3)
Sumatera Barat (3) 
Maluku, (2)
Bali (2)
Sulawesi Tengah (1)
Sulawesi Tenggara (1) 
Sulawesi Barat (12)
Kalimantan Utara (1)

     Saya akan mengambil contoh  Ketua KPPS TPS 07 Kelurahan Balongsari, Kecamatan Magersari, Kota Mojokerto, Subarji (54) meninggal akibat penyakit darah tingginya kambuh. 

Berangkat dari kronologi kejadian memperlihatkan bahwa pihak atasan sangat memforsir tenaga masyarakat untuk sebuah kepentingan pribadi mereka. Bagaimana tidak memforsir masyarakat, sedangkan tahun pemilu kali ini menjadi momentum siapa yang akan menjabat dan siapa yang akan menguras habis SDA dan SDM di Indonesia bahkan mungkin akan memperluas Asing dan Aseng menjajah di Indonesia.

     Butuh berapa banyak lagi korban yang akan di pertaruhkan dalam Pemilu 2019 kali ini ?
Apakah pemerintah memikirkan rakyat yang terkena musibah ? Saya rasa tidak, kalau pun peduli hanya sebatas memberi santunan namun persoalan yang krusial ini tidak di tangani.

Orang-orang yang menjabat sebagai Presiden dan Wakil Presiden, DPR, DPD, DPRD Provinsi, DPRD Kabupaten. Hanya meminta hak kepada rakyat namun melupakan kewajibannya dalam meri’ayah Umat.

     Siapa yang berani bicara lantang mengkritisi Pemerintah ? Saya rasa hanya segelintir orang. Mengapa ? Karena umat tidak berani menyuarakan kebenaran di hadapan Pemerintah. Siapa yang akan berbicara untuk mengkritisi Pemerintah maka akan di tangkap, akan di persekusi, akan di kriminalisasi.

     Wahai Umat tak perlu takut menghadapi Pemerintah. Perlu kalian ketahui bahwa adanya sebuah Negara di topang oleh rakyat. Mereka yang menjabat mengatasnamakan wakil rakyat hanyalah bullshit. Faktanya sampai detik ini tidak ada yang bisa memberikan solusi yang fundamental mengentaskan persoalan Indonesia.

     Kehidupan rakyat terlontang-lantung tidak jelas, semua akses hanya di kuasai mereka. Apakah saat mereka menjabat mengurusi rakyat ? Tidak. Jika sudah mengurusi rakyat maka tidak akan terjadi kesenjangan ekonomi, kerusakan politik, kerusakan identitas, dan kerusakan lainnya.

     Berkaca pada realita hari ini, justru mereka yang menduduki kursi kekuasaan memberikan dan mengeluarkan aturan untuk mempermudah jalan merusak Indonesia. Setiap kali saat orang-orang menyuarakan kebenaran hanya di anggap angin berlalu bahkan di hujat. Bahkan tak jarang mereka di anggap penghianat Negara.

Logikanya di mana bung !! Di saat ada rakyat yang sadar untuk mengingatkan Pemerintah justru Pemerintah mengkambing hitamkan rakyat yang menyuarakan kebenaran. Sehingga rakyat awam di luar sana percaya saja dengan logika Pemerintah yang tidak masuk akal.

     Sehingga terkuaklah bahwa Pemerintah gagal meri’ayah Umat. Fakta-fakta kematian yang di derita para korban menjadi bukti kebusukan Pemerintah dalam menjalankan tugasnya. Memang anda pikir tenaga dan fikiran rakyat hanya untuk melayani Pemerintah yang dzalim ?

     Kali ini rakyat tidak akan tinggal diam. Segala musibah yang menimpa bermula pada kedzaliman Pemerintah terhadap rakyatnya. Kerjaan Pemerintah hanya menuntut hak tapi melalaikan kewajiban yang harus di bayar kepada rakyatnya.

Inikah yang di harapkan rakyat kepada Pemerintah yang dzalim ?
Membuat hukum dengan perspektif dirinya sendiri demi menunjang keberhasilan dalam mengumpulkan pundi-pundi kekayaan.

     Maka saatnya umat sadar dan bangkit. Kalian mau di beri bukti apa sedangkan banyak bukti-bukti yang beredar di sekitar kalian. Cobalah menggunakan akal kalian untuk memikirkan segalanya. Kalian harus memikirkan keadaan Umat saat ini, jika bukan kalian maka siapa lagi yang akan memikirkan keadaan umat dan keadaan Negeri ini.

     Relakah kalian di pimpin oleh orang-orang yang berambisius kekuasaan, di depan berbaik kepada rakyat namun di belakang menusuk rakyat, relakah anak cucu kalian kelak akan mengalami hidup yang jauh lebih sengsara dari yang kalian alami saat ini ?

Jadilah orang-orang yang peduli dengan keadaan umat saat ini bukan karena kekuasaan atau kekayaan tetapi karena Allah semata. [MO/ra]

Posting Komentar