Gambar: Ilustrasi
Oleh: Kartika Linggawati, S.Pd 
(Aktivis Dakwah dan Pemerhati Media)

Mediaoposisi.com-Viralnya pemberitaan kasus korupsi dan suap yang menimpa beberapa oknum pejabat negeri telah cukup mengecewakan masyarakat. Pasalnya, kasus-kasus tersebut menimpa para oknum pejabat yang pada mulanya begitu dipercaya rakyat untuk mewakili urusan hajat hidup mereka. Beberapa kasus korupsi maupun suap ada yang dilakukan murni oleh seorang pelaku saja namun tidak sedikit dari kasus korupsi maupun suap yang dilakukan oleh beberapa orang secara tersistematis.

Kasus suap yang viral saat ini, di kota santri pun, disebut-sebut merupakan upaya menjebak salah satu oknum pejabat demi kepentingan oknum pejabat lain yang kini telah lebih dulu memasuki jeruji besi. Pihak manapun yang kemudian hari terciduk dan tertangkap, bisa dipastikan akan menyeret sejumlah nama lain yang terlibat di dalamnya.

Seperti halnya dalam sebuah film-film action, seorang penjahat ketika mendapatkan kekalahan maka tentu si penjahat ini tidak mau kalah sendirian. Si penjahat akan menarik siapa saja pihak yang pernah bersekongkol dengannya untuk menerima hukuman serupa. Kini, kita pun menyaksikan beberapa kasus korupsi maupun suap layaknya film-film action yang berubah menjadi nyata dalam kehidupan. Lantas, apa sebenarnya yang menjadikan kasus korupsi di negeri ini seolah tak berkesudahan dan membuat para pelakunya semakin "berani" bertindak?

Benarkah disamping lemahnya hukum yang menjerat para pelaku korupsi maupun suap tersebut juga karena adanya "Sang Backing" yang bermain di belakang mereka dengan sangat rapi dan terencana? Lalu, benarkah demokrasi-sekuler-materialistik sebagai sebuah sistem yang dipilih negeri ini masih layak untuk menjaga para pejabatnya agar terhindar dari tindak korupsi maupun suap?

Perolehan Kekayaan dan Kekuasaan Pintu Masuk Korupsi
Sudah menjadi rahasia umum jika pejabat di tingkat yang lebih tinggi memiliki pendapatan yang lebih tinggi. Namun, gaya hidup dan hausnya kekuasaan mampu membutakan mata hati mereka. Segala celah sempit yang akan menjadi jalan bagi tercapainya kepentingan mereka akan materi dan kekuasaan, mereka tempuh meski harus dengan cara tak beradab. Jadi jelas, hal utama yang mendorong mereka melakukan tindak korupsi tidak lain adalah pemenuhan hasrat berkuasa dan menguasai materi.

Di samping itu, sistem yang diterapkan saat ini selalu memberikan peluang bagi siapapun yang memiliki harta dan kedudukan untuk bertindak melanggar hukum. Dimulai dari diberlakukannya hak otonomi daerah bagi pemangku kebijakan di daerah tertentu yang diberikan kebebasan mengatur segala hal berkaitan dengan hajat hidup rakyat di wilayahnya dengan caranya sendiri. Bahkan, nyaris tanpa kontrol dan pengawasan ketat. Benteng keimanan, sebagai satu-satunya benteng terakhir pun, tak mampu mencegah para oknum pejabat "berani"  melakukan tindakan melanggar hukum seperti korupsi dan suap.

Sistem demokrasi sekuler-materialistis inilah yang melahirkan mental lemah dan korup. Agama tak lagi menjadi sandaran dalam bertindak dan memutuskan kebijakan. Bahkan sebaliknya, agama hanya digunakan sebagai topeng untuk menutupi kebusukan dan kejahatan tindakan mereka dalam merugikan rakyat dan negara. Inilah lumpur demokrasi yang telah menenggelamkan idealisme agama dalam diri para pejabat korup.

Demi mencapai hasrat mereka terhadap harta dan kedudukan maka tindakan menjebak kawan sendiri pun mampu mereka tempuh asalkan tujuan mereka tercapai. Ini pula kecacatan sistem demokrasi yang melahirkan relasi antar manusia sebatas kesamaan kepentingan. Hari ini, kawan bisa menjadi lawan dan esok hari lawan bisa menjadi kawan. Maka, sesungguhnya sistem demokrasi sudah tidak layak lagi untuk dipertahankan.

Revolusi Sistem Mampu Ubah Mental Korup Pejabat
Keberadaan KPK sebagai sebuah lembaga yang dipercaya mampu membasmi berbagai tindak korupsi maupun suap, terhalang oleh sebuah tirani kekuasaan. Banyak kasus korupsi yang tak terselesaikan di meja hijau bahkan beberapa di antara kasus besar korupsi pun hilang kabar bak ditelan bumi. Apa yang menyebabkan beberapa kasus itu seolah tak menemukan titik temu?Mungkinkah ada kekuatan besar di balik mereka para koruptor yang sulit untuk dipecahkan?

Inilah mengapa di awal disebutkan adanya "Sang Backing" koruptor, merekalah yang menjadi kunci pengendali tertutup rapinya misteri kasus-kasus korupsi besar di negeri ini. Artinya, masalah pemberantasan korupsi maupun suap adalah permasalahan sistemis yang membutuhkan solusi sistemis pula. Revolusi sistem adalah satu-satunya cara untuk menyelesaikan berbagai permasalahan negeri ini. Sejarah telah membuktikan bahwa pergantian rezim semata tak memberikan jaminan akan perubahan dan perbaikan terhadap negeri ini. Selama sistem yang diterapkan adalah sistem sekulerisme, selama itu pula tidak akan terjadi perubahan dan perbaikan yang diharapkan rakyat seluruhnya.

Revolusi sistem yang sudah semestinya diwujudkan oleh manusia hanyalah sistem yang berasal dari Sang Penguasa manusia yakni sistem yang berasal dari Allah Subhanahu wa ta’ala. Sistem yang tidak memiliki cacat cela dan terbukti selama belasan abad telah mewujudkan ketakwaan global di tengah-tengah umat di seluruh dunia. Sistem Islam, dengan perangkat hukum syariat yang diberlakukannya atas negara, akan mampu membina dan menjaga pribadi para pemangku jabatan dari tindakan melanggar hukum. Sanksi berat yang tegas dan membuat jera akan menjadi cambuk keras bagi siapapun pihak yang ingin menyelewengkan wewenang dan kekuasannnya ketika memimpin umat.

Jangankan melakukan korupsi besar secara sistematis. Melalaikan amanah dalam mengurusi umat, sekecil apapun, tak akan sanggup mereka lakukan karena begitu beratnya pertanggungjawaban yang akan mereka hadapi di pengadilan Sang Khaliq, Allah Subhanahu wa ta’ala. Tentu kita ingat bagaimana sosok seorang Khalifah Umar Bin Khaththab radhiyallahu ‘anhu yang menangis dalam solat malamnya hanya karena takut seekor keledai terperosok jatuh akibat jalan yang berlubang. Begitu pula, dengan sosok Khalifah Al Mu'tashim Billah yang mengirimkan bala tentaranya hanya untuk membela satu orang muslimah ketika dilecehkan Kaum Yahudi.

Begitu pula tauladan pendahulu mereka, Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa salam yang rela meninggalkan kenikmatan berdzikir usai sholat karena teringat akan lantakan emas dari harta zakat yang belum beliau bagikan untuk umatnya.

Revolusi sistem dari sistem sekuler menuju sistem paripurna yakni sistem Islam yang akan melahirkan para pemimpin seperti itu memang tidak mudah. Sebagian kalangan pun menilai hal itu adalah perkara yang terlalu utopis untuk diwujudkan dalam tatanan kehidupan saat ini. Namun, menempatkan harapan perubahan melalui penerapan sistem Islam secara kaffah sejatinya harus selalu ada terutama bagi seorang Muslim. Harapan tersebut haruslah dibarengi dengan upaya-upaya dan langkah-langkah strategis.

Upaya dan langkah tersebut tidak lain adalah dengan menjadikan metode dakwah Rasulullah sebagai satu-satunya metode yang harus ditempuh seluruh umat baik kalangan ulama, ormas Islam, kaum intelektual seperti mahasiswa, guru, dosen dan pelajar maupun kalangan militer dan berbagai profesi. Setiap dari mereka memiliki peran dan kewajiban yang sama dalam membina umat dengan pemahaman-pemahaman Islam kaffah. Upaya pencerdasan dan pembinaan keimanan serta ketakwaan inilah yang akan menjadi motor penggerak bagi umat untuk melakukan upaya perubahan.

Mulai dari perubahan berpikir dan bertindak dalam kehidupan pribadinya, dengan menjadikan Islam sebagai tolak ukur, perubahan kebiasaan umum kehidupan masyarakat dengan kebiasaan umum yang digariskan Islam, hingga saling menyatukan pemikiran dan perasaan umat Islam yang mereka miliki untuk satu visi yang sama yakni mewujudkan kekuasaan untuk menjadikan Islam sebagai satu-satunya sistem kehidupan yang layak untuk diterapkan dan mengatur mereka.

Semua itu adalah proses yang panjang dan melelahkan. Namun, itulah yang pernah ditempuh Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa salam dan para shahabat. Kini, estafet perjuangan tersebut berada di tangan kita yang mengaku umatnya Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa salam. Sesungguhnya, Allah akan memampukan kita dan menolong setiap upaya kita menolong agama-Nya. Keyakinan akan pertolongan dan janji Allah harus menjadi amunisi yang tak pernah habis yang akan membuat kita bertahan dari berbagai hambatan dan rintangan dalam penegakan syariat Allah.

Upaya dan langkah strategis ini hanya akan berhasil dilalui manakala umat seluruhnya menahan ego masing-masing dan menyatukan kekuatan untuk berjuang hingga pada akhirnya Allah menurunkan pertolongan-Nya. Dengan itu pulalah, umat akan keluar dari berbagai permasalahan dan derita di bawah kungkungan sistem demokrasi-sekuler-materialistis menuju penghidupan yang aman, tentram, dan menyejahterakan di bawah naungan sistem Islam. Maka, tak hanya permasalahan korupsi dan suap yang akan terselesaikan bahkan seluruh permasalahan umat di berbagai bidang kehidupan akan terselesaikan.

Untuk itu, bukan saatnya kita berpangku tangan dan menunggu perubahan ini turun dari langit begitu saja. Namun, upaya riil apa yang mampu kita sumbangkan untuk mencerdaskan umat dengan pemahaman Islam kaffah? Bukan malah melenakan umat dengan sikap pasrah dan mencukupkan diri dengan terpenuhinya isi perut mereka dan mengubur harapan mereka akan perubahan hakiki. Wallahu'alam. [MO/ms]

Posting Komentar