Oleh : Nasrudin Joha
Mediaoposisi.com-Sungguh setiap untaian kata, adalah konfirmasi gelora hati dan jiwa. Aku, tak akan menjadi kaum Bani Israel, Yang meminta Musa berperang, sementara mereka diam berpangku Tangan,

Aku dan kalian, Adalah Al masih dan Hawariyun, Aus dan Kazrat dengan Rasulullah SAW, Aku dan kalian, akan bersama, dalam seruan, dalam tindakan, dalam perjuangan.

Aku juga tergores, bahkan hatiku remuk redam, Jika kalian merasakan sakit, sungguh jiwaku sepanjang malam merintih,

Aku tak mungkin berpaling, menyeru kalian berada digaris depan, Menyeru kalian berada di parit-parit perjuangan, Sementara aku asyik dengan untaian kata bijak dan kalimah ukara,

Aku, lahir dan dibesarkan diantara rahim penindasan, aku merasakan betapa pedihnya di zalimi dan disakiti, aku tak mungkin mengkhianati nurani, dan Nuraniku adalah umat, dalam benaku, yang ku fikirkan adalah umat,

Sahabat, Majulah bersama, Sungguh dalam setiap detak jantung dan denyut nadi, Nafas perjuangan kita sama,

Rezim ini mampu memendam jasad kita, tapi tak akan mampu memenjara pikiran kita. Pikiran itu, akan terus menghantui rezim siang dan malam, bahkan, bukan hanya dalam kehidupan nyata, dialam mimpi pun rezim sedang ketakutan

Sahabat, kita sedang menulis lembaran sejarah. Agar kelak anak cucu kita, mewarisi Nasab ksatria, dan terbebas dari kutukan sejarah,

Kita, sedang menulis sejarah kaum pejuang, yang menolak tunduk pada kaum penindas yang zalim dan curang. Kita, sedang mempersiapkan masa depan anak cucu dengan ladang keadilan dan keberkahan, bukan membiarkan kebun masa depan dipenuhi duri kecurangan dan kezaliman,

Sahabat, tunggulah aku, di Jakartamu, Tempat labuhan, semua mimpi kita

Tunggulah aku, di Kota itu, Tempat labuhan, titik tolak perjuangan penegakan syariah Islam
Sahabat, teruslah bermunajat, untuk kita, untuk umat, agar keadilan, agar hukum Allah SWT, benar-benar dapat segera ditegakkan.
Allahu Akbar ! [MO/vp].

Posting Komentar