Oleh:
Elis Herawati
Ibu Rumah Tangga

Mediaoposisi.com-  Dikabarkan pemerintahan Jokowiakan melaksanakanproyek OBOR atau One Belt One Road yang diinisiasi oleh China.Menteri Koordinator Bidang Maritim Luhut Binsar Pandjaitan mengatakan proyek kerja sama Indonesia dan China, One Belt One Road (OBOR) atau yang dikenal dengan sebutan empat koridor, siap dilaksanakan.

Sebanyak 23 nota kesepahaman (memorandum ofinderstanding/Mou) antara pebisnis Indonesia dan Tiongkok ditandatangani setelah pembukaan KTT Beltand Forum II di Beijing, Tiongkok, Jumat (26/4/2019).

Seperti diketahui, porsi utang Indonesia pada akhir November 2018 semakin bertambah. Posisi ULN Indonesia tercatat US$ 372,9 miliar atau meningkat dibandingkan Oktober 2018 yang mencapai US$ 360,5 miliar.

Jika menggunakan asumsi kurs Rp 14.100/US$, maka posisi ULN Indonesia di akhir November 2018 setara dengan Rp 5.257 triliun. Sekarang ditambah dari 23 proyek OBOR yang diteken, nilai investasi dari 14 MoU mencapai US$14,2 miliar atau setara Rp201,4 triliun.

Tentu saja ini akan dapat memberikan kerugian bagi Indonesia.Apalagi proyek OBOR yang digagas oleh Presiden China Xi Jinping telah menuai kritik dari beberapa pihak. Pengamat dan negara penerima donor mengungkapkan proyek infrastruktur jalur sutra modern juga menjadi "jebakan utang", khususnya bagi negara berkembang.

Jika kita tinjau lebih dalam, setelah melakukan transformasi dari ekonomi sosialisme ke ekonomi kapitalisme, saat ini yang terlihat secara fisik adalah kebangkitan China yang memungkinkan China membangun ekonomi raksasa yang berkemungkinanrill untuk mengancam ekonomi Amerika Serikat di dunia.

Apalagi apabila kita melihat ambisi China dengan slogan “Asia fortheAsian” adalah retorika baru yang jauh dari sekedar kerjasama ekonomi antar negara di kawasan. China berambisi membangun berbagai insfrastrukturdi darat, pelabuhan laut, maupun bandara udara di penjuru dunia termasuk Indonesia.

Karena Indonesia merupakan jalur perdagangan dunia yang tidak pernah sepi karena terletak diantara dua benua dan dua samudera. Itulah sebabnya mengapa China secara aktif melakukan investasi dan memberikan pinjaman terutama kepada negara-negara berkembang termasuk Indonesia. Tujuannya tidak lain untuk kesejahteraan negara mereka sendiri.

Faktanya utang luar negeri cukup membahayakan negeri ini. Banyak resiko yang harus ditanggung, salah satu resiko terbesarnya adalah gagal bayar hutang. Meskipun Luhut menegaskan bukanlah utang yang harus dibayar pemerintah, namun apa dikedepannya bisa menjamin negara tidak akan rugi setelah banyak contoh cerita yang sangat mengenaskan ketikabeberapa negara gagal membayar utang kepada China.

Tetap saja negara yang dirugikan. Tidak sadarkah pemerintah bahwa utang luar negeri membuat negara pengutang tetap miskin karena terus menerus terjerat utang yang makin menumpuk dari waktu ke waktu. Utang luar negeri pada dasarnya merupakan senjata politik negara-negara kapitalis kafir barat terhadap negara-negara lain yang kebanyakan merupakan mayoritasnegeri muslim.

Tergantungnya negara kita kepada proyek OBOR China maupun kerja sama berbagai bidang lain dengan mengandalkan utang luar negeri justru menjadi alat penjajahanekomomibagi mereka dantetap saja negara pengutang menjadi pihak yang dirugikan.

Oleh karena itu proyek OBOR wajib kita tolak. Indonesia harus menjadi negara mandiri. Kemakmuran dan kesejahteraan bagi seluruh rakyat dapat diwujudkan dengan syarat penguasa negeri ini dengan dukungan semua umat harus berani menerapkan system khilafah untuk mengatur semua aspek kehidupan masyarakat, khususnya dalam pengelolaan ekonomi yang saat ini sudah kacau.

Syariat Islamlah jalan untuk Indonesia lebih baik. Bukan terus menerus mempertahankan kapitalisme sekularismeyang justru merugikan rakyat dan negara.

Wallohu’alam Bi Shawwab. [MO/ra]

Posting Komentar