Oleh : Nasrudin Joha

Mediaoposisi.com-Akhirhya Eggi Sudjana ditahan atas kasus dugaan makar. Makar, adalah istilah yang paling 'keren' akhir akhir ini. Istilah makar juga pernah mashur pada aksi 411, sejumlah tokoh saat itu ditangkap atas dugaan makar, sampai saat ini tidak jelas kasusnya. Hanya dilepas begitu saja, tidak ada sidang tidak ada peradilan.

Pada kasus now, Eggi ditetapkan tersangka gara-gara meniupkan terompet 'people power'. Gerakan 'mengkritik capres curang' oleh polisi Vijay Amaraj dianggap sebagai menggulingkan kekuasaan, melawan penguasa yang sah.

Kalau dilihat konstruksi hukum, Eggi benar bahwa kritik terhadap capres bukanlah makar. Bahkan, kritik terhadap Presiden juga bukan makar.

Tapi ditangan inspektur vijay, apa yang tidak mungkin ? Sejak dahulu dikenal adagium 'tangkap dulu, bukti belakangan'. Makar atau tidak makar, terserah penenggak hukum. Mereka yang punya wewenang untuk menafsirkan pasal, menyimpulkan tersangka dan memutuskan ditahan.

Soal benar salah biar nanti dipengadilan, paling tidak untuk 20 (dua puluh) hari Kedepan Eggi bisa dibungkam. Kalau belum cukup, penenggak hukum bisa menambah 40 hari lagi untuk ngandangin Eggi.

Paling tidak orang orang seperti Eggi ini tidak memantik pergerakan lebih besar, menjelang 22 Mei 2019. Pola pergerakan masih patron klen, jika simpul 'dimatikan' harapannya juga akan mematikan pergerakan secara keseluruhan.

Siapa lagi setelah Eggi ? Yang jelas, menurut dukun-dukun hukum di tim asistensi Wiranto, telah ada 13 nama yang dibidik. Romli telah membocorkan diantaranya.

Yang sudah mengantri di panggilan polisi, ada Luis sungkarisma, Kivlan Zen, UBN dan Ust Haikal. Adapun HRS, sulit karena posisinya di luar negeri. Amien Rais cukup punya gerbong besar, terlalu beresiko jika mau ikut dikandangkan.

Itu nama yang sudah dibocorkan oleh Romli, adapun yang belum boleh jadi lebih banyak lagi. Jika pun penjara harus dipenuhi ulama dan aktivis Islam, demi syahwat kekuasaan nampaknya rezim tidak peduli lagi.

Sekarang tinggal kalian wahai umat Islam. Relakah ulama terbaik umat ini ikut dikriminalisasi ? Akan diamkah kita melihat putra-putra terbaik umat satu persatu dibungkam ?

Akankah kita diam dan berpatah arang, karena beberapa tokoh simpul umat ini dikriminalisasi ? Atau kita tetap akan teguh, menuntut hak atas keadilan dan kebenaran ?

Sekali tidak tetap tidak ! Kita tidak akan menyerah, meski akan kehilangan banyak tokoh dan ulama lagi. Kita akan tetap berdiri kokoh, hingga memastikan keadilan dan kebenaran benar-benar telah ditegakkan. [Mo/vp

Posting Komentar