Gambar: Ilustrasi
Oleh: Lusi Damayanti, S. Kom

Mediaoposisi.com-Tepat pada tanggal 18 April 2019, sutradara Garin Nugroho mulai memutar film “Ku Cumbu Tubuh Indahku” di sejumlah bioskop Indonesia. Film ini menceritakan tentang seorang pemuda yang mengalami banyak kejadian, seperti kehilangan orang tuanya hingga membuatnya hidup kesendirian, dan berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat yang lain, hingga hal ini menimbulkan banyak trauma. Film ini mendapatkan banyak penolakan karena sangat mengandung unsur perilaku LGBT.

Sekarang ini, banyak karya seni yang mengangkat kisah para perilaku LGBT ke dalam cerita, film, gambar, dan lain sebagainya. Dengan berlandaskan kisah-kisah dimasa lalu, peristiwa-peristiwa kekerasan fisik, diskriminasi, trauma yang dialami sejak kecil, hingga mengakibatkan seseorang menjadi perilaku LGBT atau menyimpang seksualnya.

Hal ini sangat mengkhawatirkan dan membuat kita harus waspada dan mencegah segala hal yang akan mengakibatkan tindakan di luar batas kewajaran. Karya-karya seni tersebut berlandaskan
kemanusiaan, yang awalnya kita sebagai penonton atau pembaca, akan merasakan empati dari
cerita-cerita tersebut.

Dan, perlahan-lahan akan menerima tindakan perilaku LGBT karena kita akan mulai terbiasa berpikir bahwa para perilaku LGBT tersebut memiliki alasan atau trauma di masa lalunya hingga mengakibatkan perubahan pada dirinya yang sekarang ini. Selanjutnya, kita akan menganggap tindakan LGBT sebagai hal yang biasa dan wajar.

Rasa empati terhadap sesama manusia itu sebuah keharusan, sesama manusia harus saling peduli, harus saling membantu. Namun, membenarkan perilaku LGBT itu adalah tindakan yang salah. Jika seseorang mengalami trauma akan peristiwa masa lalu yang menyakitkan maka bantu ia untuk mengatasi rasa traumanya dengan cara yang baik bukan malah mendukung penyimpangan seksualnya. Itu akan semakin membiarkannya melakukan hal yang salah.

Sebenarnya tidak masalah dalam berkreasi, menghasilkan karya seni merupakan hal sangat luar biasa, apalagi jika seni tersebut dapat dinikmati banyak orang. Namun, tetap harus memperhatikan norma-norma agama dan bermasyarakat. Dalam berkreasi, tetap ada batasan agar tidak saling mengganggu.

Hal ini dapat terjadi karena adanya sistem sekuler, yang memisahkan agama dengan kehidupan, melanggar segala aturan atau norma-norma kemanusiaan dibolehkan asalkan mendapatkan keuntungan. Mengatasnamakan kebebasan berekspresi, kebebasan menyukai sesama jenis dalam lindungan kata-kata hak asasi manusia.

Sesungguhnya, hal itu justru membuat dasar-dasar kemanusiaan telah hilang. Karena, dari segi kejiwaan pun mengatakan bahwa LGBT merupakan hal yang menyimpang juga dapat menimbulkan penyakit kelamin.

Sistem sekuler yang berkembang saat ini telah merugikan banyak pihak dan hanya menguntungkan beberapa pihak. Justru, syariat Islam yang banyak ditentang sebenarnya malah mendukung rasa kemanusiaan, memanusiakan manusia.

Namun, syariat Islam dianggap aturan yang mengekang. Bukan mengekang, justru syariat Islam sudah sesuai dengan fitrahnya manusia. Dalam Islam, membolehkan namanya cinta namun pelaksanaannya harus sesuai dengan fitrahnya manusia.

Dan, disahkan dengan pernikahan antara laki-laki dan perempuan. Tujuan diciptakannya manusia ialah untuk memperbanyak keturunan. Jika adanya penyuka sesama jenis maka tujuan dari menciptakan manusia tadi, tidak akan tercapai.

Nah, hal ini dapat menjadi inspirasi bagi para pegiat seni. Bahwa dalam menciptakan sebuah karya seni dapat memperhatikan asas kemanusiaan yang sesungguhnya. Membuat kisah-kisah mengharukan tentang diskriminasi, bukanlah hal yang salah.

Namun, mendukung perilaku LGBT adalah tindakan yang keliru. Berkarya bukan hanya mementingkan keuntungan, tapi berkarya lah untuk untuk sebuah harapan tanpa mengesampingkan agama dalam kehidupan, tanpa mengesampingkan rasa kemanusiaan yang sesungguhnya. [MO/ms]

Posting Komentar