Oleh : Nasrudin Joha
Mediaoposisi.com-Setelah mengunggah manuver politik melalui bidak pion AHY, akhirnya SBY tampil langsung secara percaya diri meneguhkan diri sebagai bagian dari rezim. Tanpa rasa malu, SBY mengunggah ucapan selamat pada 'kemenangan' rezim.

Tentu, ucapan ini tak pernah lepas dari bagian manuver politik untuk merapat ke kubu rezim, setelah mengutus putra mahkota sebagai duta partai berkunjung ke istana rezim. SBY, segera tampil 'penuh pesona' memberi ucapan selamat kepada rezim atas kemenangan yang berdiri tegak diatas 600 bangkai nyawa KPPS. Kemenangan diatas tumpukan korban aksi 21-22 Mei.

SBY Tak pernah mengungkit ihwal kecurangan yang terjadi, nyawa KPPS yang gugur, bahkan terhadap korban nyawa remaja pada aksi 21-22 Mei. SBY tutup mata, mengunci empati, menutup telinga atas kabar duka yang mendera rakyat.

SBY lebih asyik mengarahkan pandangan pada istana, mengincar salah satu atau beberapa kursi kekuasaan, baik untuk trah politik putra mahkota, atau untuk eksistensi partai dalam kabinet. SBY paham, kursi itu memiliki harga. Dan harga yang harus dibayar SBY tentu jauh lebih mahal ketimbang harga kursi yang diperuntukkan bagi Golkar, Nasdem, PPP atau PKB.

SBY tidak pernah berkeringat untuk memenangkan Jokowi, bahkan partai SBY justru berkoalisi dengan Gerindra, meski akhirnya juga meninggalkan mitra koalisi dalam keadaan terluka parah.

Sejak kampanye 02 di GBK, SBY mulai mencicil harga kursi itu, dengan menuding kampanye 02 tak lazim dan tak inklusif. Kali ini, cicilan harga kursi itu kembali dibayar SBY dengan mengunggah ungkapan 'selamat' kepada Jokowi sebagai 'pemenang' Pilpres 2019.

SBY juga ikut sibuk menuding pihak-pihak tertentu menghalangi pertemuan Prabowo - Jokowi. SBY, tak berani mengusik kecurangan dan kejumawaan Jokowi yang membuat Prabowo enggan berkomunikasi.

Lantas, Kemana suara SBY untuk 600 nyawa KPPS yang meninggal ? Mana statement SBY untuk korban aksi damai menuntut pemilu curang diadili ? Apa empati SBY bagi rakyat, yang selama rezim berkuasa terus dizalimi ?

Politik SBY justru mengungkap apa sebenarnya yang menjadi visi trah politik Cikeas. SBY memang tidak peduli pada nyawa 600 KPPS yang meninggal, tidak peduli dengan korban penembakan yang meninggal dan luka luka pada aksi 21-22 Mei. SBY hanya peduli pada putera mahkota, klan politik dan masa depan partai di 2024.

Sudahlah, memang sulit mencari politisi yang benar-benar ikhlas berjuang bersama umat. Mereka yang merasakan denyut nadi dan detak jantung Umat. Mereka, yang selalu menangis dan tertawa bersama umat.

SBY, AHY, tak mungkin bisa menjadi harapan umat. Mereka, hanya peduli terhadap keberlangsungan dinasti politik dan partai mereka, mereka memang tak pernah peduli terhadap umat. Karena itu, wahai umat, tidak usah ragu untuk meninggalkan siapapun yang tak peduli dengan nasib dan penderitaan umat. [MO/vp].

Posting Komentar