Oleh: Mahrita Julia Hapsari, M.Pd*

(Praktisi Pendidikan)

Mediaoposisi.com-Sebuah video singkat berisi pernyataan Prof. Mahfud M.D seketika menjadi perbincangan netizen. Komentarnya seperti memecah belah komponen yang ada di masyarakat. Dengan penyebutan provinsi garis keras dalam hal agama, di beberapa provinsi yang Prabowo menang.

Tak berapa lama, muncul cuitan sang profesor untuk mengklarifikasi dan menjawab pertanyaan netizen tentang makna garis keras. Dalam cuitannya, Pak Prof MD menjelaskan bahwa adalah hal biasa untuk menyebut Islam garis keras kepada yang fanatik atau kuat agamanya. Biasa pula dalam penyebutan islam moderat, lanjutnya. Namun netizen terlanjur bereaksi. Apapun penjelasan sang Profesor, bagi netizen hal tersebut sangat melukai rasa keberagamaan dan juga mencederai kebhinekaan.

Sudah tebal telinga umat muslim dengan label Islam garis keras, fundamentalis, ekstrimis, hingga teroris. Sekelas Prof MD, masih tak bisa memahami bahwa label tersebut adalah cara penjajah mengkategorikan umat muslim. Dengan kategori-kategori tersebut, penjajah bisa menentukan sikap terhadap umat muslim yang dijajahnya.

Dahulu, ketika perang kemerdekaan, penjajah Belanda menyebut ektrimis kepada para pejuang kita. Kompeni Belanda juga memberi label radikal kepada para ulama dan santri yang menggelorakan jihad untuk melawan penjajah. Kepada mereka yang mau bekerja sama dan berkompromi, maka penjajah Belanda akan memberikan mereka jabatan dan kedudukan.

Sebuah dokumen dari Rand Corporation (RC) yang berjudul Building Moderate Muslim Networks menambah bukti bahwa label-label tersebut adalah dari musuh-musuh Islam. RAND Corp adalah Pusat Penelitian dan Kajian Strategis tentang Islam di Timur Tengah atas biaya Smith Richardson Foundation, berpusat di Santa Monica-California dan Arington-Virginia, Amerika Serikat (AS).  Dia adalah lembaga think tank Amerika untuk memetakan kelompok serta pengaruhnya di dunia khususnya bagi kepentingan Barat.
Dalam dokumen tersebut, Komunitas Internasional membagi Umat Islam ke dalam empat kelompok, yaitu: fundamentalis, tradisional, modernis, dan liberalis. Lengkap dengan definisi, status dan cara menghadapinya.
Fundamentalis adalah kelompok masyarakat Islam yang menginginkan penerapan syariat Islam dan penegakkan khilafah serta anti nilai-nilai Barat (demokrasi)  dan kritis terhadap pengaruh barat. Terhadap kelompok ini, Barat memberi status "berbahaya". Untuk menghadapi kelompok ini, RC merekomendasikan untuk wajib dimusuhi karena musuh Barat.

Modernis adalah kelompok masyarakat Islam yang anti syariah dan Khilafah serta pro pada nilai-nilai Barat (demokrasi) dan kritis terhadap pengaruh Barat. Terhadap kelompok ini, statusnya "aman". Perlakuan yang direkomendasikan RC kepada Barat terhadap kelompok ini adalah menjadikan mereka sebagai kawan Barat dan merangkulnya.

Liberalis adalah kelompok masyarakat Islam yang anti syariah dan khilafah, menerima seluruh nilai-nilai Barat dan mendukung sepenuh hati. Barat akan terus membesarkan kelompok ini karena mereka adalah antek Barat. Status mereka pun "aman" bagi Barat.

Tradisional adalah kelompok masyarakat Islam yang ingin menerapkan syariah dan pro khilafah. Namun menerima pula nilai-nilai Barat (demokrasi) dengan sikap yang kritis terhadap pengaruh Barat. Oleh karena kemiripan antara tradisional dan fundamentalis, maka RC merekomendasikan Barat untuk "waspada" dan menjauhkan kelompok ini dengan fundamentalis.

Stigmatisasi intoleransi, radikalis fundamentalis, ekstrimis, garis keras, hingga teroris kepada kelompok Islam yang dinilai anti terhadap Barat. Sebaliknya, kepada kelompok yang dinilai pro Barat, akan dicitrakan sebagai kelompok toleran, moderat, santun, ramah, dan lembut.

Memberi stigma garis keras pada suatu provinsi tersebab kuat keimanan rakyatnya, maka seketika itu runtuhlah prinsip sila ke-3 Pancasila dalam dirinya. Bagaimana bisa terjadi persatuan jika ada sekat-sekat dengan stigma tersebut.

Jargon Saya Pancasila akhirnya hanyalah pencitraan. Sejatinya, perangkap Barat sedang membelitnya. Terjebak dengan stigmatisasi ala Barat. Mengkerdilkan yang lain dan mengagungkan kelompok lainnya lagi.

Inilah pentingnya kita mengetahui konstelasi politik dunia. Kedudukan Amerika sebagai negara pengusung ideologi kapitalisme, menempatkannya sebagai negara pertama. Negara super power. Negara penentu kebijakan dunia.

Alamiahnya, takkan mungkin dua atau lebih ideologi bisa menguasai dunia dalam satu waktu. Untuk itu, segala cara akan dilakukan oleh negara pengemban ideologi kapitalisme demi mengokohkan hegemoninya. Amerika sadar betul, ancaman terbesar untuknya saat ini adalah kembalinya kesadaran umat muslim. Kesadaran umat muslim  bahwa agama dianutnya bukan hanya sebatas agama, namun juga sekaligus ideologi.

Jika kesadaran umat muslim kembali, maka akan terbongkar semua konspirasi Barat. Takkan tersisa secuil pun rasa bangga ketika mengadopsi pemikiran Barat. Demokrasi akan tercampakkan. Ekonomi ribawi akan ditinggalkan. SDA dikembalikan ke rakyat.

Ukhuwah Islamiyah di atas aqidah Islam menjadi ikatan yang kokoh. Bersatulah pemikiran dan perasaan umat Islam di atas landasan aqidah menuntut diterapkannya aturan Islam. Maka semenjak itu, akan tegak institusi Khilafah yang dengan segera menumbangkan kekuasaan kapitalisme di muka bumi.

Semoga umat muslim tersadar, khususnya yang berlabel kaum intelektual, ada politik devide et impera. Politik pecah belah dibalik stigma-stigma tersebut. Dan Barat adalah dalang utama para wayang yang teriak "saya pancasila", padahal berotak kompeni.[MO/vp]

Posting Komentar