Oleh : Al Azizy Revolusi 

Mediaoposisi.com-Pesta demokrasi telah berlalu. Banyak orang larut di dalamnya. Tak terkecuali mereka yang mengaku muslim. Mereka berlomba menjajakan diri agar mendapat perhatian publik. Harapannya, pas pemilu, namanya dicoblos dan terpilih sebagai wakil rakyat.

Semua energi telah dicurahkan pada masa kampanye lalu. Ketika rakyat muak dengan tingkah laku para calon wakil rakyat, mereka justru disalahkan. Mereka dipaksa menggunakan hak pilihnya. Bahkan ada yang mengeluarkan fatwa golput haram. Mereka yang tidak menggunakan hak pilihnya dituduh macam-macam, padahal tindakan mereka itu tak melanggar undang-undang.

Yah, memang banyak jurus mabuk dipakai saat ini. Siapa yang salah, siapa pula yang disalahkan. Calon wakil rakyat yang tidak layak dipilih, eh malah yang disalahkan rakyat yang tidak mau memilih. Coba kalau calon wakil rakyat kompeten dan layak, pasti tanpa perlu disuruh-suruh rakyat berbondong-bondong memilihnya.

Demokrasi, Racun yang Mematikan

Umat Islam telah dibodohi bahwa seolah tidak ada sistem lain di luar demokrasi. Pilihannya seakan-akan kalau tidak demokrasi ya diktator. Padahal, masih ada sistem yang luar biasa di luar demokrasi yakni sistem Islam. Itulah sistem yang dicontohkan oleh baginda Nabi Muhammad Shalallahu alaihi wasallam dan diteruskan oleh para Khulafaur Rasyidin serta para Khalifah berikutnya selama berabad-abad lamanya.

Sistem ini sengaja disembunyikan oleh penjajah. Sistem ini sangat berbahaya di mata Barat karena bisa menjadi alternatif sistem demokrasi Barat yang terbukti rusak dan cacat. Dan lebih dari itu, sistem Islam akan menjadi adidaya yang lahir kembali dari tidur panjangnya.

Maka melalui berbagai cara Amerika Serikat sebagai adidaya dunia saat ini mencegah setiap kebangkitan yang terjadi di dunia, termasuk kebangkitan Islam. Salah satunya dengan memaksakan demokrasi. Sebuah buku berjudul: 'America's Deadliest Export Democracy' karya William Blum yang diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dengan judul: 'Demokrasi: Ekspor Amerika paling mematikan' mengungkap hakikat demokrasi tersebut.

Dalam buku tersebut, William Blum menyebut Amerika tak jarang menggunakan kekuatan militernya untuk melumpuhkan lawan-lawannya. Demokrasi menjadi alat yang cukup efektif untuk mendominasi dunia. Lihatlah bagaimana Amerika menyerang Irak atas nama kebebasan dan demokrasi.

Dalam kasus Indonesia, Amerika merampok kekayaan alam Indonesia atas nama penanaman modal Asing sebagai produk demokrasi. Jejak intervensi Amerika ini bisa terbaca dalam setiap rezim. Pergantian rezim satu dengan rezim yang lain tak lepas dari kendali Amerika. Tak heran jika malah rezim-rezim penguasa tersebut mengokohkan perusahaan asing untuk terus beroperasi di Indonesia. Tentu melalui undang-undang produk demokrasi yang kian liberal.

Walhasil, demokrasi yang katanya untuk kepentingan rakyat tak pernah terbukti secara fakta. Demokrasi menjadi alat para kapitalis -dalam dan luar negeri- untuk mewujudkan kepentingan mereka atas nama konstitusi. Produk-produk hukum liberal lahir dari tangan wakil rakyat. Jadi semuanya seolah legal.

Khilafah, pengganti Demokrasi

Selama sistem demokrasi dipertahankan, maka selama itu pula kehancuran sebuah negara akan terjadi. Bisa saja rezimnya berganti tapi perubahan jauh panggang dari api. Maka hanya ada satu solusi bagi perubahan yang hakiki, yakni tinggalkan demokrasi. Pertanyaannya, kalau bukan demokrasi? Jawabannya ada, sistem islam yaitu Khilafah.

Sistem ini terbukti unggul. Berabad-abad lamanya sistem ini diterapkan, berbagai kemajuan didapatkan. Peradaban dunia dari kegelapan berubah menjadi terang. Karena semua yang diterapkan dalam sistem tersebut adalah buatan Allah Subhanahu Wa Ta'ala, yang Maha Benar dan Maha Adil. Sistem ini mampu mengayomi seluruh manusia tanpa kecuali. Hanya dalam sistem Khilafah, Syariah Islam bisa diterapkan secara kaffah.

Secara empiris, Khilafah sudah terbukti dan diakui oleh orang Barat sendiri. Secara, menerapkan syariah Islam secara kaffah dalam sistem Khilafah adalah kewajiban bagi setiap orang yang mengaku muslim. Maka, tak ada jalan lain selain memperjuangkan tegaknya khilafah yang akan menggantikan demokrasi.[MO/vp]

Posting Komentar