Oleh: Mochamad Efendi
Mediaoposisi.com-  Petahana pihak yang sedang berkuasa mempunyai kesempatan besar untuk mengambil simpati rakyat dengan memberikan bukti nyata yang bisa langsung dirasakan rakyat kecil. Petahana harusnya tidak hanya mengumbar janji manis yang tidak terbukti yang akan menjadi bumerang bagi dirinya sendiri.
Banyak janji tapi tidak ditepati membuat rakyat jadi tidak simpati. Banyak rakyat muak dengan pencitraan yang mengobral prestasi padahal tidak satupun yang bersentuhan dengan kepentingan rakyat kecil tapi keinginan asing dan aseng menjadi pertimbangan utama.
Dimana posisi rakyat untuk petahana tergantung dari bagaimana dia memimpin selama 5 lima tahun, pro-rakyat atau konglomerat, memperjuangkan aspirasi rakyat atau amanat asing-asing. Jika selama lima tahun dia sungguh mengurusi rakyat bukan hanya slogan dan janji, pasti rakyat akan mendukung petahana dengan suka rela dan kesungguhan hati.

Namun faktanya saat Petahana ingin berkuasa lagi, rakyat sudah tidak menginginkannya lagi. Rakyat tidak
meneteskan air mata kesedihan jika petahana tidak memimpin lagi. Bahkan bisa jadi banyak rakyat merasa lega dan bahagia jika petahana dengan rela meninggalkan kursi kekuasaan dan rela a digantikan dengan yang lebih baik.
Tapi keinginan berkuasa petahana begitu kuat sehingga tidak tanggap lagi dengan aspirasi rakyat bahkan rakyatpun harus dilawan dan dijadikan musuh yang akan menghalangi langkah petahana untuk terus berkuasa.
Berbagai carapun dilakukan untuk mengambil simpati rakyat. Mulai dari pencitraan yang menipu sampai dengan memainkan birokrasi untuk menjamin kemenangan petahana dalam mempertahankan kekuasaannya.
Opini dibangun dengan berbagai survei seolah- olah rakyat mendukungnya. Hasil survei menunjukkan petahana menjadi pemenangnya. Bahkan hasil quick count, juga menunjukkan angka kemenangan yang sama.
Dan berlanjut pada real count, KPU juga menunjukkan hasil yang tidak jauh berbeda. Tetapi, rakyat kecewa dengan hasil yang ditunjukkan atas kemenangan petahana. Rakyat merasakan dan menyaksikan indikasi kecurangan yang begitu kuat dimainkan oleh petahana sekuat keinginannya untuk berkuasa.
Bau kecurangan sudah mulai tercium sejak menjelang pemilu, tapi pihak KPU dan Bawaslu tidak mau tahu. Banyak laporan kecurangan hanya dianggap hoax yang dianggap akan mengacaukan jalannya pemilu.
Bahkan ide people power dianggap ancaman bagi petahana yang ingin terus berkuasa. Aspirasi rakyat dianggap angin lalu dan terkadang diperhatikan sebagai ancaman dan musuh yang harus dimusnahkan.
Kecuranganpun terus berlanjut sampai pada proses pemilu dan penghitungan suara real count di KPU. Lagi-lagi rakyat merasakan dan melihat ada indikasi kecurangan yang kuat, usaha menggelembungkan suara untuk petahana oleh tangan-tangan yang tidak menginginkan petahana kalah.
Sungguh rakyat dibuat kecewa hasil real count KPU yang seolah-olah dipaksakan sama dengan hasil survei maupun quick count. Namun rakyat semakin cerdas dan mengamati ada indikasi kecurangan yang kuat untuk memenangkan petahana.
Petahana akhirnya harus berhadapan dengan rakyat karena ambisinya yang ingin terus berkuasa namun telah menyia-nyiakan kesempatan untuk mengurusi rakyat agar dapat simpati mereka. Sekuat apapun keinginan petahana mempertahankan kekuasaannya, akhirnya akan jatuh juga jika rakyat tidak mendukungnya.
Sudah banyak bukti rezime dzalim dan otoriter akhirnya jatuh oleh kekuatan rakyat. Jika itu terjadi sangat menyakitkan karena sejarah akan mencatat petahana sebagai rezime yang tidak diinginkan rakyat. [MO/ra]

Posting Komentar