oleh : Restiana
(Komunitas Mahasiswi Jambi Menulis)

Mediaoposisi.com-  Awal Ramadhan seharusnya menjadi momen yang menggembirakan bagi kaum muslimin, namun tidak dengan warga Gaza. Mereka diliputi was-was karena gempuran rudal dari militer Israel dalam beberapa hari terakhir. Gaza ku sayang, Gaza ku Malang, Gaza kembali berduka. Sejak sabtu, (4/5) Israel menggempur Gaza melalui serangan tank dan rudalnya. Hal itu dilakukan dengan dalih serangan balasan terhadap Gaza.

Milisi Palestina memang menembakkan roket ke wilayah yang diduduki Israel. Empat WN Israel tewas akibat roket yang ditembakkan dari kawasan Gaza, tiga di antaranya adalah militer.

Sumber Kesehatan Kementerian Gaza mengatakan tiga dari enam korban tewas itu adalah bayi Palestina berusia 14 bulan dan ibunya yang sedang mengandung. "Pesawat Israel menembakkan rudal di dekat rumah dan pecahan peluru memasuki rumah, menghantam bayi kami yang malang," kata kerabat ibu dari bayi itu, Ibtessam Abu Arar, dilansir Reuters. (Kumparan.com).

Israel berhasrat untuk meluaskan wilayahnya ke seluruh Palestina. Ini merupakan harapan yang sudah terpatri sejak berdirinya Negara Israel pada zamannya Theodore Hertzl. Syahwat penjajahan yang mereka terus kembangkan selama ini adalah untuk merebut ‘Tanah Yang Dijanjikan’ dalam doktrin zionisme. 

Melihat kondisi ini sebagai muslim kita marah, sedih dan kecewa. Tetapi masih ada optimis dalam diri ini. Bahwa dunia ini memang sedang menuju perubahan kepada Islam.

Dibalik Ikatan Nasionalisme, terdapat Perjanjian dengan Penjajah!

Ikatan Nasionalisme pada dasarnya adalah ikatan yang lemah. Salah satu kelemahannya adalah ketidakmampuan mempersatukan manusia secara permanen. Penderitaan Umat di penjuru Negeri tak kunjung usai. Uighur menjerit, Suriah masih bersimbah darah, Rohingya dan Palestina masih menangis.

Mereka semua adalah saudara kita, saudara ibarat satu tubuh, jika mereka tersakiti dan hak-hak mereka dirampas harusnya kita juga merasakan penderitaan mereka. Dengan adanya skat Nasionalisme menjadikan kaum Muslim tidak bisa membantu saudaranya, besar tapi  tidak berpengaruh, bagaikan buih dilautan.

Puncaknya, pada 29 November 1947, PBB mengumumkan persetujuan berdirinya negara Israel yang diamini oleh AS, dengan wilayah Israel yang meliputi 55% tanah palestina, yang diikuti dengan deklarasi pendirian negara Israel oleh PM pertama David Ben-Gurion, yang segera melakukan pengusiran dan pembunuhan lebih besar lagi kepada kaum muslim di Palestina. Dan setelah itu, hingga hari ini, Israel dengan brutal menginvasi hampir seluruh wilayah Palestina.

Lantas dimana para Pemimpin negara Islam yang berkumpul dalam Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Luar Biasa Organasasi Kerjasama Islam (OKI). Yang beranggotakan 57 negara Muslim. Mereka hanya bisa mengecam dan mengutuk.

Kutukan dan kecaman yang selama ini dilontarkan oleh pemimpin-pemimpin negeri tanpa mengirimkan bantuan militer tak akan mampu menyelesaikan masalah Palestina. Selama ini negara-negara OKI tidak pernah mengirimkan tentara-tentaranya untuk membantu permasalahan Palestina, padahal masalah palestina hanya bisa diselesaikan dengan senjata karena musuh juga menggunakan senjata.

Telah terbukti ternyata selama ini OKI hanyalah terdiri dari negara-negara yang pemimpinnya berkhidmat kepada kepentingan Barat. Penguasa Arab, Mesir, Yordan, bahkan Turki juga berhidmat dan tunduk kepada AS sebagai tuannya. Sudah bukan rahasia bahwa mereka hanyalah boneka yang digerakkan AS.

Arab Saudi merupakan pembeli senjata perang terbanyak buatan AS, tetapi tidak pernah menggunakannya untuk kepentingan kaum muslim. Mesir mempunyai universitas paling terkenal di dunia Islam, tetapi memfatwakan jihad dan mengirim tentaranya saja tidak mampu. Perlu kita tahu sebagaimana yang diberitakan The Times yang menyatakan Israel dan Arab saudi sedang melakukan kerjasama bidang ekonomi dalam skala kecil termasuk mengizinkan perusahaan Israel beroperasi di Teluk dan maskapai Negeri Bintang Daud El Al menyambangi wilayah udara Arab Saudi (merdeka.com)

Ramadan, saatnya mewujudkan kemuliaan Umat dibawah Naungan Islam!

Permasalahan Palestina adalah bukan sekedar permasalahan Kemanusiaan, yaitu tidak terpenuhinya hak-hak penduduk Palestina. Tapi akar permasalahan di Palestina adalah perampasan tanah Palestina (tempat suci kaum muslimin: Masjid al-Aqsha. QS. Al Isra’[17]; 1) oleh Yahudi. 

Jika negeri-negeri muslim ini masih terpecah belah, maka permasalahan Palestina dan Israel takkan bisa terselesaikan. Tak ada negara yang mampu dengan real membantu Palestina berjuang melawan musuh-musuhnya. Peduli terhadap saudara seiman-nya bukan didasarkan atas manfaat namun karena kita saudara yang satu tubuh.

Maka seharusnya negara-negara Islam bersatu menyerukan jihad untuk memerangi kaum zionis yahudi. Tidak lagi terkotak-kotak dalam sekat nasionalisme yang hanya akan mementingkan individu saja. Jihad tak bisa dilakukan tanpa ada satu komando dari seorang Pemimpin. Maka dalam Islam pemimpin yang akan menyerukan jihad adalah khalifah. Maka seorang khalifah hanya ada dalam institusi khilafah. [MO/ra]

Posting Komentar