Oleh : Ayyatul.S.N
Mediaoposisi.com-  Gaza kembali membara. Tampak nyata Israel tidak memberikan ketenangan untuk melewati Ramadhan kali ini. Diiringi dengan dentuman bom, kepulan asap serta rentetan peluru yang meluluhlantahkan bumi Palestina.
Pasukan Israel dan gerilyawan Palestina terus melancarkan serangan dalam tiga hari belakangan. Beberapa orang tewas dan beberapa lainnya terluka. (m.cnnindonesia.com)
Hamas organisasi Islam Palestina menembakkan lebih dari 250 roket ke kota-kota dan desa Israel pada Sabtu (4/5), Israel melancarkan serangan balasan dengan tembakan dari tank dan serangan udara yang menewaskan empat warga Palestina.
Jonathan Rieck, direktur ruang gawat darurat di Pusat Medis Barzilai di Ashkelon, mengatakan mereka telah merawat sekitar 80 orang, sebagian besar karena gejala syok, tetapi beberapa dengan luka di badan, termasuk seorang pria lanjut usia yang berada dalam kondisi kritis akibat cedera kepala. (m.kumparan.com)
Diberitakan AFP, hingga Minggu (5/5) malam, roket Israel terus menghantam kawasan Gaza. Akibatnya 23 warga Gaza meninggal dunia. Termasuk di antaranya seorang perempuan yang sedang mengandung dan seorang bayi. Serangan dari tank dan rudal udara Israel mulai menggempur Gaza sejak Sabtu (4/5). Militer negara zionis itu berdalih serangan dilakukan sebagai bentuk balasan. (m.kumparan.com)
Ramadhan pilu harus dilewati umat islam di jalur Gaza. Mereka sahur di dunia tanpa ada yang tahu harus berbuka di surga. Santapan sahur dan berbuka dilalui rasa was-was akan serangan Israel yang membabi buta. Adakah sedikit saja bantuan pasukan ke sana oleh negeri-negeri Islam? Tidak ada!.
Penderitaan saudara muslim di depan mata namun negeri-negeri muslim memilih buta. Rintihan umat islam di Gaza tidak didengar. Mereka tuli dengan semuanya. Negeri-negeri Islam hanya berlindung dengan ungkapan kecaman dan mengutuk serangan Israel namun tak ada tindakan nyata. Kebijakan negeri-negeri islam dibelenggu ikatan nasionalisme semata.
Keadaan saat ini berbeda dengan dulu saat al-Junnah (perisai) berdiri. Yakni keberadaan Khilafah yang menjadi benteng pertahanan kaum muslim, sekaligus pelindung dari berbagai serangan.
Sejarah pembebasan Palestina memiliki cerita. Karena Al-Quds memiliki keistimewaan di setiap hati muslim. Al-Quds adalah kiblat pertama umat islam sebelum ka’bah. Negeri ini memiliki sejuta sejarah yang penting untuk umat islam.
Pertama kali Al-Quds dibebaskan saat kepemimpinan Umar bin Khattab. Saat itu pada masa kerajaan Romawi (Yunani), Palestina atau disebut Yerusalem. Dipimpin oleh Uskup Patriach Soprhonius simbol tertinggi dari kepemimpinan di Yerusalem. Sebelum sampai pada pembebasan Yerusalem Umar bin Khattab memiliki strategi cerdas untuk menaklukan Yerusalem dengan cara pengepungan.
Memulai pembebasan dari sebelah utara Palestina lalu selatan Palestina hingga barat Palestina daerah Caesarea yang dipimpin Artavon. Artavon meminta bantuan hingga terbentuk pasukan Byzantium dibawah komandonya.
Di sisi umat Islam pasukan Amr dan Yazid yang akan berduel. Terjadi peperangan hebat, atas izin Allah pasukan Islam dimenangkan. Artavon melarikan diri ke Yerusalem dan menemui Uskup Patriach agar tidak menyerahkan Yerusalem kepada Islam. Sementara itu Islam tengah mengepung kota Yerusalem selama musim dingin berlangsung.
Uskup Patriach berbeda dengan Artavon yang ingin menyerahkan Yerusalem dengan damai. Adapun syarat nya dengan menyerahkan “Kunci Kota” langsung kepada khalifah Islam yaitu Umar bin Khattab. Sejarah singkat pembebasan Al-Quds ini pertama kali dengan jalan Damai tanpa ada pertumpahan darah di Yerusalem.
Pembebasan kali kedua Al-Quds oleh Yusuf bin Ayyub, atau dikenal sebagai Shalahudin Al Ayyubi. Tepat pada 2 Oktober 1187 M atau tanggal 27 Rajab 583 H  kembali pada Daulah Islam. Sebelum membebaskan Al-Quds Shalahudin terlibat dalam peperangan Hittin yang dapat memuluskan pembebasan Al-Quds. Dalam peperangan Hittin pasukan Islam menggempur habis pasukan salib hingga tunggang langgang juga kocar-kacir. Yang dimenangkan Islam atas izin Allah.
Strategi Shalahudin Al Ayyubi yang cerdas, usaha-usaha keras Shalahudin dalam menyatukan umat Islam, keyakinan yang tinggi akan pertolongan Allah yang membuat pasukannya dapat membebaskan Al-Quds. Semua itu atas izin Allah yang memenangkan pasukan islam. Berserah diri dengan usaha yang maksimal.
Dua kisah pembebasan Palestina yang indah, yang saat itu memiliki Junnah (perisai). Namun, kali ini ramadhan tanpa junnah, Gaza kembali membara. Jalur Gaza, Palestina sedang menunggu, untuk pembebasan ketiga kali. Umat muslim harus berjuang agar Junnah dapat kembali ditegakkan. Sehingga bumi Palestina dapat dibebaskan dari cengkraman Zionis Laknatullah.
Ramadhan ini penderitaan muslim Gaza berlangsung di depan mata, tanpa ada yang mampu menolong.  Negeri-negeri Islam dengan penguasa muslim yang sudah terbelenggu ikatan nasionalisme dan memiliki perjanjian rahasia dengan penjajah dan pendukungnya. Membuat muslim terlihat seperti singa yang tertidur. Sehingga musuh-musuh Islam berani menganiayanya.
Bangun wahai singa yang tertidur, momen Ramadhan semestinya membuat semakin bersemangat untuk kemuliaan umat dan mendirikan Junnah Islam agar terwujudlah persatuan hakiki di bawah naungan Islam.
Waallahu’alam bishowab. [MO/ra]

Posting Komentar