Gambar: Ilustrasi
Oleh: Gusniawati 

Mediaoposisi.com-Euphoria demokrasi telah usai. Namun, bukan secercah harapan kemenangan yang nampak melainkan semakin menambah panjang kegelapan yang dirasakan oleh masyarakat. Bagaimama tidak, pemilu yang menghabiskan dana fantastis, yaitu sebesar 25,59 triliun (m.detik.com), tak berarti penyelenggaraan pemilu berjalan lebih baik dari tahun-tahun sebelumnya.

Sepanjang penantian keputusan KPU pasca pemilu serentak 2019, berguguran para korban dalam menjalankan tugasnya sebagai kelompok penyelenggara pemungutan suara (KPPS). Data per tanggal 4 Mei 2019 pukul 16.00 WIB, tercatat jumlah korban jiwa mencapai 440 jiwa. Para elit politik saling mengklaim kemenangan untuk 01 maupun 02. Aroma kecurangan dalam pilpres 2019 ini demikian kentara.

Melalui quick count, opini publik hendak digiring bahwa pemenang pilpres adalah paslon 01. Selanjutnya, rekayasa dilakukan dalam tahap rekapitulasi mulai dari tingkat kecamatan yang dilakukan dengan penambahan suara untuk paslon 01 dan sebaliknya pengurangan suara untuk paslon 02. Bila tahap ini berhasil, selanjutnya adalah rekap di kota/kabupaten dan provinsi. Puncaknya nanti saat rekap tingkat nasional, paslon yang dimaksud dipastikan menang dengan persentase sesuai dengan hasil quick count.

Muncul pertanyaan, ada apa sebenarnya? Mengapa begitu kuat upaya untuk mencurangi hasil pilpres 2019 ini? Siapa yang punya kepentingan di balik itu? Jawabnya adalah para pemilik modal besar dan korporasi berkepentingan memenangkan paslon 01 agar mereka tetap leluasa melanggengkan penjajahan sistemik baik di bidang politik, ekonomi, maupun sosial budaya.

Jika demikian kisruhnya pemilu dalam demokrasi, masihkah kita percaya perubahan hakiki akan terlahir dari sistem yang bobrok ini? Tentu tidak, jika kita mau membuka mata, akal, dan hati. Perubahan hakiki tidak akan lahir dari system yang rusak meski berkali-kali ganti presiden. Yang terjadi hanyalah berganti pemimpin namun tidak dengan sistemnya maka sia-sialah perubahan tersebut. Meskipun memang tidak dipungkiri ada pemimpin yang sholeh namun tidak akan mampu membawa perubahan yang hakiki.

Menurut Ustadzah Rezkiana, Perubahan hakiki dalam pandangan Islam adalah perubahan menuju penerapan syariah Islam secara kaaffah dalam institusi Khilafah. Artinya, perubahan hakiki menyangkut perubahan rezim dan sistem. Bukan perubahan pada rezim saja karena kita sudah punya banyak pengalaman panjang yang mestinya diambil pelajaran. Bahwa pergantian rezim hanya menghasilkan wajah tanpa perubahan pada kebijakan sedikitpun.

Dulu, rezim Orde Baru mengangkat isu perubahan untuk menumbangkan rezim Orde Lama. Langkah ini juga diikuti rezim Orde Reformasi untuk mengakhiri rezim Orde Baru dengan isu utama mengganti rezim korup dan memperbaiki ekonomi yang sedang krisis. Orde Reformasi sejak awal hingga rezim terakhir ini, menjual resep mujarab perubahan. Namun faktanya, korupsi jalan terus bahkan lebih masif, perekonomian masyarakat masih tetap terpuruk, dan kebijakan pemerintah tetap mengabdi kepada para kapitalis sang pemilik modal. Rezim saat ini pun persis sama dengan rezim-rezim sebelumnya yang menjalankan kebijakan liberal, yakni lebih pro-pasar (kapitalis) ketimbang pro-rakyat.

Perubahan hakiki mesti mencakup dua hal, yaitu rezim dan sistem. Upaya ini telah dilakukan oleh Nabi ketika hendak menerapkan Islam sebagai sebuah ideologi. Tengoklah sejarah dakwah rasullullah di Mekkah dan di Madinah. Pada tahap di Mekkah, Rasul melakukan proses pembinaan masyarakat dan interaksi (dakwah Islam) dengan masyarakat bahkan para pejabat kaum Quraisy namun para pejabat quraisy tidak menerima bahkan membenci dakwah rasul hingga pada akhirnya Rasulullah hijrah dan menerapkan islam secara kaffah di Madinah karena suku Aus dan Khazraj bersedia dipimpin oleh Nabi tanpa syarat apapun.

Hampir 13 abad setelah hijrah, umat merasakan perubahan hakiki. Namun pada tahun 1924, peradaban Islam hancur di tangan Mustafa Kemal laknatullah dan sampai saat ini, sebagian umat dengan dakwahnya masih memperjuangkan tegaknya kembali Islam kaffah. 

Di bulan Ramadhan ini, seharusnya menjadi ajang untuk bertafakur dalam melihat realitas yang terjadi. Begitu banyak pahala yang Allah berikan namun kita tidak bisa meraihnya dengan optimal dikarenakan masih banyak hukum-hukum Allah yang terabaikan. Selain itu, Bukankah kita senantiasa berdo’a: Rabbanaa aatinaa fid dunya hasanah, wa fil aakhirati hasanah, wa qinaa ‘adzab an-naar.  

Dan do’a itu akan terkabul tatkala kehidupan kita diatur dengan syari’ah Islam. Karena, penerapan Syari’ah akan mewujudkan dua surga, surga dunia dan surga abadi di akhirat. Karenanya, seluruh elemen masyarakat, penuhilah panggilan Allah dan Rasul-Nya. Tatkala Ia memanggil kalian untuk segala apa yang akan menghidupkan kalian. Kemulian umat ada di pundak kita. [MO/ms]

Posting Komentar