Oleh : Reni Rosmawati
Member Akademi Menulis Kreatif Regional Bandung


Mediaoposisi.com-  "Bulan puasa adalah bulan yang mulia, pembentuk iman yang bertakwa, siapa yang siap berlaga, maka syurga akan menyambutnya di alam baka". Itulah sebait kata-kata mutiara yang menggambarkan kemuliaan Ramadhan dan balasan terbaik yang dapat diraih dari bulan Ramadhan.

Ramadhan adalah bulan suci, bulan istimewa bagi umat Muslim di seluruh penjuru dunia, bulan diwajibkan nya puasa, yang tentu akan menghantarkan orang yang berpuasa meraih derajat takwa. Hal ini sebagaimana firman Allah SWT dalam Al-Qur'an surat Albaqarah [2]:183;


"Hai orang-orang yang beriman, telah diwajibkan atas kalian berpuasa sebagaimana puasa itu pernah diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian agar kalian bertakwa." (T.Q.S. Albaqarah [2]:183)

Selain bulan diwajibkannya ibadah puasa, Ramadhan adalah bulan yang bertabur dengan pahala yang berlipat ganda juga sebagai bulan pengampunan bagi dosa-dosa, bulan dimana pintu-pintu syurga dibuka, dan pintu-pintu neraka ditutup serta syaitan-syaitan dibelenggu.

Rasulullah SAW pun menegaskan bahwa Ramadhan adalah Sayyid Syuhur yakni penghulu semua bulan dimana 10 hari pertama adalah bulan penuh rahmat, 10 hari kedua adalah bulan penuh pengampunan dan 10 hari terakhir adalah pembebasan dari api neraka. Ramadhan juga adalah bulan yang didalamnya ada satu malam yang lebih baik dari 1000 bulan. Itulah "Lailatul Qadar".

Namun tahukah, selain bulan yang bertabur pahala, ternyata Ramadhan juga adalah bulan Jihad, bulan perlawanan, perjuangan dan kemenangan. Hal ini sebagaimana yang tertoreh dalam konteks substansi ajaran dan sejarah Islam.

Seperti suksesnya perang Badar, penaklukan kota Mekkah, perang Qadisiyah mengalahkan Persia, menghancurkan Romawi di Tabuk, Siracusa, maupun Manzikert, penaklukan Andalusia, kekalahan Tartar Mongol oleh Sultan Qurtuz, kemenangan Salahuddin al Ayubbi atas pasukan Salib Jerusalem hingga sukses nya Mesir mengalahkan Israel. Semuanya itu terjadi di bulan Ramadhan.

Bila kita berkaca pada sejarah besar umat Islam terdahulu dengan berbagai kegemilangan yang diraih pada bulan Ramadhan, hal ini tentu saja menohok kita saat ini. Kenapa demikian? Pasalnya saat ini umat muslim justru menyikapi Ramadhan sebagai hal yang biasa seolah tidak ada keistimewaan di dalamnya.

Ramadhan kali ini lebih banyak diwarnai dengan hal yang seakan bertentangan dengan syariah Islam. Bahkan tingkat kriminal dan kejahatan semakin merajalela di bulan Ramadhan. Hal ini dipicu oleh faktor ekonomi yang kian sempit di tengah-tengah masyarakat, pasalnya ketika memasuki bulan Ramadhan apalagi menjelang lebaran biaya hidup kian melambung tinggi, harga sembako tak kunjung turun ditambah lagi pemerintah seolah abai akan hal ini. Inilah yang terus terulang dari tahun ketahun tanpa pernah ada perubahan. Ini membuktikan bahwa pemerintah telah gagal dalam mensejahterakan umat.

Ramadhan seharusnya menjadi junnah yakni perisai individu agar senantiasa terjaga ketaatan dan terjaga dari kedurhakaan. Namun sayang nya justru hal sebaliknya lah yang terjadi saat ini. Ramadhan saat ini justru diwarnai berbagai kericuhan, dan pertumpahan darah antara sesama umat muslim.

Sebagai salah satu contoh adalah kericuhan yang terjadi pada 21 Mei 2019 kemarin yang bertepatan dengan pengumuman hasil pemilu dan pileg. Rakyat yang tidak setuju dengan keputusan KPU akhirnya melakukan demo besar-besaran kepada pemerintah, berharap pulang membawa perubahan,  namun bagai buah simalakama demo masyarakat pun akhirnya meninggalkan duka mendalam karena harus berhadapan dengan aparat kepolisian hingga menyebabkan terjadinya banyak korban jiwa hingga meninggal dunia.

Sungguh miris, umat yang ingin menuntut keadilan dari penguasa justru pulang membawa derita. Inilah wajah Demokrasi sekularisme-kapitalisme yang sudah jelas kebobrokannya dan berharap perubahan dari nya hanyalah angan-angan. Masihkah mau bertahan?

Berbeda dengan sistem Demokrasi, dalam Islam Ramadhan tak hanya bertujuan mewujudkan keshalehan individu tapi juga keshalehan umat, karena hakikat takwa adalah mewujudkan ketaatan pada seluruh aturan Islam baik terkait individu, keluarga, masyarakat dan negara.

Jika takwa adalah buah dari puasa Ramadhan yang dilakukan oleh setiap mukmin, maka idealnya usai Ramadhan setiap muslim dan mukmin berupaya untuk menjalankan setiap perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya. Tentu dengan mengamalkan seluruh syariah nya tanpa terkecuali baik terkait akidah, ibadah, ubudiah, muamalah, maupun uqubat (sanksi).

Ditengah sistem kehidupan sekuler yang tidak menerapkan aturan Islam secara kaffah saat ini, kaum muslim tentunya membutuhkan pemimpin yang bisa menjadi junnah bagi umat yaitu pemimpin yang benar-benar bisa mewujudkan hikmah dari puasa Ramadhan yakni takwa hakiki dalam seluruh aspek kehidupan.

Karena derajat takwa hakiki ini hanya dapat diraih dengan satu-satunya jalan yaitu penerapan syariah Islam secara kaffah dalam bingkai khilafah ala minhaj an-nubuwwah. Niscaya ketenangan, ketentraman, kemuliaan Ramadhan akan dapat kita rasakan.

Maka sudah sepantasnya Ramadhan ini kita jadikan momentum untuk meraih dan mewujudkan aturan Allah secara total dalam seluruh aspek kehidupan sebagai wujud ketaatan dan ketakwaan kita secara total kepada Allah SWT.


Wallahu 'alam bi ash-shawab [MO/ra]

Posting Komentar