Oleh : Shela rahmadhani

Mediaoposisi-22 Mei kemarin umat islam melakukan unjuk rasa di gedung Bawaslu RI dalam rangka menuntut keadilan atas kecurangan pilpres. Aksi ini sebenarnya sudah diwacanakan sebelum pengumuman hasil pemilu oleh KPU. Bahkan wacana atau isu  adanya people power jika pemilu curang juga menjadi santer. Salah satunya diserukan oleh tokoh yang mendukung paslon 02 yakni Prof. Amien Rais yang merupakan mantan MPR RI dan sekaligus pioner people  power pada tahun 1998 bersama mahasiswa dalam rangka menurunkan Suharto dan mengganti rezim orde baru menjadi era reformasi. Namun, lagi lagi tidak ada perubahan yang signifikan dari perubahan masa dari Orba ke Reformasi melainkan hanya sebuah pergantian rezim.

Bicara tentang people power sebenarnya ini adalah sebuah teori perubahan yang berasal dari ideologi sosialis yang muncul dari asas pandangan mereka terhadap kehidupan. People power adalah melakukan perubahan secara mendasar maupun parsial yang dilakukan dengan kekuatan manusia  dengan massa besar besaran, baik secara fisik yakni kudeta militer  atau non-fisik berupa tuntutan dan pemaksaan untuk   mengambil kekuasaan atau pemberhentian penguasa . People power mulai dikenal sejak adanya revolusi Perancis melawan  dan menumbangkan  pemerintah monarki feodal Perancis dan diktator Raja Louis XVI serta mengganti asas dari kedaulatan Tuhan menjadi kedaulatan rakyat. People power yang tersebut dilakukan oleh ekstrimis sayap kiri (radikal sosialis) yang berasal dari kalangan masyarakat akar rumput yakni kalangan buruh dan petani. 

Begitu pula dengan adanya revolusi Rusia menggulingkan pemerintahan Tsar Rusia dan mendirikan Uni Soviet. Revolusi Rusia terbagi menjadi 2 tahap  dan bermuara pada terbentuknya  negara sosialis-komunis pertama. Revolusi tahap 1 masih belum memberikan efek signifikan, namun revolusi tahap yang dipimpin 2 oleh Vladimir Lenin dari partai boulsevik mengantarkan pada perubahan tatanan Rusia menjadi corak marxisme [sosialis komunis]. Sehingga jelas bahwa people power adalah sebuah teori kebangkitan, dan perubahan revolusioner yang berasal dari pemahaman sosialis komunis memandang kehidupan. People power bukanlah cara perubahan yang shohih, justru teori perubahan seperti ini bertentangan dengan fitrah manusia.

Adapun hari ini people power mengalami perluasan makna menjadi perkara yang bersifat gerakan massa secara besar-besaran yang tidak asasi seperti  menuntut dan menurunkan penguasa dengan kekuatan manusia dianggap people power. Misalnya Arab Spring, dan Reformasi 1998. Meskipun demikian keberadaan people power yang terjadi di Indonesia atau Arab tetaplah bukan sebuah cara yang shohih. People power bukan berasal dari ajaran islam dan bukan metode kebangkitan yang shohih. Jadi, momentum bulan Ramadhan yang dijadikan masyarakat sebagai cara untuk mengubah Indonesia secara revolusioner dengan menuntut hasil pilpres yang adil adalah sebuah cara yang tidak mengantarkan kepada perubahan yang hakiki. Karena sejak awal asas berjuang masih dalam format memperjuangkan demokrasi dan pemimpin yang menyelenggarakan demokrasi. Jika people power berhasil hasilnya pasti tidak akan membawa efek signifikan terhadap perubahan masyarakat seperti reformasi 1998. Karena sudah salah sejak dari asasnya.

Ditengah-tengah umat juga akan dikenal sebuah perubahan dengan gerakan sosial, perjuangan masuk ke dalam parlemen. Penulis fikir ini juga tidak akan bisa mengantarkan pada kebangkitan yang hakiki dan perubahan yang hakiki.

Perubahan yang hakiki adalah perubahan yang revolusioner dan asasi (mendasar). Perubahan yang haikiki  dan mendasar bagi umat islam adalah bagaimana islam dapat tegak menjadi pengatur kehidupan, berubah dari menerapkan hukum jahiliyah menjadi menerapkan hukum Allah secara kaffah oleh negara (instansi. Hari ini umat islam dizalimi  dan mengalami keterpurukan dan hak-hak mereka dirampas serta tujuan-tujuan kehidupan  (maqosyid syar’i) mereka tidak terealisasi karena islam tidak diterapkan. Keberadaan syariat yang mengatur rakyatlah yang akan menjadikan masyarakat mendapatkan tujuan tujuan kehidupannya dan mendapatkan keadilan secara pasti bukan hanya janji kosong. Syariat islam adalah yang menghantarkan pada kesejahteraan hidup. Oleh karena itu, perubahan yang hakiki yang harus difahami oleh umat islam haruslah perubahan yang benar. 

Perubahan ini berdasarkan perilaku Rasulullah. Rasulullah SAW sejak diutus adalah dalam rangka menerapkan islam secara kaffah. Tak heran dalam kehidupan Rasulullah akan terlihat bahwa seluruh hidupnya adalah dakwah menyerukan iman kepada Allah dan taat pada seluruh syariat Allah. Hingga akhirnya Rasulullah mendapatkan sebuah negeri yang siap menerapkan islam secara kaffah yaitu Madinah. Maka sejak itu, islam berkembang pesat menjadi penguasa dunia dengan tetap pada misinya untuk memperluas dakwah mengajak pada iman dan ketaatan kepada aturan Allah SWT. Jadi bukan target perubahan parsial seperi keadilan ekonomi, keadilan hukum, dll, melainkan perubahan mendasar yang mengantarkan pada keadilan menyeluruh.

Untuk merealisasikan tersebut maka haruslah diperhatikan bagaimana Rasulullah SAW mewujudkan daulah Madinah. Rasulullah SAW menempuh perubahan dengan metode thoriqoh ummat (jalan umat).

Metode jalan umat adalah metode satu-satunya yang dicontohkan oleh Rasulullah SAW.  Rasulullah senantiasa melakukan dakwah fikriyah (dakwah pemikiran) bersama kutlah (kelompok) nya  ditengah-tengah masyarakat dan mencari pertolongan kepada umat yang memiliki kekuatan untuk memberikan kekuasaan kepada Rasulullah tanpa syarat. Dakwah fikriyah adalah proses pencerdasan umat dengan islam meliputi masalah akidah dan mua’lajah (penyelesaian masalah kehidupan) hingga sekelompok umat memahami islam, akalnya tercerdaskan dan dengan sendirinya dengan suka rela, dengan keridho’an memberikan kekuasaan kepada Rasulullah untuk menerapkan islam atas mereka. Tanpa kekerasan. Kekuasaan itu datang dari Aus dan Khajraj dan mereka memberikan kekuasaan kepada Rasulullah adalah dengan proses kerelaan dan kesadaran. 

Demikianlah hari ini, seharusnya perubahan yang dituju oleh umat islam adalah perubahan untuk menerapkan islam secara kaffah dalam sebuah instansi (negara) bukan hanya menuntut keadilan parsial. Dan metode untuk mewujudan itu semua wajib merujuk kepada Rasulullah. Metode Rasulullah dalam melakukan perubahana dan meraih kekuasaan untuk menerapkan islam adalah thoriqoh ummat bukan dengan kekerasan (people power). Dan, melalui Ramadhan ini, perubahan menuju tegaknya islam semoga bisa terwujud. Maka, dakwah untuk mewujudkan instansi yang menerapkan syariah secara kaffah (khilafah) harus terus disuarakan dan digemakan di tengah-tengah umat sehingga umat sadar, terlebih ini di bulan Ramadhan.
Jazakumullahu khoir.[MO/AS]

Posting Komentar