Gambar: Ilustrasi
Oleh: Nena Fatimah

Mediaoposisi.com-Bagaimana shaum kita sampai hari ini? Bagaimana Ramadhan di negeri mayoritas muslim ini? Memang, kita patut bersyukur bahwa di Indonesia kita masih bisa khusyuk menjalankan ibadah di bulan Ramadhan. Sampai hari ke lima belas ini, sebagian kaum muslimin di Indonesia ada yang "asyik" larut dalam suasana ibadah, menambah investasi amal sholeh, namun tak sedikit yang melewatkan Ramadhan hanya seperti rutinitas biasa.

Suasana ibadah dan potret kemaksiatan berjalan bergandengan. Kemudahan beribadah justru tak seiring dengan tujuan takwa dari shaum ramadhan. Jalan maksiat tetap dibuka lebar sementara jalan takwa justru dipersempit oleh penguasa negeri. Syariat secara menyeluruh (kaffah) sebagai wujud takwa justru malah di persekusi, dikriminalisasi, bahkan dicap radikal atau teroris.

Ramadhan tahun ini, seperti pada tahun-tahun sebelumnya, kaum muslimin di tanah air disuguhi banyak tayangan yang melenakan di televisi. Di sisi lain, ada juga acara edukatif sejarah namun entah sengaja atau tidak, justru muncul pada jam-jam bukan prime time, tentang sejarah jejak kejayaan islam yang penuh kegemilangan dan rasa takjub! Namun sayang, tak banyak yang bisa mengambil pelajaran (ibrah).

Tausiah-tausiah di mesjid-mesjid dan televisi, lebih banyak membahas shaum pada kesolehan individu atau ukhuwah yang sempit. Bahkan, ketika jamaah bertanya apa yang harus kita lakukan untuk saudara kita di Palestina? Jawaban sang ustadz cukup hanya menyalurkan bantuan melalui organisasi kemanusiaan… Ya, hanya itu jawabannya.

Pada akhirnya, malah menggiring umat pada keterlenaan yang semakin parah. Padahal, hakikat shaum adalah membangun kepekaan sosial, kesolehan ideologis yang menyentuh kesadaran untuk menyelesaikan akar masalah dunia, dan kepedulian sesama muslim yang tak mengenal batas wilayah, ras, agama, dan bangsa.

Sungguh Ironis! Di sekeliling kita, anak-anak begitu riang bermain petasan, kembang api, bahkan tawuran yang membuat kegaduhan di malam-malam Ramadhan. Padahal di bumi Gaza sana, pada saat yang sama, anak-anak, remaja, dan pemuda, "tawuran" melawan entitas yahudi Zionis Israel, hanya bermodalkan batu dan keyakinan pada Allah Subhana hu wa ta’ala. Di Gaza, bukan sekedar bunyi mercon dan petasan, mereka berjuang di tengah desing peluru dan bom!

Hidup saudara-saudara kita kaum muslimin di Gaza begitu jelas. Tak ada orientasi lain selain hidup mulia dengan Islam atau syahid.

Kita kehilangan hampir 600 jiwa anggota KPPS yang tak berdosa, menjadi tumbal demokrasi, korban tragedi kemanusiaan pesta demokrasi yang sia-sia, akibat mekanisme curang dan ketidakadilan yang brutal. Kematian mereka tetap misteri, tak jelas sebab dan tujuannya. Sebaliknya, bara di Gaza yang juga menelan nyawa akibat kebrutalan israel, kematian mereka begitu jelas, terang sebab, dan tujuannya. Muslim Indonesia terlatih untuk menutup mata dan telinga, atau pura-pura tak peduli dengan saudara-saudara kita di negeri yang diberkahi yaitu Baitul Maqdis Palestina, tepatnya di jalur Gaza yang sampai detik ini terus membara meskipun sudah memasuki pertengahan Ramadhan. Tak ada reaksi apapun dari penguasa negeri muslim terbesar ini.

Berita terakhir, 26 rakyat sipil Palestina kembali menjadi syahid. Sebagian besar korban jiwa adalah anak-anak. Sungguh biadab! Israel melakukan banyak pelanggaran kemanusiaan brutal di hadapan mata dunia, khususnya mata dunia Arab yang notabene saudara sesama muslim!

Tapi dunia diam… kemana HAM?! Mana reaksi PBB?! Atau malah OKI (Organisasi Konferensi Islam)?! Warga sipil yang tak berdosa, yang kebanyakan anak-anak, menjadi korban karakter barbar penjajah kapitalisme. Mungkin, di antara anak-anak yang syahid di antara mereka ada yang tengah berlatih shaum. 

Pernahkah terbayang oleh kita? Ketika kita di sini lapar dan dahaga namun masih punya harapan berbuka dengan deretan kuliner yang menggugah selera. Namun, anak-anak dan warga muslim di Palestina, jangankan berharap berbuka dengan hidangan istimewa, nyawapun entah sampai atau tidak di saat maghrib. Mereka sahur hanya dengan seteguk air di dunia dan berbuka dengan kebahagiaan akhirat mendapat rahmat di sisi Allah.

Apa yang dapat kita lakukan demi saudara kita? Demi bagian tubuh kita yang terluka? Israel, atas dukungan AS, kian arogan apalagi setelah pemindahan ibukota ke Yerusalem. Saudara-saudara kita di Palestina tak cuma butuh doa kita di sini, mereka juga tak cuma butuh bantuan kemanusiaan termasuk diplomasi dari menlu atau presiden Indonesia sebagai negeri mayoritas muslim terbesar di dunia.

Toh selama ini, diplomasi Indonesia dianggap lemah, ompong tak memiliki bargaining position dalam tata dunia global. Logikanya, kekuatan fisik harus dihadapi oleh kekuatan fisik, strategi dilawan strategi. Bagaimana melakukan perlawanan?

Berharap pada siapa? Para pemimpin negeri-negeri muslim? Selama ini, bombardir mesiu dari jet-jet pesawat tempur israel buatan Amerika Serikat terus menggempur rumah-rumah, sekolah, rumah sakit, penduduk sipil, semua itu bagi bangsa Arab tak lebih hanya hiburan layaknya mercon dan petasan. Kaum muslimin lemah, pemimpin mereka adalah boneka Barat.

Mereka sibuk oleh sekat nasionalisme dengan urusan nasional masing-masing. Kaum muslimin tak lagi punya perisai atau junnah pelindung. Sebagaimana shaum ini adalah perisai melawan hawa nafsu dan maksiat. Khilafah dengan kedigdayaannya bisa kita lihat jejak sejarah dan digitalnya dengan mudah. Tapi, entah apa yang ada di benak para penguasa muslim dan kaum muslimin?

Begitu mudahnya menghukumi kekhilafahan radikal, teroris, intoleran...?? Miris!!... butuh akal sehat dan kejujuran untuk memahami semua ini. Dunia begitu sengsara menderita dan bertahan dengan kebobrokan demokrasi kapitalis. Mereka yang buta sejarah dan tak mampu mengambil pelajaran yang tentunya merasa takut khilafah. [MO/ms]

Posting Komentar