Oleh: Nisa NM
Mediaoposisi.com-  Ramadhan adalah bulan yang istimewa bagi kaum muslimin.  Semua bersukacita menyambutnya dan berharap dipanjangkan usia untuk sampai padanya. Sebagian ummat Islam bahkan telah menyiapkan berbagai rencana kegiatan bersama keluarga. Mengisi hari-hari dengan amal sholih dalam suasana khusyu dan tenang.
Namun tidak demikian dengan saudara-saudara kita di Palestina. Jalur Gaza menyambut Ramadhan dengan suasana mencekam. Suara bising rudal dan misil, jeritan dan tangisan, darah, jenazah. Tak kurang 19 orang telah menjemput syahidnya, termasuk wanita hamil dan bayi mungil berusia 4 bulan (www.cnnindonesia.com). Pasalnya,Israel mengarahkan moncong senjatanya ke arah pemukiman sipil, setelah sebelumnya terus mempersempit ruang gerak warga Palestina di Jalur Gaza.
Perdana menteri Israel beberapa waktu sebelumnya memang menegaskan perintah untuk menyerang Jalur Gaza dengan serangan besar-besaran (www.voaindonesia.com). Israel mengatakan bahwa itu adalah serangan balasan terhadap gempuran ratusan roket Hamas ke Israel yang menewaskan 4 orang warga sipil.
Namun tak banyak yang memberitakan bahwa ratusan roket Hamas itu merupakan respon terhadap tewasnya 2 orang demonstran Palestina di jalur Gaza setelah beberapa upaya warga Palestina untuk mengurangi ketegangan di wilayah tersebut (www.matamatapolitik.com).
Faktanya, kasus Palestina-Israel adalah satu di antara konflik militer terpanjang dalam sejarah. Lembaga internasional sekelas PBB pun sampai hari ini belum mampu menghasilkan solusi tuntas persoalan kedua pihak. Puluhan perjanjian dan kesepakatan telah dibuat, dan puluhan kali pula dilanggar dan dirusak oleh Israel atau negara pendukungnya. Presiden Palestina Mahmoud Abbas mengatakan bahwa bisunya warga dunia terhadap tindakan kriminal luar biasa dan pelanggaran hukum internasional oleh Israel itulah yang membuatnya terus melakukan kejahatan (www.internasional.sindonews.com).
Hendak berharap pada negeri-negeri muslim terdekat pun seolah hanya angan belaka. Perbatasan Rafah di Mesir, satu-satunya pintu masuk langsung ke jalur Gaza justru ditutup oleh pemerintahnya. Negara-negara Timur Tengah, alih-alih menguatkan Palestina secara politik maupun militer, malah berselingkuh mesra dengan musuh utama Palestina; Benyamin Netanyahu. Pada Februari lalu, para pemimpin negeri muslim Timur Tengah menunjukkan sikap manisnya terhadap perdana menteri Israel itu di Konferensi Warsawa. Palestina yang memandang KTT tersebut adalah cara Amerika untuk menormalkan pendudukan Israel memprotes dan menolak hadir (www.ArrahmahNews.com).
Yang lebih menyakitkan lagi, Saudi Arabia hendak menghinakan saudara mereka sendiri  dengan menawarkan uang 10 miliar dolar jika Mahmoud Abbas mau menerima solusi kesepakatan yang ditawarkan Amerika Serikat –pendukung absolut Israel (www.islampos.com). Negeri muslim lainnya? Paling bagus mengecam, mengutuk, jika tidak disibukkan oleh permasalahan dalam negeri mereka sendiri yang sudah bertumpuk.
Mengupayakan perjanjian atau kesepakatan damai terbukti sia-sia, puluhan jumlahnya tapi keadaan tak kunjung membaik malah semakin keruh. Memperjuangkan win-win two state solution yang sempat dianggap jalan terbaik justru membuat Israel makin pongah dan brutal. Israel hanya bisa dilawan dengan satu jenis diplomasi; perang.
Namun sayangnya, belum ada satupun kekuatan militer negeri-negeri Muslim dikerahkan secara maksimal untuk menguatkan Palestina. Ummat Islam kehilangan persatuan dan kekuatannya. Pemimpin-pemimpin negeri Muslim tumpul cakarnya. Puluhan tahun tak ada yang bisa diperbuatnya. Padahal Rasulullah saw pernah bersabda,
" Barangsiapa yang di sampingnya ada seorang mukmin yang direndahkan, lalu dia tidak menolongnya padahal dia mampu, niscaya Allah azza wa jalla akan merendahkannya di hadapan semua makhluq pada hari kiamat " (HR Ahmad)
Ummat Islam tak pernah berada dalam keadaan seburuk ini sebelumnya. Kondisi ini tidak lain diakibatkan oleh tiadanya institusi yang menyatukan mereka dalam satu naungan; Khilafah Islamiyah. Khilafah adalah institusi yang menyatukan pemikiran, perasaan, dan kekuatan ummat Islam seluruhnya. Pasca keruntuhannya, wilayah Islam yang sebelumnya satu terpecah menjadi sekian banyak negara.
Sekat semu nasionalisme hari ini telah menciptakan batas tegas antar negara. Sehingga seolah permasalahan negara lain menjadi rahasia rumah tangganya yang tetangganya tidak perlu mencampuri. Untuk menunjukkan empati, sekedar ucapan belasungkawa dan kecaman serta sedikit bantuan diberikan. Setelah itu tak ada lagi. Tak ada upaya serius untuk benar-benar memusnahkan biang persoalan sampai ke akarnya meski harus banyak berkorban. Parahnya, malah bergandeng mesra dengan musuh dan biang keroknya.
Khilafah juga merupakan satu-satunya institusi yang mampu mewujudkan perlindungan terbaik bagi Palestina. Setelah ditaklukkan dan masuk dalam wilayah kekuasaan Khilafah pada masa kepemimpinan Umar Bin Khattab, Palestina senantiasa dalam perlindungan dan pemeliharaan terbaik.
Bahkan meski harus dibayar dengan darah para syuhada. Pada abad ke-12 setelah sempat direbut oleh tentara Salib, Shalahuddin Al Ayyubi dan pasukannya berhasil kembali membebaskan Yerussalem dan menorehkan tinta emas sejarah toleransi dalam kehidupan masyarakat. Berabad kemudian, ketika Yahudi kembali berusaha menguasai tanah Alquds, Sultan Abdul Hamid dengan tegas dan heroik mempertaruhkan nyawanya demi setiap jengkal tanah yang diberkahi itu.
Namun semua itu tidak kita temukan ketika Khilafah sebagai perisai pelindung (junnah) ummat diruntuhkan. Tak hanya Palestina, juga Suriah, Rohingya, Uyghur, dan kaum muslimin di belahan bumi yang lain menangis tanpa tahu hendak mengadu pada siapa. Pantaslah jika Rasulullah saw menyebut pemimpin atau Khalifah itu sebagai perisai.
" Sesungguhnya imam (pemimpin) itu ibarat perisai. Orang-orang berperang di belakangnya, dan berlindung padanya. " (Muttafaq alaih)
Kata junnah digunakan oleh Rasulullah saw dalam hadits lain untuk menganalogikan ibadah puasa. Puasa adalah perisai bagi individu muslim, dan pemimpin –yang menyatukan dan melindungi- adalah perisai bagi ummat Islam seluruhnya.
Sebagai ummat yang satu, kita tentu membutuhkan keduanya agar terwujud apa yang Allah firmankan tentang ummat terbaik bagi seluruh manusia. Moment Ramadhan ini menjadi sangat relevan bagi kita untuk mengevaluasi kondisi ini. Perisai individu kita mungkin ada dan berfungsi, tapi bagaimana dengan perisai ummat?
Sebagaimana kemenangan pasukan kaum muslimin pada Perang Hittin untuk merebut kembali Yerussalem terjadi pada bulan Ramadhan, semangat itu harus kita cerap. Bulan Ramadhan adalah bulan penuh kemuliaan dan kebaikan.
Mari jadikan bulan ini sebagai moment perjuangan untuk mengembalikan semua kebaikan dan kemuliaan ummat ini. Mari jadikan Ramadhan ini sebagai Ramadhan terakhir kita menyaksikan penderitaan saudara-saudara kita di Palestina, dan di negeri-negeri yang lain. Mari wujudkan perisai sejati pelindung ummat; Khilafah Islamiyyah.
Wallahu a’lam. [MO/ra]

Posting Komentar