oleh Ammylia Rostikasari, S.S.
(Komunitas Penulis Bela Islam)
Mediaoposisi.com-  Masyarakat Indonesia dibuat galau. Mereka resah menanti detik-detik penentuan pemenang kontestasi Pilpres yang akan diumumkan pada 22 Mei 2019, bertepatan dengan 17 Ramadhan. Sebagian lagi merasa ragu akan kinerja KPU (Komisi Pemilihan Umum), apakah bisa lembaga ini menyelesaikan tugasnya yang hanya tinggal hitungan hari? Mengingat kredibilitas KPU yang tengah dipertaruhkan, mampukah bekerja sesuai amanah dalam perhitungan suara atau justru kentara dengan pesanan pemangku kekuasaan.
Pasalnya, Ketua Penanggung Jawab Ijtima’ Ulama III Yusuf Martak mengherankan apa yang telah dikinerjakan KPU. Setiap hari Situng (hasil hitung) KPU nyaris tak bergerak, hampir selalu stagnan di angka 54-43.
Ditambah lagi respon dari KPU yang membuat tendensi tersendiri, “Kami tegaskan bahwa salah input itu bukan berarti kecurangan yang dilakukan KPU dan jajarannya,” ujar Komisioner KPU, Wahyu Setiawan di kantor KPU, Jakarta Pusat, Kamis (2/5) (Media Umat 242/10-23/5/2019).
KPU bersikukuh menegaskan bahwa hasil Situng bukanlah hasil resmi Pemilu 2019. Bahkan KPU mengajak masyarakat untuk ikut memantau Situng dan melaporkan jika terdapat kesalahan dalam Situng. KPU juga menyatakan sikap terbuka pada publik jika terdapat ketidak-sesuaian informasi informasi pada laman KPU dengan C 1. Berlebih lagi masyarakat dipersilakan mengajukan laporan sebagai bahan perbaikan data bagi KPU jika ada ketidakcocokkan.
Namun, pernyataan tak serta merta dapat dibuktikan dalam perlakuan. KPU belum cukup berani dalam menyikapi temuan 73 ribu data salah entri yang telah diungkapkan oleh tim BPN (Badan Pemenangan Nasional). Pertanyaan tajam pun dilontarkan BPN. Data sebanyak itu, apakah semata faktor human error atau bahkan ada skenario anomali di belakangnya?
Sayangnya, KPU lagi-lagi tak cukup nyali untuk menerima tantangan audit forensik terhadap IT KPU dari berbagai kalangan. Jika KPU sudah bekerja amanah, tentunya tawaran pembuktian itu tak menyurutkan langkahnya untuk berlaku transparan kepada masyarakat.
Adakah kondisi ini sesuai dengan statment Joseph Stalin yang menyatakan, “Orang-orang yang memberikan vote (suara) tidak menentukan hasil dari pemilu. Namun, orang-orang yang menghitung vote itulah yang menentukan hasil dari pemilu”.
Atau bahkan melawan lupa akan isi logika Machiavelli yang mengusung teori menghalalkan segala macam cara agar semua bisa jadi upaya. Mayoritas ditindas minoritas, fakta nyata pun dihadang oleh ‘data hitungan’.
Demikianlah potret menapaki perjuangan dalam rel demokrasi. Sebuah sistem dengan aturan main yang sudah cacat dari masa kelahirannya. Di mana kejujuran dibuat kalah telak oleh kecurangan. Tak mengherankan jika demikian karena sistem ini tak dilandasi oleh sahihnya keimanan.
Demokrasi yang mengadopsi kedaulatan rakyat, telah menyejajarkan Manusia dengan Sang Pencipta. Di mana manusia diberi kuasa untuk membuat aturan dalam menjalankan kehidupannya. Peran Pencipta yang sebenarnya sebagai pembuat aturan hidup bagi hamba-Nya pun dibuat tiada.
Demokrasi yang memuja paham kebebasan, hampir selalu menampilkan standar ganda. Mengakui kebebasan, tapi nyatanya terbatas pada hal dan pihak yang tidak mengancam keberlangsungannnya. Sebaliknya, jika yang memenangi kontestasi ada pada pihak pengusung ideologi selain demokrasi, jangan heran jika ruang geraknya akan dieliminasi bahkan dikriminalisasi. Begitulah tipu-tipu demokrasi.
Sebaiknya umat Islam mengambil pelajaran pada kemenangan FIS (Front Islamic du Salut) di Al Jazair pada 1992 yang meraih kemenangan pemilu. Prosentasi suaranya mencapai 54%, mendapatkan 188 kursi di parlemen atau setara dengan  menguasai 81%. FIS dapat dikatakan menang mutlak. Wajar jika masyarakat begitu antusias menyambutnya. Toh, umat sudah merindukan angin segar penerapan Islam di negaranya.
Sayang seribu sayang, kemenangan FIS dipukul mundur oleh Chadli Benjedid. Dia pimpinan dari partai rival FIS. Setelah kalah dalam kontestasi pemilu, ia mengundurkan diri dari partainya.
Namun, kemundurannya bukan berarti ia menerima lapang dada atas kemenangan FIS. Benjedid yang alergi ideologi Islam justru menggalang kekuatan militer agar bergandengan dengannya. Militer pun tunduk, dengan kuasanya, parlemen  Aljazair dibubarkan disertai dengan pembatalan hasil pemilu. FIS pun dikriminalisasi, dianggap sebagai partai terlarang karena berprinsip menerapkan Islam.
Nasib serupa pun dialami Ikhwanul Muslim lewat Partai Kebebasan dan Keadilan di Mesir. Mohammad Mursi yang mengantongi 51,73% suara pada 2012, setahun setelah berkuasa dibuat terguling kekuasaannya. Bukan hanya itu, Mursi dipenjarakan dengan berbagai tuduhan, partainya dibubarkan, dan Ikhwanul Muslimin pun dimonsterisasi sebagai kelompok teroris pada Desember 2013.
Wahai saudaraku seakidah, yanng mengimani Allah dan Rasul-Nya, Ramadhan telah diteladankan sebagai bulan perjuangan. Perjuangan umat Islam pun haruslah memilik landas tumpu yang telah dicontohkan Rasulullah saw. Dan itu jelas bukan pada sistem demokrasi.
Jalan perjuangan haruslah taukifi, agar semua pengorbanan energi, harta, jiwa juga raga berbuah ridho Ilahi Rabbi. Rasulullah memberikan gambaran perjuangan metode yang tercirikan. Tak ramah pada pragmatisme juga kompromi dengan sistem kufur buatan manusia. Beliau konsisten menapaki manhaj-nya hingga menjemput keberhasilan yang gemilang.
Rasulullah meneladankan perjuangan semata untuk melangsungkan kehidupan Islam. Adanya membumikan syariat Islam kaffah dalam bingkai negara, bukan semata memosisikan umat Islam pada tampuk kekuasaan. Karena yang menjadi tujuan utamanya adalah tegaknya Islam sebagai ideologi agar semua umat manusia terikat pada aturan-Nya.
Langkah mulanya ditempuh dengan membina umat. Menempa mereka dengan pengetahuan Islam paripurna. Demi tercipta insan mulia yang berpola pikir dan pola sikap Islam. Walhasil, termotivasilah ia untuk mendamba hidup mulia dalam naungan penerapan syariat-Nya.
Saat nuansa keislaman makin kentara di tubuh umat, keinginan  tegaknya syariat Islam pun turut menguat. Begitu pun para pemilik tampuk kuasa yang sudah terwarnai Islam, dengan dorongan imannya ia berikan pertolongannya.
Terjalinlah sinergi umat yang sadar akan kewajiban menerapkan syariat-Nya dan para pemilik kekuasaan yang paham akan amanah tahtanya. Atas pertolongan Allah pula semua akan terbukti nyata. Umat hidup di bawah panji mulia menerapkan isi kitabullah dan sunah Rasulullah. Tidakkah kita menginginkannya? Hidup mulia dalam naungan kepemimpinan Islam (khilafah Islamiyah).
Wallahu’alam bishowab [MO/ra]

Posting Komentar