Gambar: Ilustrasi
Oleh: Isma Adwa Khaira 
(Lingkar Pendidik Peradaban)

Mediaoposisi.com-Serangan udara besar-besaran yang dilancarkan oleh Militer Israel di Jalur Gaza sebagai respon Israel atas serangan Hamas pada aksi demo warga palestina terjadi di awal Ramadan.

Kantor media Palestina di Gaza melaporkan bahwa jet Israel melancarkan lebih dari 150 serangan udara di samping serangan arteri yang menargetkan 200 landmark di Jalur Gaza. Termasuk penduduk, bangunan masjid, toko-toko, serta institusi media.

Kementrian Kesehatan di Gaza menyatakan bahwa 19 warga Palestina tewas atas serangan udara Israel tersebut. Diantara warga palestina yang tewas adalah seorang perempuan hamil dan bayi berumur 4 bulan.

Serangan besar-besaran ini terjadi di tengah suka cita penyambutan bulan suci Ramadhan di seluruh dunia. Termasuk, warga Palestina yang telah memasang ornamen penyambutan Ramadhan. Namun, serangan tersebut terjadi hingga timbul kekhawatiran untuk keluar rumah demi keselamatan mereka.

Konflik berdarah yang berkepanjangan di semenanjung Timur Tengah terus mengalirkan darah warga sipil. Konflik yang terjadi menjadi sesuatu yang telah umum di kolom pemberitaan di media internasional. Respon diampun didapati pada pemimpin dunia bahkan para penguasa negeri muslim tanpa tindakan yang berarti.

Diamnya penguasa negeri kaum muslim atas terbunuhnya darah saudaranya tidak lain karena sekat yang memisahkan antara muslim Palestina dengan muslim Myanmar ataupun dengan muslim Indonesia tanpa ada penyelesaian terhadap konflik-konflik yang terjadi. Nyatanya, darah kaum muslim yang ditumpahkan begitu murah daripada hewan. Padahal, urusan darah kaum muslim begitu besar dalam Islam.

Hal ini tidak lain karena sistem negara bangsa yang diterapkan oleh negeri-negeri muslim. Negara bangsa adalah negara dengan konsep dasar nasionalisme. Dimana adanya komunitas manusia dengan anggapan mereka satu kesatuan karena kesamaan etnis, ras, bahasa, budaya dan sebagainya.

Lemahnya konsep nation state yang didasarkan pada emosi dan sentimen bukan pada intelektual. Menjadikan negara bangsa perlu merekayasa untuk membentuk identitas nasional seperti adanya lagu kebangsaan.

Nation state bagi umat Islam seperti racun yang dapat melumpuhkan dan mematikan. Dengan adanya nation state, umat Islam telah terpecah menjadi 50 lebih negara bangsa. Sehingga, umat Islam menjadi lemah dan terbelah-belah.

Islam telah memberikan ikatan yang kuat pada umat muslim yang dapat menjadi pemersatu umat. Yaitu akidah Islam bukan kebangsaan.

“Kaum muslim adalah saudara bagi muslim yang lainnya.” (HR. Bukhari no. 6551)

“Perumpamaan kaum muslimin itu layaknya tubuh yang satu. Dimana ketika kaki sakit maka kepalapun dapat merasakannya.” (HR. Muslim no. 2586)

Dalam Islam, negara hanya menunggalkan satu kenegaraan universal yaitu Kekhilafahan. Kekhilafahan memiliki keluasan yang menyeluruh bukan berbatas pada teritori yang tetap.

Konsep khilafah akan memberikan kekuatan dan ketaatan yang tidak dimiliki oleh nation state. Dimana pembataian terhadap umat Islam tidak hanya akan dikecam dan dibiarkan justru akan dibela dengan pasukan hingga darah umat Islam tidak akan tumpah dengan begitu murah dan mudah.

Karenanya, menerapkan negara bangsa yang bukan ajaran Islam adalah salah. Maka, solusi utamanya hanya dengan penyatuan umat muslim di seluruh dunia dalam satu ikatan akidah Islam di bawah naungan Khilafah Islam. Yang pasti akan memberikan kesejahteraan dan keamanan bagi warga negara khilafah. Sehingga, Ramadhan sebagi bulan penuh ketaqwaan akan mudah di dapati pada negara khilafah. Wallahu A'lam bisshawab. [MO/ms]

Posting Komentar