Oleh: Mariyatul Qibtiyah

Mediaoposisi.com-Amnesty International mengatakan dalam sebuah laporan yang dirilis akhir pekan lalu, otoritas China memandang puasa Ramadan – bersama dengan aktivitas lain yang berafiliasi keagamaan termasuk jenggot, jilbab, salat 5 waktu, dan larangan konsumsi alkohol – sebagai “tanda ekstrimisme”. Karena alasan itulah, pemerintah Cina melarang kaum muslimin di Xinjiang melaksanakan ibadah puasa di bulan Ramadan. (eramuslim.com, 08/05/2019)

Padahal, puasa di bulan Ramadan merupakan salah satu pilar dari pilar-pilar Islam. Ia merupakan kewajiban yang tidak boleh ditinggalkan. Hal ini sesuai dengan hadits Rasulullah Saw tentang rukun Islam. Di dalam hadits itu diceritakan,

عن ابي عبد الرحمن عبد الله بن عمر بن الخطاب رضي الله عنهما قال سعت رسول الله صلى الله عليه و سلم يقول بني الاسلام على خمس شهادة ان لا اله الا ا لله وان محمدا رسول ا لله و اقام الصلاة و ايتاء الزكاة و حج البيت و صوم رمضان

 Dari Abu  ‘Abdurrahman ‘Abdullah bin ‘Umar bin Al-Khattab radhiyallahu ‘anhuma, ia mengatakan bahwa ia mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Islam dibangun di atas lima perkara: bersaksi bahwa tidak ada yang berhak disembah melainkan Allah dan bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan Allah; menunaikan salat; menunaikan zakat; menunaikan haji ke Baitullah; dan berpuasa Ramadan.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Sebagai salah satu rukun Islam, puasa merupakan kewajiban bagi umat Islam. Hal ini sesuai dengan firman Allah Swt dalam Alquran. Allah Swt berfirman,

ياايهاالذين امنوا كتب عليكم الصيام كما كتب على الذين من قبلكم لعلكم تتقون
"Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kalian berpuasa sebagaimana diwajibkan atas umat sebelum kalian, agar kalian menjadi orang-orang yang bertakwa." (Q.S. Albaqarah: 183)
Berdasarkan ayat ini, orang yang berpuasa secara benar  akan menjadi orang yang bertakwa. Ia akan menjalankan semua perintah Allah dan  menjauhi segala larangan-Nya. Karena ketakwaannya itu, Allah akan menjauhkannya dari neraka. Inilah peran puasa sebagai junnah atau perisai bagi mereka yang menjalankannya.

Rasulullah Saw  juga bersabda,
“Tidaklah seorang hamba yang puasa di jalan Allah kecuali akan Allah jauhkan dia (karena puasanya) dari neraka sejauh tujuh puluh musim” (HR. Bukhari dan Muslim)
Di dalam hadits yang lain, Rasulullah Saw bersabda,   

“Puasa adalah perisai, seorang hamba berperisai dengannya dari api neraka.” (HR. Ahmad)
Namun, keberhasilan pelaksanaan ibadah puasa ini juga tidak terlepas dari peran penguasa di sebuah negeri. Jika penguasa itu memahami ajaran Islam dengan benar, ia akan mengupayakan agar pelaksanaan puasa berjalan dengan baik sesuai dengan aturan Allah. 

Mulai dari bagaimana menentukan awal dan akhir Ramadan, pelaksanaan salat tarawih, pembayaran zakat fitrah, hingga pemberian sanksi bagi mereka yang dengan sengaja meninggalkan kewajiban berpuasa.  Sebaliknya, jika penguasa  tidak memahami kewajiban itu, atau bahkan tidak meyakini kewajiban berpuasa, tentu akan sulit bagi umat Islam di wilayah tersebut dalam menjalankan kewajibannya. Inilah yang saat ini dialami oleh sebagian umat Islam di dunia.

Seperti yang dialami oleh umat Islam di Xinjiang, misalnya. Mereka dilarang oleh pemerintah setempat untuk menjalankan ibadah puasa. Mereka juga dilarang untuk menjalankan ibadah lainnya, seperti salat dan membaca Alquran. Sementara di belahan dunia yang lain, umat Islam di Palestina dan Suriah harus berpuasa di tengah dentuman senjata. Mereka diliputi oleh ketakutan, kecemasan, dan kekhawatiran yang tidak kunjung berakhir. Ditambah lagi dengan minimnya  pasokan pangan, air, dan listrik. Tentu, hal ini sangat memprihatinkan.

Semua ini terjadi karena tidak adanya junnah yang melindungi mereka dari musuh-musuh umat Islam. Junnah yang akan melindungi kehormatan mereka. Hingga mereka tidak akan dihinakan dan dizalimi oleh musuh-musuh Islam. Rasulullah Saw bersabda,

إنَّمَا الْإِمَامُ جُنَّةٌ يُقَاتَلُ مِنْ وَرَائِهِ وَيُتَّقَى بِهِ، فَإِنْ أَمَرَ بِتَقْوَى اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ وَعَدَلَ كَانَ لَهُ بِذَلِكَ أَجْرٌ، وَإِنْ يَأْمُرْ بِغَيْرِهِ كَانَ عَلَيْهِ مِنْهُ

Sesungguhnya al-imam (khalifah) itu (laksana) perisai, dimana (orang-orang) akan berperang di belakangnya (mendukung) dan berlindung (dari musuh) dengan (kekuasaan)nya. Jika seorang imam (Khalifah) memerintahkan supaya takwa kepada Allah ’azza wajalla dan berlaku adil, maka dia (khalifah) mendapatkan pahala karenanya, dan jika dia memerintahkan selain itu, maka ia akan mendapatkan siksa.” (HR. Al-Bukhari, Muslim, An-Nasa’i, Abu Dawud, Ahmad)

Jelaslah bahwa junnah itu adalah seorang khalifah yang memimpin khilafah Islamiyyah. Keberadaannya akan melindungi umat Islam sebagaimana perisai yang melindungi seorang prajurit dari musuhnya. Ketiadaannya menjadikan umat Islam bagaikan anak ayam kehilangan induknya. Hingga tidak ada lagi yang melindunginya dari serangan musang, ular, atau pun elang yang mengancam kehidupannya.

Maka, sudah saatnya kita mengembalikan junnah yang telah hilang itu. Agar kemuliaan dan kehormatan umat Islam kembali diraih. Agar umat Islam kembali menjadi khairu ummah sebagaimana firman Allah Swt,

كُنْتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ

"Kalian adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah." (Q.S. Ali Imran: 110)

Untuk mengembalikan kemuliaan umat Islam, kita harus mendakwahkan Islam, melakukan amar makruf dan nahi mungkar dengan berbagai sarana dan prasarana seperti yang dicontohkan oleh Rasulullah Saw. Terlebih lagi, saat bulan Ramadan seperti ini. Ketika setiap kebaikan yang kita lakukan akan dilipatgandakan pahalanya. 

Tak lupa kita panjatkan doa ke hadirat-Nya memohon dengan penuh kerendahan hati agar dibukakan pertolongan-Nya. Semoga dengan segala upaya lahir dan batin ini, umat akan tercerahkan dan memahami Islam secara kaffah. Jika hal ini terwujud, kembalinya junnah umat Islam bukan lagi sebuah mimpi. Namun, akan terwujud menjadi kenyataan. Wallaahu a'lam.[Mo/vp]

Posting Komentar