Oleh: Betha Vanglos
(Penikmat Literasi)

Mediaoposisi.com-Setelah sekian lama Aceh dibayang-banyangi oleh ketidakjelas terhadap keadilan dan demokrasi. Kini muncul isu menuju Aceh yang baru setelah miminta melepaskan diri dari Indonesia

"Alhamdulillah, kita melihat saat ini, negara kita di Indonesia tak jelas soal keadilan dan demokrasi. Indonesia diambang kehanjuran dari sisi apa saja, itu sebabnya, maaf Pak Pangdam, kedepan Aceh kita minta refendum saja," Tegas Muzakir Manaf sebagai Ketua DPA Partai Aceh

Kegemilan Aceh memang tidak bisa dipandang sebelah mata, pasalnya sebuah sejarah kemakmuran melekat padanya

Masa Kejayaan Aceh

Respon masyarakat dan elit pemerintahan Aceh tidak bisa dikatakan berlebihan mengingat kerajaan Islam pernah berdiri di Aceh

Sejarah mencatat Islam yang membara dalam diri rakyat Aceh yang diwariskan oleh Sultan Ali Mughayat Syah sebagai Kesultan pertama Samudra Pasai pada tahun 1524

Mengawali kegemilangannya dengan menyatuhkan berbagai wilayah di Nusantara akibat penjajahan yang dilakukan oleh Portugis pada saat itu

Kesultanan Aceh mengalami masa ekspansi dan pengaruh terluas pada masa kepemimpinan Sultan Iskandar Muda. Pada masa kepemimpinannya, Aceh menaklukkan Pahang yang merupakan sumber timah utama.

Pada tahun 1629, kesultanan Aceh melakukan penyerangan terhadap Portugis di Melaka dengan armada yang terdiri dari 500 buah kapal perang dan 60.000 tentara laut. Serangan ini dalam upaya memperluas dominasi Aceh atas Selat Malaka dan semenanjung Melayu.

Sayangnya ekspedisi ini gagal, meskipun pada tahun yang sama Aceh menduduki Kedah dan banyak membawa penduduknya ke Aceh.

Pada masa Sultan Alaidin Righayat Syah Sayed Al-Mukammil (kakek Sultan Iskandar Muda) didatangkan perutusan diplomatik ke Belanda pada tahun 1602 dengan pimpinan Tuanku Abdul Hamid.

Sultan juga banyak mengirim surat ke berbagai pemimpin dunia seperti ke Sultan Turki Selim II, Pangeran Maurit van Nassau, dan Ratu Elizabeth I. Semua ini dilakukan untuk memperkuat posisi kekuasaan Aceh.

Karir Aceh kian bersinar dimata dunia setelah Sultan berusaha membentuk persekutuan dengan pihak luar sebagai usaha untuk membendung agresi Belanda.

Dikirimkannya utusan kembali ke Istanbul sebagai pemertegas status Aceh sebagai vassal Turki Utsmaniyah serta mengirimkan sejumlah dana bantuan untuk Perang Krimea. Sebagai balasan, Sultan Abdul Majid I mengirimkan beberapa alat tempur untuk Aceh

Mengapa Aceh Layak Penopang Tegaknya Khilafah?

Sadari masa pasca-reformasi, Aceh tak kunjung dapat mengembalikan kejayaan sebagai perdagangan Malaka dengan mengandalkan pelabuhan jalur internasional.

Kekuatan ekonomi yang dibangun oleh Aceh benar-benar diluar dugaan.  Suasa yang mengolah barang mentah menjadi barang jadi. Sedang Pidie merupakan lumbung beras bagi kesultanan. Namun di antara semua yang menjadi komoditas unggulan untuk diekspor adalah lada.

Produksi terbesar terjadi pada tahun 1820. Menurut perkiraan Penang, nilai ekspor Aceh mencapai 1,9 juta dollar Spanyol. Dari jumlah ini $400.000 dibawa ke Penang, senilai $1 juta diangkut oleh pedagang Amerika dari wilayah lada di pantai barat.

Sisanya diangkut kapal dagang India, Prancis, dan Arab. Pusat lada terletak di pantai Barat yaitu Rigas, Teunom, dan Meulaboh

Letak Aceh yang sangat strategis sebagai kekuatan ekonomi baru menuju tegaknya Khilafah di bumi Serambi Mekkah itu

Jika dilihat dari sisi sosial, kini kiblat Islam yang patut dijadikan acuan adalah Aceh. Pasalnya kondisi masyarakat yang masih kental dengan budaya Islam bahkan menjadi satu-satunya wilayah yang menerapkan hukum Islam.[MO/ad]

Posting Komentar