Oleh : Yulida Hasanah
(FORSIMA, Forum Silaturahmi Ustadzah dan Muballighoh)

Mediaoposisi.com- Euforia Pemilu di Indonesia mulai berbalik arah menjadi polemik politik yang menakutkan. Isu kecurangan yang mewarnai Pilpres tahun 2019 ini mengundang banyak kalangan untuk angkat suara. Tak tanggung-tanggung, narasi ‘people powerpun’ menjadi viral dan berhasil membuat atmosfer politik di negeri ini guncang. Dan inilah wacana terpanas tahun ini.

Ijtima Ulama dan Tokoh Nasional 3 yang telah berlangsung tanggal 1 Mei 2019, di Hotel Lorin, Sentul, Bogor, Jawa Barat , meninggalkan berita bahwa Habib Rizieq Shihab (HRS) dalam sambutannya ketika membuka acara tersebut melalui sambungan video jarak jauh (teleconference) mengajak kepada masyarakat untuk menggelar aksi konstsitusional dengan mengepung Badan Pengawas Pemilu. Hal inilah yang kemudian berkembang menjadi berita bahwa HRS menyerukan poeple power.

Jika narasi people power yang semakin hari semakin membuat kegoncangan politik demokrasi di negeri ini semakin kuat. Maka, tidak menutup kemungkinan, akan berpengaruh pada pikiran masyarakat termasuk umat Islam, bahwa Islam itu benar-benar keras dan menghalalkan kekerasan untuk meraih kekuasaan. Buktinya, yang menyerukan itu kan tokoh umat Islam, Habib dan para Ulama.

Inilah yang harus diluruskan dan dijabarkan secara tuntas, apakah dalam Islam dikenal Istilah people power ataukah istilah ini hanya ada dalam sistem demokrasi yang saat ini masih menaungi Indonesia?
People Power Hanya Ada Dalam Demokrasi

Dalam sejarah politik demokrasi di dunia, banyak pemimpin otoriter tak terkecuali di Indonesia yang pada akhirnya harus mengakhiri kekuasaannya karena gerakan massa atau lazim disebut people power.
Di mana, people power diartikan sebagai gerakan massa besar yang melakukan tuntutan tertentu atau penggulingan kekuasaan presiden secara paksa melalui aksi demonstrasi rakyat. Walaupun cara ini dianggap inkonstitusional, namun tak bisa di pungkiri bahwa demokrasi membiarkan hal itu terjadi.

Bukti nyata yang tak terbantahkan adalah gerakan reformasi 1998. Gerakan tersebut menjadi titik nadir keruntuhan rezim Orde Baru yang ditandai dengan mundurnya Presiden Soeharto. Krisis finansial Asia yang menyebabkan ekonomi Indonesia melemah dan semakin besarnya ketidakpuasan masyarakat terhadap pemerintahan menyebabkan terjadinya demonstrasi besar-besaran berbagai elemen mahasiswa di berbagai wilayah.
Pemerintahan Soeharto semakin disorot setelah Tragedi Trisakti pada 12 Mei 1998 yang kemudian memicu kerusuhan Mei1998 sehari setelahnya. Di bawah tekanan besar dari dalam maupun luar negeri, Soeharto akhirnya mengundurkan diri.

Presiden Kuba, Fulgencio Batista yang selama 2 dekade ini dikenal sebagai pemimpin diktator yang memerintah sejak 1933. Pada 1944, masa jabatannya berakhir dan Batista pun meninggalkan Kuba. Namun, 8 tahun kemudian, Batista melancarkan aksi kudeta dan berhasil memimpin kembali Kuba. Selain otoriter, selama memerintah Batista juga memperkaya dirinya sendiri. Batista berhasil dilengserkan pada 1959, melalui Revolusi Kuba yang dipimpin oleh Fidel Castro.

Atau people power di Filipina yang sempat viral di masanya. Ferdinand Marcos yang terpilih sebagai presiden pada tahun 1964. Selama dua dekade masa pemerintahannya,kronisme dan korupsi meluas. Miliaran uang negara disedot ke rekening pribadi sang presiden.
Dan pada tahun 1986, Marcos kemabli terpilih menjadi presiden Filipina. Namun, pemilu yang diduga dipenuhi kecurangan, intimidasi dan kekerasan ini menjadi titik klimaks bagi dirinya. Marcos akhirnya diturunkan dari jabatannya dalam revolusi EDSA pada tahun yang sama.

Beberapa sejarah negeri demokrasi dengan people powernya di atas, telah membuktikan bahwa sistem ini menghalalkan people power. Dan ketika kita masih mengimpikan jalan damai tanpa kecurangan di dalam sistem ini, maka hal itu hanyalah mimpi yang takkan pernah terwujud.


Meraih Kekuasaan Tanpa Kekerasan Dengan Ideologi Power

Berbeda halnya dengan metode Islam dalam meraih kekuasaan. Islam memiliki Ideologi yang menjadi kepemimpinan berpikir atau qiyadah fikriyah bagi setiap orang yang meyakini dan mengambilnya. Dialah ideologi Islam.
Dan dengan memahami Ideologi Islam sebagai pandangan hidup yang sempurna yang memuat seluruh aturan-aturan kehidupan yang dibtuhkan oleh manusia. Di mana, aturan-aturan ini datangnya hanya dari Sang Pencipta dan pengatur manusia yaitu Allah SWT.

Ideologi inilah yang menjadi jalan perubahan bagi masyarakat jahiliyah menuju masyarakat yang bermartabat dan mulia. Ideologi Islam mencakup dua hal yaitu fikrah dan thariqoh, atau ide dan metode. Ide mencakup masalah aqidah dan solusi berupa aturan hidup manusia, seperti sistem politik, ekonomi, sosial, pendidikan, politik luar negeri dan sebagainya. Tentu saja ide atau fikroh di sini belum cukup mampu menuju pada perubahan yang benar, jika tidak ada keberadaan metode operasionalnya. Maka, metode operasional atau thariqoh tersebut mutlak diperlukan.

Oleh karena itu, ketika berbicara tentang ideologi, maka kita akan berbicara tentang dua hal itu, yaitu fikroh dan thoriqoh. Secara ide, semua hukum-hukum atau aturan yang ada dalam Islam itu sifatnya aplikatif apabila terdapat sebuah kekuasaan yang mampu menerapkannya. Inilah yang dibutuhkan oleh umat Islam.
Adanya tokoh yang mampu memahami ideologi islam inilah yang akan dengan sadar memberikan kekuasaannya pada Islam. dan inilah yang pernah dialami oleh seorang tokoh Madinah bernama Sa’ad bin Muadz, beliau adalah pimpinan kaum Khazraj yang memberikan kekuasaannya dengan suka rela setelah tersadarkan dengan ideologi power yaitu kekuatan ideologi Islam.

Akankah kita tidak menginginkan meraih kekuasaan sebagaimana yang Rasulullah pernah raih? Usaha memahamkan umat dengan ideologi Islam memang bukan jalan yang mudah bagi orang-orang yang tidak memiliki kekuatan ideologi juga. Maka, saatnyalah kita menjadi golongan orang-orang yang terdepan dalam mendakwahkan Ideologi Islam ini agar menjadi qiyadah fikriyah bagi umat di seluruh dunia dengan tegaknya kepemimpinan Islam, Khilafah Islamiyah.

Dengan begitu, tak kan ada lagi ketakutan rakyat karena narasi people power oleh demokrasi yang terbukti tak mampu memberi solusi hakiki bagi Indonesia maupun dunia. Dan yang terjadi hanyalah bias kekuasaan yang tak jelas arahnya. Wallaahu a’lam [MO/ra]

Posting Komentar