Oleh Chusnatul Jannah - Lingkar Studi Perempuan dan Peradaban

Mediaoposisi.com- Avengers: Endgame adalah film yang ditunggu-tunggu pecinta film superhero tahun ini. film yang diproduksi oleh Marvel Cinematic Universe ini menjadi film final dari 11 tahun perjalanan mereka. Artinya, Endgame menjadi film penutup perjuangan para Avengers melawan sang musuh, Thanos, di sekuel sebelumnya, yaitu Infinity War.

Setelah peristiwa pemusnahan setengah populasi penduduk dunia yang dilakukan Thanos dalam Infinity War (2018), para Avengers yang tersisa kembali bertarung untuk terakhir kalinya mengalahkan Thanos. Avengers: Endgame merupakan simpulan perjalanan cerita dari 22 film Marvel Studio sebelumnya. Bisa dikatakan, film ini menjadi antiklimaks dalam serial-serial superhero yang diproduksi Marvel Studio.

Sebelum film ini diproduksi, Marvel lebih dulu menayangkan film superhero baru yang kelak ia membantu para Avengers melawan Thanos di Endgame. Yaitu tokoh baru bernama Captain Marvel. Sosok Captain Marvel inilah yang bakal menjadi penolong dan penentu kemenangan melawan si penjahat, Thanos. Ia digambarkan sebagai sosok yang memiliki banyak kelebihan dan kekuatan super dibanding avenger-avenger lainnya.

Itu yang terjadi pada film. Serupa tapi tak sama. Hal itu juga terjadi pada kondisi politik Indonesia hari ini. Pasca pelaksanaan pemilu serentak 2019, ‘perang’ politik tak kunjung berlalu. Masalah kecurangan, meninggalnya 554 petugas KPPS secara massal hingga tuduhan people power berbau makar ikut mewarnai perjalanan pemilu 2019.

Tokoh oposisi pendukung 02 mulai terjerat kasus hukum. Tuduhan people power berbau makar mengarah pada Eggi Sudjana, Kivlan Zen, dan Lieus Sungkharisma. Mereka diadukan dan diusut dengan pasal makar. Ulama pendukung 02 pun juga tersandung kasus hukum, Ustad Bachtiar Nasir. Beliau disangkakan dengan pasal pencucian uang. Tak lama setelah digelarnya Ijtima’ Ulama III, kasus lama beliau diungkap kembali. Belum kering kriminalisasi ulama dan rasa keadilan yang makin jauh dari harapan, jeratan hukum kepada oposisi terjadi lagi.

Seolah menyiratkan bahwa rezim ini ingin membungkam sesiapa yang kontra dengan mereka. Belum lama ini, dr. Ani Hasibuan juga ikut dilaporkan gegara kekritisan beliau menuntut dilakukannya pemeriksaan mendalam terkait kematian ratusan petugas KPPS. Sikap anti kritik ini terlihat mirip dengan tokoh jahat dalam film Endgame, Thanos. Ia menyapu bersih setengah populasi dunia. Segala cara dilakukannya untuk mengalahkan para Avengers. Segala cara dilakukan rezim untuk membungkam suara kritis rakyat. Terbaru, dibentuknya Tim Hukum Nasional oleh Wiranto.

Pembungkaman dengan cara-cara yang terkesan represif membuat rakyat makin ragu dengan kredibilitas penegak hukum. Dari situlah muncul wacana people power untuk menuntut keadilan. Perjuangan pendukung militan 02 melawan kecurangan dengan menuntut kejujuran dan keadilan dari pemerintah mirip dengan perjuangan para avengers melawan angkara murka si Thanos.

Akankah The Avengers dengan bantuan Captain Marvel mampu mengalahkan Thanos sang penjagal? Akankah People Power mampu membantu para penuntut keadilan agar kecurangan dan misteri kematian KPPS dapat diungkap?

Jika dalam film Endgame Captain Marvel mampu membawa era baru untuk para Avengers, bagaimana dengan pemilu 2019? Era baru atau era lama? Dengan melihat perjalanan selama rezim berkuasa, tak banyak kebaikan yang mereka berikan untuk negeri ini. Yang ada, negeri ini makin ter’jual’ di bawah rezim Jokowi. Memang sudah saatnya era baru memimpin. Era itu bernama peradaban Islam. Endgame untuk kapitalisme, Homecoming untuk Khilafah.[Mo/vp]

Posting Komentar