Gambar: Ilustrasi
Oleh: Aisyah Qusnul Khotimah 
(Founder Ideo Media, aktivis mahasiswi Jember)

Mediaoposisi.com-“Ing Ngarso Sung Tuladha, Ing Madya Mangun Karso, Tut Wuri Handayani”, slogan Ki Hajar Dewantara yang sudah tak asing di telinga masyarakat Indonesia. Besar jasa Ki Hajar Dewantara sebagai pejuang, pelopor pendidikan Indonesia, dan pendiri Taman Siswa. Hari kelahirannya diperingati sebagai Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas), hari yang selalu diperingati oleh masyarakat Indonesia.

Hardiknas selalu diperingati dari tahun ke tahun namun selalu tanpa evaluasi dan perhatian mendalam untuk menghadapi problem pendidikan di negeri ini. Generasi yang dihasilkan dari sistem pendidikan Indonesia dari tahun ke tahun belum membuahkan hasil yang signifikan hingga mampu merubah keadaan. Justru, semakin menunjukkan kebobrokan dan menghasilkan generasi yang jauh dari harapan. Begitu pun yang terjadi di dalam pendidikan tinggi. Pendidikan tinggi yang harusnya mencetak ahli dan memfasilitasi sistem pendidikan yang mumpuni, justru hari ini menyuguhkan berbagai peristiwa yang mengiris hati.

Beberapa mahasiswa Universitas Jember melakukan aksi pada tanggal 2 Mei 2019 untuk mengkritik dan mendesak struktur kampus supaya menindaklanjuti kasus pelecehan seksual yang dilakukan salah satu dosen kepada mahasiswi di Fakultas Ilmu Budaya (detik.com). Kasus semacam ini tak hanya di terjadi di Jember, dekan fakultas Ilmu Budaya UNDIP pun sedang menindaklanjuti kasus pelecehan seksual setelah ramai testimoni salah seorang alumni FIB UNDIP yang mengisi form #NamaBaikKampus dan mengungkap kasus pelecehan seksual (tirto.id). Kasus semacam ini, tak jarang, terjadi di dalam lingkungan pendidikan tinggi. Agni (bukan nama sebenarnya), mahasiswi Fisipol UGM juga sempat ramai diperbincangkan akibat kasus pelecehan seksual saat KKN (detik.com).

Kampus sebagai gudang pemikiran dan pencetak pemimpin ternyata justru menjadi tempat tindakan asusila bahkan dilakukan oleh dosen atau tenaga pengajarnya sendiri. Lebih mirisnya lagi, para korban dan pelaku merupakan seorang muslim. Silih bergantinya rezim pun tak membuahkan perubahan menuju kebaikan justru semakin hari, kondisi generasi semakin kelam. Bagaimana bisa mencetak generasi yang unggul pewaris peradaban mulia, jika pendidikan sekuler (pemisahan antara agama dengan kehidupan) yang dijadikan asas sistem pendidikan kita?

Sistem sekuler yang diterapkan di dunia pendidikan membuat mahasiswa disibukkan dengan mengejar materi semata tanpa pembekalan agama yang cukup. Iklim kampus menuntut mahasiswa untuk menjadi budak dunia, orientasinya hanyalah mengejar eksistensi, materi, jabatan, dan sangat minim pemahaman Islam. Hal ini diperparah dengan perkembangan teknologi yang memudahkan akses hedonisme dan kemaksiatan di tengah kesibukan duniawi mereka sehingga melahirkan generasi yang hedonis. Parahnya, berpotensi terjadi tindak asusila karena tayangan maupun informasi yang mereka konsumsi. Kalau begini, mustahil terwujud generasi mulia dalam cengkeraman sistem sekuler yang diterapkan di negeri ini.

Ada beberapa faktor yang menyebabkan kasus pelecehan seksual di dunia pendidikan tak kunjung usai. Pertama, minimnya pemahaman Islam pada diri generasi muslim sehingga mereka melakukan aktivitas tanpa standar Islam termasuk melakukan upaya preventif dari segi individu hingga berujung pada kasus pelecehan seksual. Faktor kedua, sikap permisif masyarakat terhadap pelanggaran syariat Islam. Masyarakat seringkali memaklumi perilaku pacaran, video porno, game berbau seks, ataupun interaksi tidak sehat yang lain.

Masyarakat yang seharusnya mampu mengontrol dan mengingatkan justru bersikap permisif bahkan apatis. Faktor ketiga yang merupakan faktor terbesar adalah peran negara. Negara sebagai penerap aturan sekaligus penegak hukum bersikap kurang tegas dalam melakukan upaya preventif maupun kuratif dalam menangani masalah pelecehan seksual, pornografi, dan menciptakan iklim negara yang sesuai dengan apa yang Pencipta atur dan Rasulullah contohkan.

Islam sebagai agama dan ideologi yang sempurna mampu menjawab segala permasalahan termasuk pada kasus maraknya pelecehan seksual di dunia pendidikan. Sistem pendidikan Islam mewajibkan generasi khususnya peserta didik untuk tidak sekedar menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi semata namun juga memiliki pemahaman Islam sejak pendidikan dasar, bahkan keluarga. Para generasi muslim akan selalu dibimbing pemikirannya untuk menjadikan Islam sebagai qaidah fikriyah (kaidah berpikir) dan juga qiyadah fikriyah (kepemimpinan berpikir) dalam segala hal. Proses pembinaan yang berkesinambungan pada sistem Islam akan mampu menghasilkan peserta didik yang berkepribadian Islam.

Kurikulum pendidikan dasar sampai pendidikan tinggi pun disusun berdasarkan aqidah Islam. Secara otomatis, pola pikir dan pola sikap anak didik akan berdasarkan Islam dan diniatkan sebagai bentuk ibadah kepada Allah. Halal dan haram menjadi pedoman dalam perbuatan dan tameng diri dari berbagai pengaruh buruk yang tak pernah berhenti menerpa generasi muslim.

Hari Pendidikan Nasional tahun ini, sudah selayaknya kita jadikan sebagai bahan renungan dan evaluasi atas kesalahan mendasar yang terus terjadi di negeri ini akibat penerapan sistem kapitalisme. Sebagai seorang muslim, tak ada pilihan lain kecuali dengan kembali kepada syariat Islam yang diterapkan mulai dari individu, masyarakat, hingga negara. [MO/ms]

Posting Komentar