Oleh : Merli Ummu Khila  

Mediaoposisi.com-  Kini para kaum kapital  mengumbar  janji pada para negara miskin dengan hutang yang amat besar yang tidak mungkin bisa dibayar. Inilah strategi China untuk menguasai negeri miskin sehingga semakin ketergantungan dengan hutang. Hal ini dimanfaatkan China untuk  memaksakan kebijakan ekonomi pada pengutang. Salah satu strateginya yaitu mega proyek One Belt One Road(OBOR) atau  Sabuk Ekonomi Jalur Sutra dan Jalur Sutra Maritim Abad ke-21,

Membangun negeri dengan hutang hanyalah jalan menuju kehancuran. Apalagi jika berhutang untuk membangun infrastruktur. Bisa dilihat faktanya saat ini, pemerintah sibuk membangun infrastruktur namun pengelolaannya diberikan pada swasta. Sulit mengakui bahwa infrastruktur dibangun untuk kesejahteraan rakyat. Belum terlihat faktanya pertumbuhan ekonomi rakyat meningkat. 

Apalagi jika menilik tujuan dari China untuk membangun megainfrastruktur yaitu untuk menghubungkan jalur perdagangan dari China ke seluruh dunia dari jalur daratan dan lintas samudera. Dengan membangun infrastruktur, kereta api, jalan raya, material konstruksi,  jaringan listrik, dan lainnya. 

Lalu apa keuntungannya bagi rakyat ? Tidak ada. Keuntungan hanya akan dinikmati segelintir orang. Dengan terhubungnya China dengan seluruh negara yang bekerja kerjasama dalam mega proyek ini, maka China akan menguasai perekonomian dunia. Produk mereka akan membanjiri negeri ini yang akan mematikan produk lokal. 

Tidak akan ada kesejahteraan untuk rakyat dalam sistem kapitalis. Hanya memperkaya para pemilik modal dan segelintir pejabat yang mereka peralat untuk membuat kebijakan yang memuluskan tujuan mereka. 

Menolak proyek OBOR adalah salah satu jalan untuk Indonesia agar tidak terjebak pada hutang yang semakin menumpuk yang hampir mustahil dilunasi. Sudah seharusnya rezim berkaca pada negara yang sudah terlihat kehancurannya karena jerat hutang China seperti Sri Lanka, Myanmar dan Pakistan. 
Jika dilanjutkan, bukan mustahil kekayaan negeri ini serta aset negara akan di keruk untuk melunasi hutang. 

Kekacauan pengelolaan perekonomian negara ini akar permasalahannya adalah sistem. Sistem kapitalisme yang diadopsi memungkinkan pemangku  kebijakan  hanya mementingkan kelompok dan pribadi mereka tanpa peduli kesejahteraan rakyat. 

Dalam Islam, perekonomian diatur semata-mata untuk kesejahteraan rakyat karena mereka yang dipilih umat sebagai pelayan rakyat, menjalankan roda perekonomian sesuai dengan aturan Sang Maha Pengatur yaitu Allah SWT. Perekonomian dibangun dengan mengelola kekayaan alam. Bukan diberikan pada asing. Dan hasilnya dipergunakan sebaik-baiknya untuk kepentingan rakyat. Dengan mengelola semua kekayaan alamnya sendiri, negara tidak akan menjadi negara pengutang. [MO/ra]

Posting Komentar