Oleh : Aishaa Rahma

Mediaoposisi.com-Pilu Gaza tak berkesudahan, lontaran rudal bak kembang api penyambut datangnya Ramadhan 1440 H.  Diberitakan melalui kantor media Palestina, sejumlah warga di Jalur Gaza memulai Ramadan mereka pada Senin (6/5) dalam situasi keamanan mencekam disertai prekonomian terburuk yang pernah dialami.  Serangan udara Israel yang menghantam Jalur Gaza selama akhir pekan lalu, meninggalkan tragedi menyayat jiwa bagi warga sipil yang khidmat melaksanakan shoum.

Gencatan senjata sementara dilaporkan telah disepakati pada Senin 6 Mei 2019, tetapi ancaman saling serang lebih lanjut dari kedua belah pihak, telah menimbulkan kekhawatiran perang baru selama bulan suci, demikian seperti dikutip dari Asia Times, Selasa (7/5). 

Dilansir dari liputan6.com, Perdana Menteri Benjamin Netanyahu mengatakan bahwa Israeli Defence Forces (IDF) bergerak maju ke perbatasan kedua wilayah demi mengantisipasi serangan   lanjutan.  Di sisi lain, kelompok gerilyawan di Gaza menyatakan siap melakukan aksi balasan jika tentara Israel membuka serangan lebih dulu.

Eskalasi kekerasan akhir pekan lalu bermula akibat bentrokan di perbatasan Gaza - Israel, dalam sebuah demonstrasi rutin setiap hari Jumat, yang kala itu jatuh pada tanggal 3 Mei 2019.  Militer Israel menuduh bahwa penembak jitu Palestina telah melukai dua anggota IDF dalam demonstrasi rutin.  Merespon itu, mereka menembak dan membunuh dua orang Palestina dalam kerumunan demonstran.  

Membalas langkah Israel, Gaza menembakkan sekitar 600 roket ke Israel pada Sabtu 4 Mei malam -hingga setidaknya Minggu 5 Mei-, menurut pernyataan militer Israel (IDF). Namun, sebagian besar roket dicegat dengan sistem pertahanan udara Iron Dome.  Akibatnya, lebih dari empat orang Israel tewas akibat serangan itu. Sebagai balasan, Israel melancarkan serangan udara terhadap setidaknya 300 target di Gaza hingga Senin 6 Mei pagi, dan menyebut sasaran itu sebagai kantung gerilyawan atau intelijen Hamas serta para pendukungnya.

Akan tetapi, otoritas di Gaza dan lembaga hak asasi menyebut bahwa sebagian besar bangunan yang rusak adalah rumah warga.  Akibatnya, hampir 30 orang Palestina -termasuk tiga perempuan, dua di antaranya hamil, dua bayi dan seorang anak-- terbunuh oleh serangan Israel ke Jalur Gaza (Jumat hingga Senin pagi), kata juru bicara Kementerian Kesehatan Palestina Ashraf al-Qudra kepada Asia Times. 

Dia menambahkan bahwa lebih dari 300 lainnya terluka, beberapa di antaranya kritis.  Direktur Kementerian Tenaga Kerja di Gaza, Naji Sarhan, mengatakan pada Senin pagi bahwa 130 rumah hancur total di Gaza dan 700 lainnya rusak sebagian.  Kondisi semakin diperparah dengan blokade Israel terhadap Gaza yang masih berlangsung.

Sejak awal bentrokan antara Gaza - Israel, pihak berwenang Tel Aviv memblokade akses jalan dan laut ke wilayah enklave Palestina yang menyebabkan komoditas terhambat masuk dan berakibat sejumlah warga yang bermata pencaharian utama sebagai nelayan kehilangan pekerjaan.  Meskipun akhirnya Larangan bagi nelayan Gaza, Palestina, untuk melaut telah dihapus oleh Zionis-‘Israel’. 

Rezim penjajah ini membuka kembali zona penangkapan ikan Gaza pada hari Jumat.  Hal itu dilakukan usai empat hari tenang sejak meningkatnya kekerasan baru-baru ini antara kelompok-kelompok pejuang Palestina di Gaza dan ‘Israel’.  Kepada Anadolu Agency, Ketua Serikat Nelayan Gaza Nizar Ayyash mengatakan, pemerintah ‘Israel’ telah menghapuskan larangan mencari ikan untuk nelayan di Jalur Gaza. (Hidayatullah.com- 11/5/2019)

Gaza yang kini cuma selebar 6 kilometer di titik tersempit dan 11 km di titik terluas. Di sebelah barat Laut Mediterania, di sebelah timur adalah perbatasan 50 km dengan Israel. Tetangga satu-satunya, Mesir, memiliki perjanjian damai dengan Israel yang berdampak  membatasi pergerakan orang dan barang melalui penyeberangan Rafah selatan.

Blokade hampir total menghambat bahkan perbaikan infrastruktur paling dasar, yang berarti sistem pembuangan limbah, air dan listrik berkisar dari tak layak hingga tidak berfungsi. Sehingga, 1,8 juta penduduk Gaza telah tinggal di penjara terbuka sejak Hamas mengambil alih jalur itu dari Palestinian Authority (PA) yang dipimpin Fatah pada 2007 setelah memenangkan pemilihan legislatif setahun sebelumnya.

Kabar terbaru, seorang warga Palestina dilaporkan tewas dalam unjuk rasa yang terjadi di perbatasan Gaza pada Jumat 10 Mei 2019.  Dikutip dari laman Aljazeera, Sabtu (11/5/2019) Abdullah Abd al-Aal (24) ditembak pada bagian perutnya oleh tentara Israel tepat di jalur Gaza selatan.  Sungguh secuil wilayah Palestina ini berada di ambang "bencana kemanusiaan" dengan satu juta warga Palestina terancam kelaparan, demikian peringatan PBB.  

Pejabat PBB mengungkapkan, anggaran Badan Pengungsi Palestina (UNRWA) bakal habis "dalam waktu sebulan" dan berada dalam situasi darurat untuk mendapat dana tambahan.  The Independent Kamis (9/5) melaporkan sekitar 2.000 orang di Gaza yang ditembak oleh pasukan Israel, juga terancam kehilangan anggota badannya akibat krisis dana di UNRWA. (Bangkapos.com).

#Save Palestina
Konflik Palestina dan Israel sudah berlangsung lama dan tak kunjung selesai hingga kini. Berbagai solusi ditawarkan oleh lembaga perdamaian sekelas PBB, namun tak perlu berbuih narasi untuk mencitrakan kondisi negri dan umat di sana . Mulai dari pembagian dua negara  ( two nation state), hingga perjanjian damai kerap kali dilakukan namun hasilnya tetap nihil.

Jelas saja zonk dan nihil, jika pembagian dua negara antara Israel dan Palestina sama dengan mengakui keberadaan negara penjajah zionis,  Israel laktanatullah. Yang artinya, pengakuan dunia terhadap mereka yang digencarkan sejak 1948 akan membuat semakin arogan dan sepenuhnya menguasai tanah Palestina. Mata kita belum buta menyaksikan kekejian zionis pada warga Palestina hingga detik ini.

Israel memiliki rencana untuk melakukan yahudisasi kota Al Quds yang tertuang dalam proyek besar bernama "Jerusalem Raya". Proyek yang berslogan "sebanyak mungkin orang Yahudi dan sedikit mungkin orang Palestina" di Al Quds. Rencana ini sempurna dilakukan pada tahun 2020 nanti. (Info Palestina, 3/5/2005)

Sementara perjanjian damai yang berulang kali dilakukan atas prakarsa PBB, hasilnya setali tiga uang. Tak mampu menghentikan arogansi Zionis-Israel. Kesepakatan damai hanya angin lalu, sebab karakter bangsa Yahudi dari dulu memang doyan melanggar perjanjian. Seperti yang dilakukan oleh Bani Qainuqa', Bani Nadhir, dan Bani Quraizhah pada masa Rasulullah. Allah swt mengingatkan, " patutkah (mereka ingkar kepada ayat ayat Allah), dan setiap kali mereka mengikat janji, segolongan mereka melemparkannya? Bahkan sebagian besar dari mereka tidak beriman." (TQS. Al- Baqarah: 100)

Apalagi, kini Israel didukung penuh oleh negara Paman Sam yang memiliki hak veto di dewan keamanan PBB. Tentu saja AS dengan mudah menolak semua rancangan resolusi yang diajukan negara lain kepada PBB untuk menyelesaikan masalah Palestina.

Jadi, untuk mengikis dan mengenyahkan  zionis tidak pernah cukup dengan duduk di meja perundingan, karena bahasa yang dipahami oleh zionis hanya satu "PERANG". Bukan dengan perjanjian gencatan senjata. Untuk memerangi zionis juga tak cukup mengandalkan Hamas, Hizbullah, atau pejuang Palestina. Lantaran sang adidaya Amerika menjadi bekingnya tak mungkin tinggal diam.

Sungguh diperlukan kekuatan seimbang. Energi yang menyatukan seluruh negeri negeri Islam di dunia.  Namun  sayangnya,  kini kaum muslimin  terpecah belah dengan nation state-nya masing-masing.  Mampukah kita #SavePalestina dengan sekedar berharap damai atau bantuan saudaranya di luar Palestina?

Jihad dan Khilafah solusi Jitu.
Aksi pembantaian (genocide) yang dilakukan militer Israel terhadap warga Palestina tak terhitung sejak mereka menduduki wilayah Palestina. Selama tanpa perlawanan fisik yang seimbang dari negara- negara di Timur Tengah dsb, Palestina akan selalu menjadi target sasaran tembak dan penyerangan brutal.

Talmud -sebagai kitab suci kaum Yahudi zionis- memang mendoktrin tentara militer Israel untuk memerangi kaum non Yahudi. Jadi, akar masalah krisis Palestina ini sejatinya adalah keberadaan Israel yang tengah merampok, menduduki tanah Palestina dengan mengusir penduduk aslinya, yakni Umat Islam.

Untuk itu, solusi jitu mengatasi masalah Palestina adalah mengikuti apa yang Allah swt perintahkan, berjihad mengusir bangsa Yahudi, dalam firman-nya "perangilah mereka, niscaya Allah akan menghancurkan mereka dengan (perantaraan) tangan - tangan kalian, menghinakan mereka serta akan menolong kalian atas mereka sekaligus melegakan hati kaum Mukmin. (TQS at-taubah : 14).  Allah juga berfirman: "usirlah mereka dari tempat mereka mengusir kalian" ( TQS Al-Baqarah : 191).

Sayangnya sekat nasionalisme telah berhasil mengoyak ukhuwah Islamiyah. Penguasa muslim hanya mampu mengutuk dan mengecam. Padahal bila di dadanya tersisa iman seorang muslim, tentu para penguasa timur tengah (yang berbatasan dengan Gaza) mampu mengirim tentara.  Juga membuka gerbang perbatasan untuk menolong umat dan pejuang Palestina. Bukan bersikap pengecut malah berkedok anjuran untuk gencatan senjata atau gagasan perjanjian damai.

Tak ada yang bisa diharapkan dari penguasa muslim kini. Banyak di antara liga bangsa yang tunduk pada arogansi Amerika, dibanding taat pada Allah swt. Akibatnya musuh-musuh Islam melenggang bebas mendzolimi kaum muslimin di berbagai belahan dunia.  Sungguh sangat butuh negara yang mampu independen “berdiri” melindungi umat. 

Negara yang sanggup menggabungkan kekuatan seluruh negeri-negeri muslim, mampu menghapus sekat nasionalisme. Negara yang menerapkan aturan Islam kaffah untuk kebaikan umat manusia. Negara yang akan menendang Israel, hengkang dari Palestina. Negara yang kuasa menonjok arogansi Amerika. Hanya satu negara Khilafah Islamiyah. Insha Allah[Mo/vp]

Posting Komentar