Oleh: Mujahid Wahyu
(Analis Ar roya Center)

Mediaoposisi.com-  Proyek Infrastruktur Indonesia di bawah kendali Jokowi semakin menggila. Hal tersebut dapat terkonfirmasi dari hasil pertemuan Belt and Road Initiative Forum  di Beijing, akhir April silam. Pada pertemuan tersebut, tidak kurang dari 28 proyek infrastruktur di Indonesia ditawarkan ke China. Nilainya pun sangat fantastis, mencapai Rp 1.296 Trilyun.
Berdasarkan informasi yang dihimpun dari berbagai sumber, akhirnya hanya 23 proyek infrastruktur yang akan diambil oleh China. Nilainya mencapai Rp 908 Trilyun Rupiah saja. Namun, nilai tersebut adalah dua kali lipat dari anggaran infrastruktur yang dianggarkan dalam APBN 2019 yang hanya mencapai Rp 415,0 Trilyun dan hampir separo dari pos anggaran penerimaan APBN 2019 yang mencapai Rp 2.165,1 Trilyun.
Pembiayaan infrastruktur dengan skema apapun tetapi dengan melibatkan asing khususnya dalam hal pembiayaan adalah sebuah pertaruhan yang cukup membahayakan bagi kedaulatan sebuah negara. Kita bisa belajar dari John Parkins  dalam bukunya yang berjudul “confessions of economic hitman”.
Tertulis bahwa tugas Perkins adalah meyakinkan pemimpin politik dan finansial negara berkembang untuk berutang besar dengan institusi seperti World Bank dan USAID. Setelah tidak bisa membayar, negara tersebut dipaksa tunduk terhadap tekanan politik dari Amerika Serikat mengenai berbagai masalah. Inilah yang dimaksud dengan tergadainya kedaulatan negara.
Hal tersebut persis seperti yang dituliskan dalam sebuah artikel yang dimuat dalam laman pinter.politik.com (16/05). Dalam artikel yang berjudul “Jokowi Menang Tiongkok Meraja?” tersebut, penulis menyatakan bahwa meskipun investasi tiongkok nantinya akan membantu percepatan pembangunan, kontroversi dibaliknya bukan berarti tidak eksis. Pinjaman-pinjaman yang diberikan Tiongkok bagi proyek-proyek infrastruktur yang sejalan dengan OBOR disebut memiliki dampak merugikan yang tersembunyi.
Penulis memberikan contoh seperti peristiwa perangkap uang Tiongkok (Chinese Money Trap) yang memakan korban Sri Langka  akibat gagal melunasi pinjaman hutang Tiongkok, sehingga berakibat diberikannya proyek infrastruktur yang telah dibangun.
Apa yang disampaikan dalam artikel tersebut sama seperti peringatan yang telah disampaikan oleh William Russhel Easterly (Profesor New York University) yang menyatakan bahwa modal asing seperti pada proyek BRI ini hanya akan menjadi trap (jebakan) untuk semakin memperparah tata kelola ekonomi sebuah negara.
Pada akhirnya, dampak jebakan tidak hanya sekedar perpindahnya kepemilikan tetapi bisa berefek domino pada kedaulatan sebuah negara. Hal tersebut sangat logis. Alasannya sederhana. Sangat sulit bagi sebuah negara untuk ikut campur bahkan mengawasi agenda-agenda asing yang tersembunyi yang dilakukan di tempat-tempat infrastruktur yang sudah menjadi kepemilikian mereka.
Agendanya pun tidak semata bersifat ekonomis, bisa berupa agenda politis rahasia. Nguyen Thi Thuy Hang dalam artikel yang berjudul “The Rise of China” menyatakan bahwa meningkatnya pengaruh ekonomi Tiongkok dapat memperbesar pengaruh negara tersebut terhadap kebijakan-kebijakan negara lain. Tiongkok dapat menjadi penantang hegemoni geopolitik global Amerika Seikat (AS). Maka benefit bagi China tidak hanya sekedar ekonomi tetapi juga politik.
Dengan demikian kemerdekaan yang berdaulat bagi Indonesia adalah sebuah kenyataan yang semu, karena hakikatnya kedaulatan ekonomi bahkan kedaulatan politik masih akan berada dikendali asing termasuk Tiongkok dengan proyek obornya.
Maka negeri muslim terbesar di dunia ini harus membaca dan menghayati lagi secara mendalam kalam illahi yang mengingatkan bahwa “ dan sekali-kali  Alloh tidak akan pernah memberi jalan kepada orang-orang kafir menguasai orang-orang mukmin”. (TQS An Nisa’:41).
Maknanya, haram bagi mukmin memberikan jalan atau kesempatan apapun kepada orang kafir untuk menguasainya. Maka OBOR ini tepat untuk ditolak karena bisa menjadi jalan atau kesemapatn bagi musuh-musuh Alloh dan RosulNya menguasai orang-orang mukmin. Jika masih tidak dihiraukan, maka Indonesia hanyalah macan ompong yang tak bertaring dan jauh dari ridho illahi. [MO/ra]

Posting Komentar